Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Hamdan Zoelva Harap Pemerintah Tidak Impor Alat Kesehatan Lagi

hidayatullah.com/M Rifa'i Fadhli
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva
Bagikan:

Hidayatullah.com — Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hamdan Zoelva meminta pemerintah mengkaji ulang impor alat kesehatan (alkes) seperti alat swab antigen dan PCR. Menurut Hamdan Zoelva, harga alkes impor seperti swab antigen dan PCR sangat mahal.

“Kalau pemerintah memiliki ‘political will’ yang kuat, harusnya alat kesehatan seperti alat swab antigen dan alat PCR ini tidak perlu impor, karena alkes impor itu harganya sangat mahal,” kata Hamdan Zoelva saat menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijriah/2021 yang diselenggarakan PT Taishan Alkes Indonesia, Jakarta, Kamis (28/10/2021) melasir media Antara.

Oleh karena itu, dirinya mendorong pemerintah untuk komitmen dalam penggunaan alat kesehatan produk dalam negeri.

Ketua Umum Syarikat Islam ini berharap pemerintah membatasi masuknya produk-produk alkes impor. Seharusnya, lanjut dia, pemerintah lebih mengutamakan produsen alkes dalam negeri yang harganya jauh lebih murah dan kualitasnya sangat baik serta telah memiliki sertifikat halal.

“Pemerintah harus meninjau ulang kebijakan mengenai alat swab antigen dan alat PCR impor yang banyak beredar sekarang ini. Saya khawatir ke depannya ini akan menjadi persoalan hukum, karena dianggap mencari keuntungan atau sengaja ada permainan soal harga alkes,” kata Hamdan Zoelva dalam siaran persnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu mencontohkan harga alat swab antigen yang dipublish PT Taishan Alkes Indonesia sebesar Rp 30 ribu, sementara harga yang ditetapkan pemerintah untuk alat swab antigen sebesar Rp 55 ribu.

“Ini dari pabrik lokal dalam negeri seperti PT Taishan saja harganya lebih murah dibanding yang ditetapkan oleh pemerintah. Malah saya yakin PT Taishan bisa tekan lagi harganya Rp 25 ribu sampai Rp 20 ribu. Bahkan alkes lokal ini sudah dapat sertifikat halal. Tapi koq yang banyak beredar justru alkes impor yang harganya dua kali lipat. Saya tidak tahu lagi berapa itu untungnya dari alkes impor ini,”terangnya.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, pemerintah wajib melindungi masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia. “Tidak elok dalam kondisi sulit seperti ini produk impor terlalu diistimewakan. Kalau ada yang lebih murah, kenapa pilih yang mahal dan impor. Jika memang punya ‘political will’ dan ingin membangkitkan ekonomi, produk-produk alkes dalam negeri harusnya menjadi prioritas karena ini nantinya akan berdampak pada pemulihan ekonomi terutama penyerapan tenaga kerja di Indonesia,” paparnya.

Keuntungan menggunakan produk alkes dalam negeri, kata Hamdan salah satunya akan menyerap tenaga kerja Indonesia ketimbang membeli produk impor.

“Kalau impor kan terima jadi, pabrik bukan di dalam negeri. Yang kerja bukan masyarakat Indonesia, uang lari keluar negeri juga. Saya tidak habis pikir soal alkes impor ini. Makanya saya minta pemerintah harus tinjau ulang deh impor alkes ini. Jangan sampai kita jadi bangsa yang tamak,” tukasnya.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

PBNU Akan Laporkan Kece ke Aparat Kepolisian Atas Dugaan Ujaran Kebencian

PBNU Akan Laporkan Kece ke Aparat Kepolisian Atas Dugaan Ujaran Kebencian

Perlu Solusi Bareng soal Pembiayaan Sertifikasi Halal UMKM

Perlu Solusi Bareng soal Pembiayaan Sertifikasi Halal UMKM

moderasi islam beragama

MUI Minta KPU Profesional: sebagian Penyelenggara Pemilu Tak Netral

BNPT Radikalisme Menurun

Polri ‘Akui’ Ada Perlakuan Hukum Berbeda antara Kasus Ahok dengan Arswendo cs

Natalius Pigai OPM

Amnesty International Indonesia Tolak Wacana KKB Papua Didefinisikan Sebagai Organisasi Teroris

Baca Juga

Berita Lainnya