Rabu, 1 Desember 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Kemendikbudistek Bantah Permen No. 30 tentang PPKS Legalkan Zina

permen ppks
Bagikan:

Hidayatullah.com — Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Nizam mengatakan Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi tak bermaksud melegalkan perzinaan.

Terkait hal itu, Nizam mengklaim anggapan tersebut timbul karena kesalahan persepsi atau sudut pandang. “Tidak ada satu pun kata dalam Permen PPKS ini yang menunjukkan bahwa Kemendikbudristek memperbolehkan perzinaan. Tajuk diawal Permendikbudristek ini adalah ‘pencegahan’, bukan ‘pelegalan’,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari siaran pers Kemendikbudistek pada Senin (8/11/2021).

Nizam juga menggaris bawahi fokus Permendikbudristek PPKS “adalah pencegahan dan penindakan atas kekerasan seksual”. “Sehingga definisi dan pengaturan yang diatur dalam permen ini khusus untuk mencegah dan mengatasi kekerasan seksual,” katanya.

Nizam mengatakan beberapa organisasi dan perwakilan mahasiswa menyampaikan keresahan dan kajian atas kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi yang tidak ditindak lanjuti oleh pimpinan perguruan tinggi. “Kebanyakan dari mereka takut melapor dan kejadian kekerasan seksual menimbulkan trauma bagi korban. Hal ini menggambarkan betapa mendesak nya peraturan ini dikeluarkan,” ujarnya.

Kehadiran Permendikbudristek PPKS, menurut Kemendikbudistek, merupakan jawaban atas kebutuhan perlindungan dari kekerasan seksual di perguruan tinggi yang disampaikan langsung oleh berbagai mahasiswa, tenaga pendidik, dosen, guru besar, dan pemimpin perguruan tinggi yang disampaikan melalui berbagai kegiatan. Karenanya, kekerasan seksual di sektor pendidikan tinggi menjadi kewenangan Kemendikbudristek, sebagaimana ruang lingkup dan substansi yang tertuang dalam Permendikbudristek tentang PPKS ini.

Nizam beralasan Kemendikbudristek wajib memastikan setiap penyelenggara pendidikan maupun peserta didiknya dapat menjalankan fungsi tri dharma perguruan tinggi dan menempuh pendidikan tingginya dengan aman dan optimal tanpa adanya kekerasan seksual.

Lebih lanjut, dia mengungkap bahwa Permendikbudristek PPKS dirancang untuk membantu pimpinan perguruan tinggi dan segenap warga kampusnya dalam meningkatkan keamanan lingkungan mereka dari kekerasan seksual; menguatkan korban kekerasan seksual yang masuk dalam ruang lingkup dan sasaran Permen PPKS ini; dan mempertajam literasi masyarakat umum akan batas-batas etis berperilaku di lingkungan perguruan tinggi Indonesia, serta konsekuensi hukumnya.

“Moral dan akhlak mulia menjadi tujuan utama pendidikan kita sebagaimana tertuang dalam UUD, UU 20/2003, UU 12/2012, dan berbagai peraturan turunannya. Termasuk Permendikbud No 3/2020 ttg standar nasional pendidikan tinggi,” pungkas Nizam.

Permendikbudistek no. 30 banyak dikritik oleh berbagai pihak karena dianggap bermasalah, terutama terkait implikasi dari pasal yang dianggap melegalkan perzinaan. Di antara pihak yang mengkritisi adalah Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Majelis Ormas Islam (MOI), dan terakhir Muhammadiyah yang juga menyatakan sikap resminya terkait Permen tersebut.

Rep: Fida A.
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Dompet Dhuafa Bagikan 10 Ribu Masker untuk Pengungsi

Dompet Dhuafa Bagikan 10 Ribu Masker untuk Pengungsi

Muslimah Indonesia jangan Apatis Melihat Persoalan Bangsa

Muslimah Indonesia jangan Apatis Melihat Persoalan Bangsa

JK: Katakan ‘Tidak’, Ternyata Masih Korupsi

JK: Katakan ‘Tidak’, Ternyata Masih Korupsi

Dosen UIKA Bogor Raih Best Paper Award di Ajang Internasional Conference

Dosen UIKA Bogor Raih Best Paper Award di Ajang Internasional Conference

Sandi Berterima Kasih NU Garis Lurus Dukung Prabowo

Sandi Berterima Kasih NU Garis Lurus Dukung Prabowo

Baca Juga

Berita Lainnya