Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Gerhana Bulan Sebagian akan Melintas di Indonesia, Begini Panduan dan Tata Cara Shalat Khusuf

shalat gerhana Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Gerhana bulan darah di Balikpapan
Bagikan:

Hidayatullah.com — Gerhana Bulan sebagian akan kembali melintas di wilayah Indonesia pada Jumat 19 November 2021, mulai pukul 17.47 WIB. Kementerian Agama mengajak umat Islam untuk melakukan shalat Gerhana dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Kami mengimbau kaum muslimin agar melakukan salat Gerhana, tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin melalui keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (19/11/2021).

Amin mengatakan pandemi belum berakhir. Masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu 5M: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Dikatakan Amin, sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, umat Islam dianjurkan melakukan shalat gerhana, walaupun dalam posisi gerhana bulan sebagian. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak zikir, doa, istigfar, taubat, sedekah, dan amal-amal kebajikan lainnya.

“Mempertimbangkan waktu terbit bulan di masing-masing daerah, maka shalat Gerhana bisa dilakukan pada rentang setelah shalat Magrib sampai selesai gerhana sesuai dengan waktu di atas,” ujarnya.

“Doakan agar pandemi ini segera berakhir. Doakan juga untuk keselamatan bangsa dan negara,” sambungnya.

Mengutip laman IG Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Gerhana Bulan Sebagian adalah kondisi dimana sebagian permukaan Bulan tertutupi bayangan atau umbra Bumi. Semakin Bulan menuju ke tengah atau pusat bayangan pada saat puncak Gerhana, maka durasi gerhana akan semakin lama.

 

Selain itu, Kemenag juga memberikan panduan Penyelenggaraan Shalat Gerhana atau Shalat Khusuf saat Pandemi. Untuk memberikan rasa aman kepada umat Islam dalam penyelenggaraan salat Gerhana Bulan, sekaligus upaya mencegah penyebaran virus Covid-19

1. Shalat Gerhana Bulan di daerah yang tergolong Zona Merah dan Zona Oranye agar dilakukan di rumah masing-masing;

2. Shalat Gerhana Bulan dapat diadakan di masjid atau lapangan yang berada pada daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19, baik zona hijau maupun zona kuning, yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang;

3. Dalam hal Shalat Gerhana Bulan dilaksanakan di masjid atau lapangan, harus memperhatikan standar protokol kesehatan secara ketat dan mengindahkan ketentuan sebagai berikut:

a. Shalat Gerhana Bulan dilaksanakan sesuai tuntunan syariat, juga khutbah diikuti oleh seluruh jemaah yang hadir;

b. Jemaah yang hadir tidak boleh melebihi 50% dari kapasitas tempat agar dapat menjaga jarak antar shaf dan antar jemaah;

c. Jemaah yang hadir harus memakai masker dengan sempurna dan sesuai ketentuan yang berlaku, baik di masjid maupun di lapangan;

d. Panitia dianjurkan menggunakan alat pengecek suhu (thermo gun) dalam rangka memastikan kondisi jemaah sehat dan menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer di setiap pintu masuk;

e. Bagi para lansia (lanjut usia) atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, disarankan tidak menghadiri Salat Gerhana Bulan;

f. Khutbah Shalat Gerhana dilakukan secara singkat dengan tetap memenuhi rukun dan syarat khutbah paling lama 10 menit;

g. Mimbar khutbah di masjid atau pun lapangan agar dilengkapi pembatas transparan antara khatib dan jemaah;

h. Jemaah kembali ke rumah dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

Tata Cara Salat Gerhana:

1. Berniat di dalam hati;

2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana salat biasa;

3. Membaca doa iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang lain sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya);

4. Kemudian rukuk;

5. Kemudian bangkit dari rukuk (iktidal);

6. Setelah iktidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat lain.

7. Kemudian rukuk kembali (rukuk kedua) yang lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;

8. Kemudian bangkit dari rukuk (iktidal);

9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali;

10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;

11. Salam.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jemaah yang berisi anjuran untuk berzikir, berdoa, beristigfar, dan bersedekah.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

ICMI: Tak Ada Negara yang Ramah dan Senyaman Indonesia untuk Beribadah

ICMI: Tak Ada Negara yang Ramah dan Senyaman Indonesia untuk Beribadah

Ketua MPR: Ulama Harus Jadi Motor Penggerak Perbaikan Umat dan Bangsa

Ketua MPR: Ulama Harus Jadi Motor Penggerak Perbaikan Umat dan Bangsa

Dubes AS Dinilai Telah Mengintervensi Indonesia soal LGBT

Dubes AS Dinilai Telah Mengintervensi Indonesia soal LGBT

DPR Akan Akan Revisi UU Penyelenggaraan Haji

DPR Akan Akan Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Pengacara: Kapolri Berutang Mengungkap Penyerangan Novel

Pengacara: Kapolri Berutang Mengungkap Penyerangan Novel

Baca Juga

Berita Lainnya