Sabtu, 4 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Permendikbudristek 30 Jelas Adopsi RUU PKS, Guspardi Gaus: Dibatalkan Saja

permendikbudristek 30 Kresno/Man
Anggota Komisi II DPR RI, Guspardi Gaus di Senayan, Jakarta.
Bagikan:

Hidayatullah.com — Anggota DPR RI dari fraksi PAN, Guspardi Gaus, mengkritik Permendikbudristek Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Guspardi menyatakan Permendikbudristek Nomor 30 tahun 2021 itu jelas mengadopsi draft RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) yang telah ditolak masyarakat luas di DPR periode 2014-2019 lalu. Menurutnya, dasar hukum dari terbitnya aturan tersebut juga tidak jelas, karena undang-undang yang menjadi cantolan hukumnya saja belum ada.

“Padahal Undang-Undang No 12 tahun 2011 pasal 8 ayat 2 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dinyatakan bahwa Peraturan Menteri bisa memiliki kekuatan hukum mengikat manakala ada perintah dari peraturan perundangan yang lebih tinggi,” ujar Guspardi saat dimintai keteranggan oleh awak media, Ahad (07/11/2021).

Politisi PAN ini menuturkan Peraturan Menteri (Permen) tersebut sangat jelas melampaui kewenangan. Pasalnya Panitia Kerja (Panja) Badan Legislasi (Baleg) DPR RI saat ini masih membahas tentang RUU TPKS. Artinya, Permen ini melangkahi undang-undang serta tidak memiliki cantolan yuridis yang jelas dan spesifik. “Jadi, apa dasar hukum yang menjadi landasan dikeluarkannya kebijakan tersebut,” ujar Guspardi yang juga merupakan anggota panja RUU TPKS.

Legislator asal Sumatera Barat itu menilai, filosofi dan muatan dalam peraturan menteri tersebut juga jauh dari nilai-nilai Pancasila dan cenderung pada nilai-nilai liberalisme, karena tidak berlandaskan kepada norma-norma agama. Seperti penggunaan defenisi paradigma seks bebas berbasis persetujuan (sexual-consent) yang tidak didasarkan pada agama.

Maknanya selama tidak ada pemaksaan (suka sama suka), berusia dewasa, dan ada persetujuan, maka aktifitas seksual menjadi halal, meskipun dilakukan di luar pernikahan yang sah. Hal ini tentu berpotensi melegalkan dan menfasilitasi perbuatan zina dan jelas bertentangan dengan Pancasila dan norma agama. Ini tentu merupakan satu acuan peraturan yang jelas berbahaya.

Guspardi menambahkan betapa banyak terjadi hubungan seks di luar nikah yang diawali dengan persetujuan alias suka sama suka. Begitu pula bermunculannya perilaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang kian merebak di masyarakat.

Padahal perilaku seks di luar nikah ataupun LGBT tidaklah dibenarkan dalam norma agama. Tak hanya itu, Permendikburistek 30 seolah mengesampingkan proses hukum bila terjadi suatu kasus. Pasalnya, cenderung berfokus pada pengadilan internal dengan keberadaan satuan tugas (Satgas) di lingkungan kampus.

“Oleh karena bermasalah dari segi yuridis maupun filosofis, beleid yang ditandatangi Mas Menteri Nadiem pada 31 Agustus 2021 itu sebaiknya dicabut dan dibatalkan karena berpotensi menjadi masalah dan memantik polemik di tengah masyarakat dalam implementasinya kedepan,” tukas anggota komisi II DPR RI ini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 13 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam yang tergabung dalam Mejelis Ormas Islam (MOI) meminta Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Mencabut Peraturan Menteri Nomer 30 Tahun 2021 Tentang Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguran Tinggi. Hal ini karena dinilai peraturan tersebut telah meresahkan umat Islam.

Mejelis Ormas Islam (MOI) menilai Permendikbudristek 30 tersebut secara tidak langsung telah melegalisasikan perzinahan dan akan mengubah dan merusak standar nilai moral mahasiswa di kampus, yang semestinya perzinahan itu kejahatan malah kemudian dibiarkan. “Permendikbud ini telah menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya,” ujar Ketua Presidium MOI, KH. Nazar Haris,

Selain itu, pernyataan sikap penolakan juga datang dari Persatuan Umat Islam (PUI), Aliansi Cinta Keluarga (AILA) dan Gerakan Indonesia Beradab (GIB) yang menghimpun 203 organisasi masyarakat pengusung nilai-nilai Pancasila tentang Permen No 30 tahun 2021.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

LPPOM: Breadtalk Pernah Miliki Sertifikat Halal Tapi Tak Diperpanjang

LPPOM: Breadtalk Pernah Miliki Sertifikat Halal Tapi Tak Diperpanjang

Asrama Mahasiswa Islam Baiknya jadi Sarana Berperadaban Al-Quran

Asrama Mahasiswa Islam Baiknya jadi Sarana Berperadaban Al-Quran

partai buruh pemilu 2024

Presiden KSPI Sebut Partai Buruh Siap Bertarung di Pemilu 2024 Mendatang

Soal Rohingya, Din: Pinjamkan Pulau Untuk Tinggal Sementara

Soal Rohingya, Din: Pinjamkan Pulau Untuk Tinggal Sementara

Anies Tak Balas Bully, tapi Jawab dengan Karya

Anies Tak Balas Bully, tapi Jawab dengan Karya

Baca Juga

Berita Lainnya