Sabtu, 22 Januari 2022 / 18 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Sekjen PBNU Bela KSAD Dudung soal Jangan Terlalu Dalam Mempelajari Agama

terlalu dalam mempelajari agama aktual
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini
Bagikan:

Hidayatullah.com — Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini membela pernyataan Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jendral Dudung Abdurachman soal jangan terlalu dalam mempelajari agama. Helmy mengungkap pernyataan Dudung tersebut harus dipahami dengan konteks membangun moderasi beragama.

“Yang beliau sampaikan tentu dalam konteks membangun spirit moderasi beragama. Maka, saya rasa ini sangat baik dalam konteks berbangsa dan bernegara,” kata Helmy dalam keterangan resminya, Senin (6/12/2021).

Sebelumnya, Dudung menyarankan agar masyarakat tidak terlalu dalam mempelajari agama. Pernyataannya yang ia sampaikan saat bertausiyah di Masjid Nurul Amin, Kota Jayapura, Provinsi Papua beberapa waktu lalu tersebut kemudian menjadi perhatian publik.

Helmy, dikutip oleh Detik, mengaku sudah mendapat penjelasan dari Dudung. Menurut Helmy, Dudung telah meluruskan pernyataan itu. Maksud Dudung adalah jangan belajar agama terlalu dalam secara sendiri tanpa bimbingan guru.

Helmy menyatakan sepakat dan menilai sudah sepatutnya belajar agama harus dibimbing oleh seorang guru. Hal itu bertujuan agar terhindar dari pemahaman keagamaan yang keliru.

“Belajar agama harus dibimbing oleh seorang guru agar pemahaman dan juga sanad/transmisi keilmuan terjaga serta terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru,” katanya

Dalam pernyataan kotroversialnya, Dudung menyinggung tentang ilmana sebagai tingkatan keimanan bagi umat Islam.

“Iman taklid, ada iman ilmu, ada iman iyaan, ada iman haq (haqul yaqiin), dan iman hakikat. Oleh karena itu, banyak sebagian dari orang Islam sering terpengaruh katanya hadis ini, katanya hadis itu, kata Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya jangan terlalu dalam, jangan terlalu dalam mempelajari agama,” ujar Dudung.

Dudung menilai dampak terlalu dalam mempelajari agama adalah terjadi penyimpangan.

“Akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan. Kaya Sumpah Prajurit, Sapta Marga, dan 8 Wajib TNI, kalau kalian prajurit tidak memahami tidak mengerti artinya Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI,” kata dia.

Namun, belakangan Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Tatang Subarna telah mengklarifikasi pernyataan Dudung tersebut. Ia mengatakan penyimpangan bisa terjadi ketika mempelajari agama terlalu dalam tanpa guru.

“Maksud KSAD, mempelajari agama terlalu dalam akan terjadi penyimpangan, apabila tanpa guru,” ucap Tatang dalam pernyataannya di akun Twitter resmi TNI AD @TNI_AD.

Banyak tokoh dan ulama yang telah mengkritik pernyataan Dudung tersebut, Di antaranya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis yang meminta Jenderal Dudung agar fokus saja mengurusi tugas fokoknya daripada menyinggung-nyinggung terkait agama. Di antara tugasnya adalah menumpas para perusuh di negeri ini.*

Rep: Fida A.
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Mengaku Tak Ada Perda Bernuansa Islam Dihapus, Mendagri Banyak Terima SMS Penolakan

Mengaku Tak Ada Perda Bernuansa Islam Dihapus, Mendagri Banyak Terima SMS Penolakan

SMK Muhammadiyah 1 Padang Lahirkan SMONET TSU

SMK Muhammadiyah 1 Padang Lahirkan SMONET TSU

Terbitkan Surat Edaran, Mendagri Larang Gubernur, Bupati, Walikota ASN Lakukan Open House di Lebaran 2021

Terbitkan Surat Edaran, Mendagri Larang Gubernur, Bupati, Walikota ASN Lakukan Open House di Lebaran 2021

Terkait FPI, MUI Sebut Pembinaan Lebih Baik Ketimbang Pembubaran

Terkait FPI, MUI Sebut Pembinaan Lebih Baik Ketimbang Pembubaran

Ketua GNPF-MUI: Hanya Energi al-Quran Bisa Datangkan Aksi Damai Jutaan Orang

Ketua GNPF-MUI: Hanya Energi al-Quran Bisa Datangkan Aksi Damai Jutaan Orang

Baca Juga

Berita Lainnya