Rabu, 26 Januari 2022 / 22 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

PWNU Jatim Mohon KH Miftachul Akhyar Tak Mundur dari MUI, Usulkan yang Lain Bersikap Serupa

pwnu jatim
Bagikan:

Hidayatullah.com — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memohon kepada KH Miftachul Akhyar agar tidak mundur dari posisinya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). KH Miftachul Akhyar sendiri terpilih sebagai Rais ‘Aam PBNU dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Kamis (23/12/2021).

“Kami memohon kepada Rais Aam PBNU untuk tidak mundur dari Ketua Umum MUI untuk kepentingan kemaslahatan yang lebih besar bagi agama, bangsa dan negara, serta mengusulkan kepada seluruh PWNU se-Indonesia agar bersikap serupa dengan PWNU Jatim,” tutur Sekretaris PWNU Jatim Prof Akh. Muzakki dalam keterangannya persnya, Rabu (29/12), dilansir laman MUI.

Selain itu, PWNU Jarim juga meminta PWNU lainnya agar dapat mengambil sikap serupa.

Hal itu merupakan salah satu poin penting dari rapat gabungan PWNU Jawa Timur yang dipimpin Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Manshur dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Selasa 28 Desember 2021.

Rapat gabungan, dihadiri jajaran syuriah dan tanfidziyah, seperti KH Anwar Iskandar (Wakil Rais), KH Syafruddin Syarif (Katib Syuriah PWNU), KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Prof KH Ali Maschan Moesa, KH Reza Ahmad Zahid, KH Abdus Salam Shohib, KH Ahmad Fahrur Rozi, KH Abdurrahman Alkautsar.

Pada kesempatan tersebut, Prof Akh Muzakki menyampaikan lima poin penting keputusan Rapat Gabungan PWNU Jawa Timur di Ponpes Lirboyo Kediri, sebagai berikut:

1. Dinamika apapun yang terjadi selama muktamar ke-34 harus dianggap selesai dan tidak boleh berkelanjutan agar kita semua bisa berpikir positif untuk NU ke depan

2. PWNU mendukung penuh mandataris muktamar, yakni KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dalam memimpin PBNU ke depan.

3. PWNU mendorong mandataris muktamar agar membentuk tim perumus yang berkompeten yang bertugas di antaranya untuk melakukan sinkronisasi hasil sidang komisi dan atau sidang pleno, termasuk di bidang pemilihan ketua umum, agar bisa menjadi keputusan organsiasi pada Muktamar ke-34 sebagai forum permusyawaratan tertinggi organsisasi dan PWNU siap untuk mengawal tim perumus dimaksud dengan baik.

4 Mendorong PBNU agar dalam membentuk kepengurusan baik di PBNU maupun Perangkat organisasi mempertimbangkan prinsip berikut:

a. Terkait kemandirian, pengurus yang akan datang harus merupakan cerminan dari kemandirian dari campur tangan apapun, termasuk kekuatan politik partisan dan pemerintah,

b. The right man on the right place dalam bidang apapun, termasuk pendidikan dan ekonomi,

c. Harus berpaham wasathiyah dan dalam menerjemahkan aswaja annahdliyan dalam beragama,

d. Memiliki kepekaan dalam merespon isu strategis yang berkembang agar wajah NU tidak buruk di ruang publik, seperti moderasi beragama yang kebablasan dan kekerasan seksual di lembaga pendidikan.

5. Memohon kepada Rais Aam PBNU untuk tidak mundur dari Ketua Umum MUI untuk kepentingan kemaslahatan yang lebih besar bagi agama, bangsa dan negara, serta mengusulkan kepada seluruh PWNU se-Indonesia agar bersikap serupa dengan PWNU Jatim. *

Rep: Fida A.
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

KH Ma’ruf Amin: MUI Menyesalkan Tindakan Sewenang-wenang China

KH Ma’ruf Amin: MUI Menyesalkan Tindakan Sewenang-wenang China

Pemprov DKI Rencanakan Buka Puasa Bersama ala Makkah dan Madinah

Pemprov DKI Rencanakan Buka Puasa Bersama ala Makkah dan Madinah

MIUMI Apresiasi Polri Izinkan Polwan Berhijab

MIUMI Apresiasi Polri Izinkan Polwan Berhijab

Komisioner KPI Berjanji Tindak Lanjuti Laporan Tayangan “Jodha Akbar”

Komisioner KPI Berjanji Tindak Lanjuti Laporan Tayangan “Jodha Akbar”

Aliansi Ormas Sumut Sesalkan Media Tak Jelaskan Penyebab Kerusuhan Aceh Singkil

Aliansi Ormas Sumut Sesalkan Media Tak Jelaskan Penyebab Kerusuhan Aceh Singkil

Baca Juga

Berita Lainnya