Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Menko Polhukam: Indonesia Bukan Negara Agama tapi Bukan Negara Sekuler

Azim Arrasyid/hidayatullah.com
Menko Polhukam Mahfud MD
Bagikan:

Hidayatullah.com- Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menilai Indonesia sebagai negara Pancasila yang berketuhanan tidak memberlakukan hukum agama tertentu, tetapi wajib semua pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agamanya.

Menurutnya, negara Pancasila yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah ‘’mietsaqon ghaliedza’’ atau modus vivendi yang oleh Nahdlatul Ulama (NU) sering disebut sebagai Dar al Syahadah, oleh Muhamadiyah disebut Dar al Ahdi wa al Syahadah, dan ada juga yang menyebutnya Dar al Hikmah.

“Dalam istilah yang lebih akademis konsep Dar al Mietsaq atau Dar al Ahdi sering disebut sebagai Religious Nation State, negara kebangsaan yang berketuhanan, bukan negara agama tapi juga bukan negara sekuler,” ujarnya pada pembukaan Ijtima Ulama Ketujuh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tema ‘Optimalisasi Fatwa untuk Kemaslahatan Bangsa’ yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta  kemarin dirilis MUI pada Rabu (10/11/2021).

Sehingga, kata Mahfud MD, penerapan syariah dalam konteks NKRI, dalam arti luas mencakup semua jalan atau ajaran Islam yang meliputi akidah, akhlak, ibadah mahdhah, dan muamalah.

“Sedangkan syariah dalam arti khusus sering dikaitkan dengan hukum yang lebih spesifik, yakni dikaitkan dengan fiqh. Syariah dalam arti spesifik ini melahirkan aturan-aturan tentang ibadah baik mahdhah maupun ghairu mahdhah,” tuturnya.

Mahfud MD melanjutkan, syariah melahirkan kajian-kajian mengenai fiqh ibadah (ritual), dan fiqh sosial yang banyak cabangnya seperti Jinayah, Syakhsiyah, Siyasah, Mi’sa, dan lainnya.

Selain itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menjelaskan, bahwa syariah dalam arti luas dapat dilaksanakan oleh pemeluk Islam dengan perlindungan negara.

Sedangkan syariah dalam arti khusus, kata Mahfud, seperti hukum Fiqh Muamalah yang bergantung kepada bidang hukumnya.

“Untuk hukum publik seperti tata negara, administrasi negara, lingkungan hidup, dan lain-lain berlaku unifikasi atau berlaku yang sama untuk seluruh rakyat. Di sini bertemu kalimatun sawa (kata sepakat),” tambahnya.

Terkait hukum privat, tambah Mahfud, baik ritual maupun sosial bisa berlaku hukum masing-masing berdasarkan pada pilihan dan keyakinannya sendiri dan negara melindungi.

“Jika disepakati secara legislasi yang privat pun bisa hukum nasional. Misalnya tentang perkawinan, tentang wakaf, tentang pengelolaan zakat, tentang jaminan produksi halal, tentang peradilan agama dan tentang kompilasi hukum Islam,” ujarnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Mulai Besok MUI Depok Izinkan Masjid & Mushalla Gelar Shalat Jum’at

Mulai Besok MUI Depok Izinkan Masjid & Mushalla Gelar Shalat Jum’at

Jokowi Bilang KPK Harus Dijaga, Dahnil: Ditunggu Aksi Nyatanya

Jokowi Bilang KPK Harus Dijaga, Dahnil: Ditunggu Aksi Nyatanya

rehabilitasi narkoba

BNN dan UI Sudah Rehabilitasi 6000 Pecandu Narkoba

Ketua KPPSI Trauma Sosmed Karena Pornografi dan Akun Palsu

Ketua KPPSI Trauma Sosmed Karena Pornografi dan Akun Palsu

Aa Gym: Pernyataan Ahok Tercela, Dianjurkan Minta Maaf

Aa Gym: Pernyataan Ahok Tercela, Dianjurkan Minta Maaf

Baca Juga

Berita Lainnya