Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Muhammadiyah Gowa Berinisiatif Membuat Peti Jenazah Covid-19 Khusus Muslim

Bagikan:

Hidayatullah.com–Muhammadiyah Disaster Manajemen Centre atau MDMC Gowa memproduksi peti jenazah khusus bagi jenazah muslim yang terjangkit virus Covid-19. Peti jenazah ini diproduksi sejak bulan Mei tahun 2020. Ketua MDMC Gowa, Hasanuddin Wiratama M. Nur mengatakan, peti mayat yang diproduksi MDMC Gowa berbeda dengan peti jenazah yang disediakan oleh Satgas Covid-19.

Yang membedakan menurut Sanu, sapaan akrab Hasanuddin, adalah ukurannya. “Kalau yang peti jenazah biasa, modelnya didesain jenazah menghadap ke atas, seperti jenazah nonmuslim. Sehingga jika jenazah muslim menggunakan peti itu, tentu sudah tidak sesuai lagi dengan syariah,” kata Sanu dikutip Suara Muhammadiyah.

Ia mencontoh tindakan yang dilakukan oleh tim pemulasaran Malaysia menangani jenazah muslim yang terjangkit virus Covid-19 yang dilihat melalui rekaman video. “Kami dari relawan Muhammadiyah Gowa, setelah melihat rekaman video pemulasaran dari Malaysia, langsung berinisiatif membuat peti jenazah khusus muslim,” kata Sanu saat diwawancarai, Selasa (24/08/2021).

Ia berharap jenazah orang muslim yang terjangkit virus Covid-19 bisa dimakamkan secara syari. “Karena tujuan utamanya adalah, agar jenazah muslim pasien Covid-19 dapat dimakamkan secara syari, yakni menghadap ke kiblat, bukan menghadap ke atas, “ harap Sanu.

Lanjut Sanu, katanya, ia bersama relawan Muhammadiyah Gowa lainnya membuat peti mayat berukuran panjang 190 sentimeter, lebar 40 sentimeter, dan tinggi 50 sentimeter. “Peti yang kami buat itu sempit dan tinggi, jadi jenazah posisinya sudah miring dengan tangan kanan berada di bawah dan menghadap ke kiblat,” kata mantan Ketua Kokam Sulsel ini.

Dia menjelaskan lagi, peti mayat yang diproduksi relawan Muhammadiyah Gowa ini diperuntukan bagi jenazah Covid-19 yang meninggal di rumah atau yang melakukan isolasi mandiri. Peti mayat ini juga diberikan secara gratis.

Hal ini menurut Sanu, karena pemerintah melalui Satgas Covid-19 sudah menyediakan peti mayat bagi jenazah Covid-19 yang meninggal di rumah sakit. Akan tetapi, kata Sanu, apabila ada masyarakat yang meminta peti mayat untuk kerabatnya yang meninggal di rumah sakit, pihaknya akan menyediakan peti asal mendapat izin dari tim Satgas Covid-19.

Pria yang sering mendapat tugas dari MDMC PP Muhammadiyah ini mengatakan, sejak tahun 2020 MDMC Gowa telah memproduksi sebanyak 18 peti mayat Covid-19 khusus muslim. Saat ini, kata Sanu, ia dan rekan-rekannya sedang memproduksi tujuh peti mayat.

“Stok sudah habis. Permintaan masih sering masuk. Kami dalam proses pengerjaan. Masih ada tujuh buah, tapi belum selesai dana sudah habis,” tutur lelaki yang juga pernah menjadi Ketua Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19 Muhammadiyah Gowa ini.

Tidak hanya menyediakan peti mayat bagi jenazah muslim yang terjangkit virus Covid-19, tim MDMC Gowa juga melakukan pemulasaran jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan. Saat ditanyai soal biaya pembuatan peti mayat ini, ia menjelaskan bahwa untuk membuat satu peti mayat bisa menghabiskan dana sekira Rp2.500.000.

