Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Soal Framing Negatif Toleransi Umat Islam, Muhammadiyah: Memang Sengaja Dipelihara

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti
Bagikan:

Hidayatullah.com — Jauh sebelum negara-bangsa bernama Indonesia lahir, wilayah Nusantara dikenal telah memiliki beragam adat, budaya dan agama. Masyarakat Nusantara sendiri dikenal sangat toleran dalam perbedaan keyakinan. Hal demikian disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

Hanya saja, menurut Mu’ti dewasa ini masyarakat Indonesia sering terseret dalam pertentangan identitas, terutama di kalangan umat Islam. Selain karena faktor dalaman, pertentangan itu disebabkan oleh faktor luaran.

“Secara umum, kerukunan umat beragama Indonesia itu indeksnya di atas 76, kategori baik, walaupun memang tidak tertutup ada kasus-kasus intoleran. Dan sekarang ada kecenderungan membesar-besarkan isu tersebut,” kata Mu’ti seperti melansir laman milik Muhammadiyah, Selasa (26/10/2021).

Pada faktor dalaman, Mu’ti menilai hambatan kerukunan dan toleransi itu muncul akibat perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan manhaj dalam memahami agama.

Meskipun Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat ke-48 menerangkan bahwa perbedaan adalah sunatullah, nyatanya tidak banyak yang memahami ruang persatuan di atas berbagai perbedaan yang ada.

Adapun faktor luaran, Mu’ti mengisahkan pengalamannya mewakili Muhammadiyah saat ditugaskan Kementerian Luar Negeri untuk dialog agama di Uni Eropa.

Pada momen itu, Mu’ti dalam konteks keakraban bergantian saling meledek dengan perwakilan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) di atas mimbar. Kejadian itu membuat para pemimpin di Uni Eropa terheran-heran.

“Jadi sebenarnya itu sesuatu yang sudah menjadi bagian dari DNA-nya orang Indonesia. Ya rukun itu. Tapi sengaja dibuat potret ada masalah intoleransi, ada masalah moderasi, dan dipotret lagi bahwa seakan-akan Islam itu adalah kelompok agama yang tidak toleran. Dan inilah yang menjadi isu terus menerus dan seakan-akan menjadi proyek sepanjang tahun,” ungkapnya menyindir masalah azan yang diangkat sebagai polemik oleh AFP.

“Nah kalau umat Islam tidak meng-adress ini sebagai isu kita, maka umat Islam itu memang akan jadi komunitas yang tertuduh terus-menerus. Kurang toleran apa kita umat Islam itu dalam konteks kita bernegara dan berbangsa?” tanya Abdul Mu’ti.

Tapi lanjut Mu’ti memang itulah yang menjadi persoalan kita. Dan sebagiannya memang karena ada kelompok-kelompok tertentu yang dia itu dalam berdakwah, bermuamalah kurang memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan dimensi-dimensi hukum dan sosial. “Ada yang sebagian karena disebabkan oleh pemahaman agama yang sempit. Lalu ditambahi dengan dinamika politik lokal, regional dan global, ketimpangan penegakan hukum, dan ekonomi,” pungkasnya.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Dugaan Pemurtadan Berkedok Bantuan, Aparat Sita 24 Buah Injil

Dugaan Pemurtadan Berkedok Bantuan, Aparat Sita 24 Buah Injil

Pandangan dan Sikap Lengkap Muhammadiyah Soal Penindasan Uighur

Pandangan dan Sikap Lengkap Muhammadiyah Soal Penindasan Uighur

GNPF: Bersatu Bangun Ekonomi, Kembangkan Koperasi Syariah

GNPF: Bersatu Bangun Ekonomi, Kembangkan Koperasi Syariah

Larangan Mudik Berakhir, Kereta Api Jarak Jauh Mulai Aktif

Larangan Mudik Berakhir, Kereta Api Jarak Jauh Mulai Aktif

BMH Bertekad Gencarkan Kampanye Infaq untuk Masjidil Aqsha dan Palestina

BMH Bertekad Gencarkan Kampanye Infaq untuk Masjidil Aqsha dan Palestina

Baca Juga

Berita Lainnya