Ahad, 5 Desember 2021 / 29 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Tempat Hijrah yang Menjadi Tonggak Sejarah

Abdullah Said Dokumentasi Hidayatullah
Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan.
Bagikan:

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | Keinginan KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, untuk membangun sebuah kampung pengkaderan  semakin kuat manakala menyaksikan fenomena pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965. Sebelum pemberontakan itu terjadi, tulis Mansyur Salbu dalam buku Mencetak Kader, tokoh-tokoh PKI sebenarnya telah diberangus. Namun, mereka berhasil bangkit dan membangun kembali kekuatan dengan cara menyusup ke semua organisasi yang ada ketika itu.

Abdullah Said berpendapat, penyusupan seperti ini amat berbahaya. Hanya organisasi yang memiliki ikatan emosional yang kuat saja yang bisa membendungnya. Dan, ikatan emosional yang kuat hanya bisa dibentuk dari kegiatan pengkaderan.

Namun, wadah pengkaderan tersebut bukan seperti training centre di mana orang akan datang dan pergi.  Wadah tersebut harus berwujud perkampungan di mana orang-orang akan menetap.

Bahkan, menurut Abdullah Said, di perkampungan itulah syariat Islam bisa ditegakkan secara baik sebagaimana perkampungan yang dibangun oleh Sheikh Sidi Abdullah di Desa Syanggit, Libya.

Cita-cita membangun perkampungan seperti ini sebenarnya pernah pula dilontarkan oleh KH Mas Mansur saat Kongres Muhammadiyah ke-29 di Yogyakarta tahun 1941. Di kongres itu, Mas Mansur bercerita panjang lebar tentang lembaga pendidikan yang dilihatnya di Syanggit, desa yang sama dengan apa yang diidam-idamkan oleh Abdullah Said.

“Mungkinkah Muhammadiyah membuat lembaga pendidikan seperti itu?” tanya Mas Mansur kepada peserta kongres saat itu.

Usulan Mas Mansyur ternyata disetujui oleh kongres. Namun, wujudnya tidak sama dengan apa yang diusulkan Mas Mansur. Lembaga pendidikan yang dibuat berbentuk Perguruan Tinggi Islam (Universitas Muhammadiyah) sesuai usulan Konsul Muhammadiyah Surakarta, Mulyadi Joyomartono.

Belajar dari kisah Mas Mansur ini, Abdullah Said sadar bahwa tak mudah mewujudkan rencana yang ia cita-citakan. Keadaan di Syanggit berbeda dengan di Indonesia. Syeikh Sidi, pemilik Syanggit, adalah orang kaya. Ia menyumbangkan semua hartanya untuk perjuangan, bukan meminta sumbangan dari orang lain. Di Indoensia, figur seperti ini sangat sulit dijumpai ketika itu.

Namun, tekad Abdullah Said sudah bulat. Ia memang bukan saudagar kaya sebagaimana Syeikh Sidi. Ia hanya punya semangat dan keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan menolong hamba-Nya yang berjuang menegakkan agama-Nya. Ia juga rela hidup sederhana.

Rupanya, jalan yang harus ia tempuh untuk mewujudkan cita-cita ini tak mudah. Gelombang kehidupan yang awalnya hanya berupa riak-riak kecil, memaksanya untuk meninggalkan kampung halamannya di Sulawesi Selatan. Di penghujung tahun 1969, ia hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah skenario Allah Ta’ala yang terbaik. Justru di tempat hijrah inilah ia semakin dekat dengan cita-cita itu.

Tiba di Balikpapan, setiap hari Abdullah Said mengamati kehidupan beragama masyarakat di sana. Yang ia dapati hanya kegersangan. Masyarakat terlalu jauh tenggelam dalam kehidupan yang hedonis. Anak-anak muda lebih tertarik kepada materi ketimbang urusan akhirat. Kota Minyak itu terasa panas.

Dari pengamatan itu, Abdullah Said mulai berpikir tentang cara mencetak kader. Ia sadar, cita-citanya membangun sebuah kampung pengkaderan tak bisa dilakukan sendirian. Ia perlu “pasukan” yang siap mengorbankan dirinya untuk berjuang di jalan Allah Ta’ala.

Lantas, bagaimana cara merekrut anak-anak muda di sana? Abdullah Said yang pernah bergelut di organisasi Muhammadiyah itu memutuskan untuk menggunakan metoda pelatihan (training)

Namun, metoda ini hanya sekadar cara untuk merekrut kader. Cita-cita Abdullah Said tetap ingin membangun sebuah kampung pengkaderan, bukan sekadar membangun sebuah pusat pelatihan (training center).

Rupanya, kepiawaian berceramah yang diberikan Allah Ta’ala kepada Abdullah Said menjadikan ia tak merasa sulit mengajak anak-anak muda tersebut bergabung bersamanya. Hanya saja, Abdullah Said merasa itu saja belum cukup. Beliau masih harus mengajak sejumlah anak muda berpengalaman dari Tanah Jawa untuk ikut berjuang bersamanya di sini.

Lagi-lagi, Allah Ta’ala memberi jalan kemudahan baginya. Tercatatlah sejumlah nama seperti Hasan Ibrahim, santri Pesantren Krapyak yang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, Muhammad Hasyim HS, yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor, dan Muhammad Nazir Hasan yang ketika itu juga sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah,  semua bersedia membantu Kiai Abdullah Said mewujudkan impiannya membangun kampung perkaderan di Balikpapan.

Tanggal 1 Muharram 1393 Hijriyah atau 5 Februari 1973, Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Abdullah Said  sebuah tempat di Karang Bugis, Kalimantan Timur, yang kemudian menjadi sebuah pesantren dan diberi nama Hidayatullah.

Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Hidayatullah meskipun pusat pembinaan kemudian dipindahkan dari Karang Bugis ke Gunung Tembak pada 1976. Dari Gunung Tembak inilah justru cerita tentang Hidayatullah dimulai.

Tekad untuk mewujudkan cita-cita membangun sebuah kampung perkaderan semakin menguat ketika Kiai Abdullah Said mendapat suntikan semangat dari Buya Hamka saat berkunjung ke Balikpapan. “Teruskan usaha ini Nak. Ini adalah usaha yang mulia,” ujar Buya Hamka sambil menepuk-nepuk bahu Abdullah Said.

Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, cita-cita Abdullah Said bukan lagi sekadar membangun kampung perkaderan, namun membangun peradaban Islam. Cita-cita ini tertulis jelas dalam visi organisasi Hidayatullah yang dirumuskan kemudian.  (Bersambung)

Rep: Mahladi
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

sidang praperadilan

JPU Tak Hadirkan Alfian, Sidang Ditunda

Fraksi PKS Jakarta Usulkan Perda Kawasan Tanpa Rokok

Fraksi PKS Jakarta Usulkan Perda Kawasan Tanpa Rokok

Kemenag: Seleksi Imam Masjid untuk Uni Emirat Arab Kembali Dibuka

Kemenag: Seleksi Imam Masjid untuk Uni Emirat Arab Kembali Dibuka

Gus Wahid: NU-Salafi Bersaudara, Sama-sama Islam

Gus Wahid: NU-Salafi Bersaudara, Sama-sama Islam

Kasus M Kece dinilai Menghina Islam, MUI Mengecam, Desak Polisi Tangkap Pelaku

Kasus M Kece dinilai Menghina Islam, MUI Mengecam, Desak Polisi Tangkap Pelaku

Baca Juga

Berita Lainnya