Besaran angka biaya pembuatan peti ini sudah termasuk dengan kelengkapan jenazah. “Kalau dinilai dalam bentuk uang, estimasi biasa satu paket peti hingga 2,5 juta. Itu sudah termasuk dua lembar plastik jenazah, satu buah kantong jenazah, satu set kain kafan, dan kelengkapannya seperti kapas, handskun, handsanitizer, disinfektan dan yang lainnya,” tutur Sanu.

Sejak awal pembuatan peti tersebut, ia bersama timnya tidak pernah membuka donasi secara umum, baik dalam bentuk pamflet maupun flyer yang dipos di media-media sosial. Dia hanya menghubungi beberapa relasi dan kenalannya melalui pesan WhatsApp dan telepon seluler agar dibantu membayar nota-nota barang yang dipesan di toko material dan toko perlengkapan jenazah.

“Selama ini secara resmi kami tidak buka donasi. Sejak tahun lalu saya hanya menghubungi relasi dan kenalan. Saya hubungi lewat WA atau telepon langsung untuk dibayarkan nota-nota barang yang kami pesan di toko bahan bangunan dan toko perlengkapan jenazah,” kata Sanu.

Bagi masyarakat yang ingin membantu pembuatan peti tersebut, ia menerangkan, sebaiknya bantuan yang diberikan adalah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan peti. “Saya utamakan sumbangan dalam bentuk barang, misalnya fulan mau nyumbang 20 ribu, saya arahkan untuk langsung ke toko bangunan untuk beli bahan kebutuhan kami. Nanti kami jemput barang itu di toko bangunan tersebut. Tapi, kalau jumlah banyak, biasanya toko bangunannya ada jasa pengantaran barang ke lokasi kami,” kata Dia.

Lebih jauh ia menjelaskan, tenaga kerja yang mengerjakan peti mayat itu merupakan relawan Muhammadiyah Gowa yang berasal dari cabang Limbung dan cabang Maccini Baji. Para relawan tersebut beberapa diantaranya berprofesi sebagai buruh bangunan.

Walaupun hasil kerja mereka dalam membuat peti ini tidak sebaik dari tukang peti profesional, namun kata Sanu, peti yang mereka buat sudah memenuhi standar dan fungsinya. “Beberapa relawan itu berprofesi sebagai tukang dan buruh bangunan, meskipun tidak sebaik tukang profesional cara dan hasil kerja mereka, tetapi peti jenazah muslim yang mereka buat sudah fungsional,” ujar Sanu.

Sesuai kesepakatan ulama, dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti, karena termasuk bid’ah, kecuali kalau ada uzur. Sementara Fatwa MUI No 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang Terinfeksi Covid-19 menguburkan jenazah dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis dan dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.

Hal ini senada denngan Surat Edaran Kemenag Nomor P-003/DJ.III/Hk.00.7/04/2020 perubahan atas Surat Edaran Nomor P-002/DJ.III/Hk.00.7/03/2020 Tentang Penanganan Covid-19 Pada Area Publik.  “Setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan. Dengan cara demikian, saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.”.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

KPU Bolehkan Jokowi Pakai Pesawat Kepresidenan untuk Kampanye Dikritisi

KPU Bolehkan Jokowi Pakai Pesawat Kepresidenan untuk Kampanye Dikritisi

Pemerintah Indikasikan PPKM Akan Terus Diperpanjang

Pemerintah Indikasikan PPKM Akan Terus Diperpanjang

Hasyim: Pelaksanaan Haji 1432 H Lebih Baik

Hasyim: Pelaksanaan Haji 1432 H Lebih Baik

Banjir, Anies Tiadakan Kebijakan Ganjil Genap

Banjir, Anies Tiadakan Kebijakan Ganjil Genap

Menag: Kurikulum Pendidikan Al Zaitun Sama

Menag: Kurikulum Pendidikan Al Zaitun Sama

Baca Juga

Berita Lainnya