“Australia Panik dan Paranoid”

Prof. Dr. Arief Budiman, pakar sosiologi politik dari Melbourne University menilai cara-cara yang dilakukan intel ASIO untuk menggeledah WNI Islam di Australia adalah sesuatu yang kasar. "Australia itu sedang panik:, katanya.

Terkait

Setelah menggerebek rumah Jaya Fadhli Basri, Kamis, (31/10/02) kemarin, agen ASIO kembali menggeledah beberapa rumah WNI di Australia yang dicurigai punya hubungan dengan Jamaah Islamiyah (JI), organisasi yang sampai hari ini belum jelas bentuknya. Sasaran penggeledahan kali ini, ditujukan kepada warga muslim di Melbourne dan sekitarnya. Juru bicara Jaksa Agung Daryl William mengatakan, operasi terhadap WNI yang dianggap simpatisan JI akan terus dilakukan. Setidaknya, pernyataan pejabat resmi Australia ini menjadi bukti akan semakin banyak warga Islam Indonesia yang menjadi korban intelijen ASIO. Aksi ASIO ini, tak urung telah membuat beberapa masyarakat Australia menjadi marah. Bagi sebagai orang Australia, selain cara-cara Polisi Federal dan ASIO itu sngat berlebihan, keberadaan warga muslim Indonesia di negeri Kangguru itu bukanlah ancaman. Pengamat sosiologi dan politik Universitas Melbourne Prof. Dr. Arief Budiman menilai, cara-cara penangkapan agen intel ASIO terhadap warga Islam asal Indonesia itu sangat kasar. Ini sebagai akibat kepanikan kasus bom Bali. Arief merasakan, kekasaran tindakan pemerintah Australia itu bahkan lebih kejam dari cara-cara rezim Soeharto saat berkuasa. Inilah sebagaian wawancara lengkap Dr. Arief Budiman dengan Abdul Rasyid dari MetroTV yang tulis ulang oleh Hidayatullah.com. Selamat pagi pak Selamat pagi Pemerintah Indonesia sudah menghimbau pada pemerintah Australia untuk melapor terlebih dahulu jika Polisi Federal akan menggeledah rumah-rumah WNI di Australia. Apakah anda melihat sampai hari ini masih ada penggeledahan di sana? Saya belum mendengar lagi. Tetapi memang masalahnya sebenarnya apa yang diminta oleh pemerintah Indonesia itu sukar. Karena, kadang-kadang yang digerebek itu adalah WNI yang sudah menjadi warga Australia. Jadi tidak ada jurisdiksinya. Tapi memang Indonesia harusnya meminta hukum Australia harus ditegakkan. Karena masalahnya adalah.., itu kan penangkapan dalam hukum Australia. Saya kira orang tidak bisa ditangkap tanpa ada bukti-bukti yang jelas. Ini kan sekarang ini, kayak undang-undang anti teroris. Jadi orang bisa ditangkap hanya karena informasi yang sangat sedikit. Misalnya, satu orang Indonesia ditangkap hanya karena pernah hadir dalam cermah Abu Bakar Baasyir. Itu kan tidak cukup menangkap orang hanya karena itu. Dan carannya sangat kasar ya. Pakai senapan mesin, dan orangnya ditodong, kepalanya pakai pistol, suruh tengkurap di sana. Caranya sangat brutal. Orang Australia saja kaget melihat saranya intelijen Australia, ASIO, melakukan hal seperti itu. Jadi, bagi saya… kelihatannya seperti jaman Soeharto. Bahkan lebih kasar. Kalau menurut anda memang tidak wajar seharusnya, reaksi warga local sendiri bagaimana? Kalau saya kan di lingkungan akademis. Temen-temen saya, mahasiwa, sebagai mereka marah sekali melihat itu. Dan dari TV Australia juga disiarkan banyak juga yang protes dengan cara-cara seperti itu. Terutama dari organisasi-organisasi human right. Tapi saya tanya dengan mahasiswa Australia, gimana pada umumnya pendapat-pendapat orang Australia. Barangkali yang di desa-desa itu seneng. Ini kan Australia sesudah peristiwa Bali itu kan jadi panik dan ketakutan jadi paranoid. Karena mereka punya teori, sesudah di Bali, terorisme akan muncul di Australia. Lalu Direktur ASIO sendiri, intelijennya mengatakan, ini memang melanggar hukum, tapi inilah yang harus dilakukan. Ucapan ini kan persis seperti ketika Indonesia jaman Kopkamtib. Tapi menurut dari pihak Australia sendiri, tidak semua warga muslim Australia, tidak semua mengikuti ceramah Baasyir yang digeledah. Tetapi mereka mempunyai data-data detail tentang orang-orang yang dituduhkan sebagai salah satu anggota teroris dan JI? Tapi caranya kan nggak sekasar itu. Sampai kacanya dipecah segala. Padahal orangnya kan biasa-biasa saja. Tapi kita lihat saja, apakah di pengadilan ada bukti. Kalau seandainya buktinya cukup keras, tentunya nantinya akan ada beberapa orang yang diproses. Sampai sekarang tidak ada yang diproses. Yang diproses cuman ketahuan kalau visanya. Tapi nggak ada yang ternyata dia adalah anggota JI. Jadi ini harus dibuktikan dulu. Apakah informasi yang mereka miliki itu benar-benar sudah cukup untuk menangkap orang itu. Kalau akhirnya yang digerebek itu tidak ditangkap, artinya bukti-buktinya terlalu lemah. Kedua, cara