Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Palestina Terkini

Karena Bela Kehormatan Sang Istri, Zionis Justru Minta Menahan Syeikh Shalah Dalam Waktu Lama

Sahabat Al-Aqsha
Syeikh Raid Salah di Kapal Mavi Marmara Mei 2010 beberapa hari sebelum diserang angkatan laut zionis.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pengadilan Negeri zionis – israel di Al-Quds dalam sidang hari Ahad (19/04/2015) memutuskan untuk mengeluarkan vonisnya kemudian dan akan dikirim melalui pos, setelah menyidangkan kasus bernama “Gerbang Karamah” atas Syeikh Raid Shalah.

Syeikh Raid Salah, Pemimpin Gerakan Islam di Palestina yang terjajah tahun 1948. Sidang dihadiri sejumlah petinggi dan kader Gerakan Islam di wilayah Palestina terjajah tahun 1948 dan delegasi dari Al-Quds.

Tim pembela yang diwakili oleh pengacara Avigdor Fidlman dan tim pengacara dri Pusat HAM Mizan yang diwakili Mustaga Suhail dan Umar Khumaisi, menegaskan bahwasanya tidak seharusnya Syeikh  Shalah dituntut dalam kasus ini.

Hakim pengadilan dikutip PIC mengusulkan kepada kedua belah pihak untuk menyepakati penarikan banding mereka, namun pihak tim pembela menolak dan hakim memutuskan untuk mengeluarkan keputusan kemudian.

“Tim pembela menjelaskan kepada Pengadilan Negeri bahwa kasus ini adalah bagian dari penuntutan politik atas Syeikh Raid Shalah. Karena tidak ada preseden hukum yang diadili seperti kasus ini atau tidak ada terdakwa, sebagaimana yang disidangkan atas Syeikh Raid Shalah,” ujar Mustafa Suhail, usai sidang di pengadilan.

Dia menambahkan, tuduhannya adalah dia menendang pintu ruang dengan kakinya, karena di dalamnya polisi zionis diyakini oleh Syeikh  Shalah melakukan pemeriksaan secara telanjang terhadap istrinya, di mana para penjaga keamanan mengizinkan orang laki-laki masuk ke dalam ruang tersebut.

Tuduhan atas Syeikh  Shalah adalah menghambat kerja polisi dengan menendang pintu. Yang seharusnya dilakukan Syeikh  Shalah adalah duduk dan menunggu, tidak boleh bergerak saat mendengar suara istrinya yang meminta tolong.

“Hal semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sekarang mereka meminta Syeikh  Shalah dipenjara untuk jangka waktu lama atas pelanggaran ini. Ini membuktikan kedangkalan jaksa yang mengajukan tuduhan ini dan bukti ini adalah penuntutan politis secara nyata. Tujuannya adalah memasukkan Syeikh  Shalah ke dalam penjara dengan alasan sangat minim serta menjauhkannya dari Al Quds dan masjid Al Aqsha,” ujarnya.

Kasus “Gerbang Karamah” terjadi pada 16 Februari 2012 lalu. Saat itu Syeikh  Shalah masuk melalui gerbang Karamah datang dari Yordania setelah menunaikan ibadah umrah bersama istrinya.

Setelah Syeikh  Shalah diperiksa barang-barangnya, giliran istrinya yang diperiksa.

Penjaga gerbang meminta istrinya diperiksa secara telanjang. Hal ini ditolak oleh istrinya dan dia berteriak. Saat itu Syeikh  Shalah menentang tindakan tersebut karena dianggap melecehkan kehormatan istrinya dan menyingkap auratnya. Syeikh lalu mencegah polisi penjaga gerbang melakukan pemeriksaan telanjang terhadap istrinya.

Atas penolakan Syeikh  Shalah dan istrinya diperiksa tersebut, Syeikh  Shalah ditangkap dengan tuduhan “menghalangi kerja polisi”.

Akhirnya ulama asal Palestina ini disidangkan dalam kasus ini atas klaim-klaim dari polisi penjaga gerbang tersebut.*

 

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Inilah Nama-nama Warga Palestina yang Dibunuh Israel Sejak Senin

Inilah Nama-nama Warga Palestina yang Dibunuh Israel Sejak Senin

Korban-korban Israel Mulai Berjatuhan, Penjajah sembunyikan Data

Korban-korban Israel Mulai Berjatuhan, Penjajah sembunyikan Data

Tentara Israel Masuki Gaza

Tentara Israel Masuki Gaza

Zionis Larang Orang Sakit lewati Perlintasan Bet Hanun Iraz

Zionis Larang Orang Sakit lewati Perlintasan Bet Hanun Iraz

Makin banyak Terowongan Bawah Tanah, Yahudi Pilih Kabur

Makin banyak Terowongan Bawah Tanah, Yahudi Pilih Kabur

Baca Juga

Berita Lainnya