Kamis, 9 Desember 2021 / 5 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Wamenag: Santri Abad 21 Harus Melek Literasi Digital

Achmad Fazeri/Hidayatullah.com
Bagikan:

Hidayatullah.com — Peringatan hari santri nasional, Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid mengimbau agar para santri modern memiliki kecakapan dalam literasi digital. Ia menilai jihad para santri masa kini semakin berat. Selain kemampuan ilmu keislaman (tafaqquh fi al-din), santri juga diharapkan memiliki keluasan cakrawala dalam beragam perspektif keilmuan umum.

Zainut mengatakan, tantangan santri saat ini jauh lebih kompleks. Kalau dulu berhadapan dengan penjajahan Belanda, saat ini mereka akan bergelut dengan isu-isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang lebih rumit dibanding dengan masa lalu, termasuk tantangan revolusi industri 4.0.

“Santri abad ke-21 harus memiliki keterampilan literasi digital (digital literacy), di samping literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan,” ujar Zainut Tauhid dalam keterangannya, melansir laman Kemenag, Jumat (22/10/2021).

Menurut Zainut dunia saat ini tengah memasuki periode perubahan transformatif (transformative change) dan pergeseran besar (megashift) dalam pelbagai aspek kehidupan. Segala sesuatu telah mengalami proses mediatisasi, digitalisasi, virtualisasi, otomatisasi, robotisasi, mobilisasi, dan deteritorialisasi.

Pelbagai bentuk teknologi digital telah berkembang, antara lain: kecerdasan buatan (artificial intelligence), data besar (big data), buku besar digital (blockchain), komputasi awan (cloud computing), Internet untuk Segala (Internet of Things atau IoT), pembelajaran mesin (machine learning), aplikasi seluler (mobile applications), nanoteknologi (nanotechnology), dan sebagainya.

“Revolusi digital diperkirakan akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia, yang diestimasi terjadi sampai tahun 2030 karena digantikan oleh mesin. Hal ini bisa menjadi ancaman dunia termasuk bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi,” pesan Zainut.

“Kondisi saat ini memaksa semua pihak untuk melakukan akselerasi pemahaman dan penguasaan terhadap teknologi, tidak terkecuali para santri,” sambungnya.

Mengutip pesan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Zainut mengatakan bahwa santri milenial tidak cukup hanya pintar mengaji. Lebih dari itu, santri harus mempunyai daya hidup dan kreativitas agar siap memasuki dunia industri dan dunia usaha.

Agar lebih kontributif dalam memecahkan masalah yang kompleks pada abad ke-21, lanjut dia, santri milenial juga harus dapat berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Oleh sebab itu, proses pembelajaran di pesantren, selain tetap berorientasi tafaqquh fi al-din, semestinya juga terus disesuaikan agar selalu relevan dengan perkembangan zaman, tuntutan dunia industri dan dunia usaha, serta potensi kaum milenial dalam penghidupan di masa depan.

“Para ustaz di pesantren semakin penting untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada santri, yaitu karakter religius dan jiwa fastabiqul khairat atau berlomba-lomba untuk kebaikan,” tandasnya.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Pemalsuan Buku Nikah

Revisi PP Nikah Selesai Oktober

Diserang Fitnah, UAS: ‘Kuserahkan Semua pada Engkau Ya Allah’

Diserang Fitnah, UAS: ‘Kuserahkan Semua pada Engkau Ya Allah’

IMS Khitan 120 Mualaf-Dhuafa Togutil di Halmahera

IMS Khitan 120 Mualaf-Dhuafa Togutil di Halmahera

Fadli: Baliho Kemenangan Prabowo-Sandi Dijamin Konstitusi

Fadli: Baliho Kemenangan Prabowo-Sandi Dijamin Konstitusi

Adam Dituduh Paksa Rendra Pakai Cadar

Adam Dituduh Paksa Rendra Pakai Cadar

Baca Juga

Berita Lainnya