operasinya seharusnya tidah harus sekasar itu. Tadi anda mengatakan caranya tidak wajar. Apakah selama ini cara penggeledahan Polisi Federal Australia tidak seperti itu atau anda melihat ada sikap diskriminatif terhadap warga negara Indonesia?Saya kira masalahnnya… saya tanya pada orang-orang Australia, hal seperti ini belum pernah terjadi katanya, sepanjang yang mereka tahu. Jadi penangkapan secara kasar seperti itu. Penangkapan secara kasar ini memang bukan ditujukan kepada eh secara diskriminatif pada orang Indonesia. Tapi memang penangkapan kasar ini karena mereka saya kira shock ya. Shock dengan peristiwa Bali. Ingat, Australia itu kan negara yang damai, nggak pernah perang di negerinya, pembunuhan jarang terjadi. Sehingga ketika melihat warganya mati begitu banyak dalam satu peristiwa, mereka shock bener, dan sangat insecure dan jadi sangat paranoid. Tentu, degaan pertama adalah orang Islam Indonesia yang dikejar. Sebenarnya itu berdasarkan hipotesa itu, bahwa orang Indonesia itu teroris. Tapi bukan hanya orang Indonesia saja, orang Islam pada dasarnya. Jadi seakan-akan memang yang ditangkap kebanyak adalah orang Indonesia tambah beberapa orang Islam dari Timur Tengah. Itu yang terjadi. Tapi caranya lebih menunjukkan irrasionalitas orang Asutralia. Bukan orang Australia, maksudnya aparat intelijen Australia yang melakukan penangkapan itu. Jadi panik kayaknya. Dan itu bagi orang Australia mentertawakan dan menjengkelkan. Kita melihat Australia itu sangat concern pada human right dan ham. Ironisnya, itu terjadi di kampung halamannya sendiri menggerebek WNI. Langkah-langkah yang bisa diambil dari WNI sendiri bagaimana? Apa mereka bisa mengambil langkah-langkah hukum, misalnya ada gugatan hukum ke Federal Government mungkin? Kalau saya kena musibah seperti itu, kalau saya ditangkap, saya akan mengadukan ke hukum. Saya kira banyak teman-teman Australia yang akan membela dan akan mengajukan pada HAM itu yang bisa diambil oleh orang-orang WNI yang terkena perlakuan tidak wajar itu. Saya kira, bagaimanapun juga, lepas dari aparat intelijen yang over acting, saya kira orang Australia masih sangat rasional dan lembaga-lembaganya masih jalan. Lembaga pengadilan sampai sekarang tidak terpengaruh. Buktinya sesudah adanya penggerebekan itu, pemerintah juga tidak menangkap langsung orang-orang yang tidak ada buktinya. Jadi, hukum masih jalan lah. Cuma ada kepanikan di lembaga yang namanya, ASIO itu. Tapi dengan adanya kejadian ini tidak membikin warga Indonesia atau warga muslim lain menjadi ketakutan? Agak takut juga. Karena mereka tidak tahu. Apalagi kemarin Direktur ASIO sudah mengancam, “akan lebih banyak lagi penangkapan, jadi sekarang Australia silahkan menjadi biasa dengan itu”. Itu saya kira sangat mengerikan statemen seperti itu. Dan memang bener. Orang-orang Indonesia agak tidak punya pegangan. Besuk mereka bisa kena, terutama orang-orang Indonesia yang Islam, yang sering ngumpul dalam pengajian-pengajian. Menurut anda, selama anda di sana, apa aktivitas komunitas muslim Indonesia di sana, di Australia? Apakah ada kelompok Islam radikal yang akan menjadi ancaman? Kalau yang saya ketahui, tentu pengetahuan saya terbatas dengan kelompok-kelompok Islam sini. Mereka banyak yang conservative ya dalam pandangan keagamaanya. Tapi bukan teroris. Bukan kelas teroris lah. Artinya, itu ada perbedaan kan? Orang itu bisa sangat itu bisa sangat conservative dalam pandangan Islam nya, anti Kristen, anti Barat, segalanya. Tapi tidak pernah terlibat dalam kegiatan-kegiatan taktis untuk melakukan terror. Saya kira yang conservative cukup banyak lah. Tapi kebanyak ya moderat Islam di sini. Cukup banyak dalam arti kata orangnya bukan satu dua, gitu. Apakah dapat diketahui, tindakan-tindakan yang diambil oleh konsulat, mungkin? Saya denger, mereke di TV protes. Tapi protesnya kayak apa. Saya kira protesnya harus lebih keras. Dan supaya disiarkan juga di media massa. Saya kira udah bagus kalau mereka protes. Tapi yang jadi masalah juga yang terjadi di Kedutaan di sini eh koordinasinya nampaknya agak sukar karena belum ditunjuk, kosong udah lama sekali. Ini yang membuat, saya kira pemerintah Megawati supaya cepat menunjuk seorang Duta Besar supaya di bawa kordinasinya, komandonya bisa efektif. Jadi itu yang seharusnya yang harus diambil pemerintah Indonesia saat ini? Saya kira itu. Harus protes keras, dan protes itu hendaknya harus disiarkan kepada media. Sebab sata kira saya tau sendiri banyak orang-orang Australia yang tidak setuku terhadap tindakan seperti itu.

Rep: Ahmad Sadzali

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !