Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Sambut Bonus Demografi, Ketum MUI Serukan Sikap Washatiyah

bonus demografi
Bagikan:

Hidayatullah.com–Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar, menyampaikan pentingnya menyebarluaskan Islam washatiyah di media sosial dalam merespons bonus demografi. Jika tidak, ungkapnya, maka ruang medsos akan dibanjiri konten-konten hoaks, kebencian dan hasutan.

“Kebatilan yang teroganisasi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi,” terangnya saat memberikan sambutan dalam Workhsop Konten Kreatif MUI-lenial di Hotel Novotel Surabaya, Kamis (18/11/2021), dilansir oleh MUI.or.id.

Pengarusutamaan Islam wasathiyah ini, ujar Miftach, sangat penting dalam menghadapi bonus demografi mulai 2030.

Apa yang dimaksud dengan bonus demografi?

Bonus demografi adalah jumlah penduduk usia produktif yaitu usia 15-60 tahun jauh lebih banyak dibanding usia non-produktif dengan proporsi 60% dari jumlah total penduduk.

Kehadiran Demographic dividend itu, jika disikapi dengan tepat, maka Indonesia bisa masuk negara maju dan sejahtera. Untuk menyiasati itu, maka pengembangan Islam wasathiyah, Islam yang tidak ekstrem, sangat dibutuhkan.

“Itu artinya saat bonus demografi mencapai puncaknya, penduduk Indonesia banyak yang sejahtera,” terangnya dalam workshop kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bersama MUI ini.

“Untuk itu kepada semua pihak mari segera menyiapkan generasi penerus bangsa dengan kecerdasan spiritual. Hal itu penting agar bonus demografi sesuai dengan harapan nantinya,” imbuhnya.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut menyampaikan, Islam wasathiyah mampu memberikan motivasi kepada muslim agar menjadi pemenang dan tangguh menjalani kehidupan.

Menurut Miftach, Islam wasathiyah perannya sangat penting untuk merespon perkembangan pandangan Islam yang ekstrem. Tidak hanya ekstrem kanan yang mengarah ke radikalisme agama, juga ekstrem kiri yang mengarah pada liberalisme.

“Apabila Islam wasathiyah ini diterapkan, maka yang muncul adalah dakwah yang mendidik bukan menghardik, dakwah yang merangkul bukan memukul, dakwah yang membina bukan menghina,” ungkapnya.

Miftach mengingatkan, media sosial kini telah mengubah hidup manusia. Medsos punya pengaruh besar pada masalah yang ma’ruf maupun yang mungkar.

“Melalu workshop ini, diharapkan menambah kesempurnaan syiar agama Islam khususnya di media sosial yang mengedepankan akhlakul karimah,” ujarnya.

Rep: Fida A.
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Komisi HAM MUI: Indonesia Punya Mandat Dorong Penghukuman China

Komisi HAM MUI: Indonesia Punya Mandat Dorong Penghukuman China

Pihak SMP Al Jannah Sebut Siswi yang Sempat Hilang Berstatus ABK

Pihak SMP Al Jannah Sebut Siswi yang Sempat Hilang Berstatus ABK

MUI Siap Gelar KUII VII Besok di Pangkal Pinang, Babel

MUI Siap Gelar KUII VII Besok di Pangkal Pinang, Babel

TPM: Ada Banyak Kedzaliman Densus terhadap Umat Islam

TPM: Ada Banyak Kedzaliman Densus terhadap Umat Islam

TPM akan Kawal Janji Prabowo Jika Menang Pilpres

TPM akan Kawal Janji Prabowo Jika Menang Pilpres

Baca Juga

Berita Lainnya