Kamis, 9 Desember 2021 / 4 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

ICW: Eks Koruptor Emir Moeis Jabat Komisaris, Bentuk Kemunduran BUMN

Bagikan:

Hidayatullah.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) angkat bicara terkait penunjukan eks napi korupsi atau koruptor proyek pembangunan PLTU ditarahan Lampung Izedrik Emir Moeis oleh Kementerian BUMN untuk menjadi komisaris PT Pupuk Iskandar Muda.

Koordinator ICW Adnan Topan Husodo mengaku tak habis pikir apakah tidak ada orang lain yang memiliki kemampuan untuk mengisi jabatan tersebut. “Mosok nggak ada calon lain yang lebih kredibel untuk ditunjuk. Kok sepertinya kita kekurangan orang yang bagus, bersih dan kompeten,” kata Adnan seperti melansir media Suara, Jumat (06/08/2021).

Menurut, Adnan penunjukan Emir Moeis itu sebagai salah satu bentuk kemunduran BUMN di Indonesia dalam pengelolaan pengisian jabatan. “Karena adanya pembiaran soal rangkap jabatan yang massif, korupsi yang kerugiannya harus ditambal oleh APBN melalui skema-skema tertentu, termasuk merekrut komisaris (pengawas) dari latar belakang eks napi korupsi,” ujarnya.

“Tidak heran kalau BUMN kita sebagian besarnya tidak berkinerja baik,” imbuhnya.

Adnan menuturkan langkah tersebut sudah melanggar prinsip dasar dari pemerintahan yang kredibel. “Jadi saya kira ada pemakluman terhadap korupsi yang membuat para eks napi korupsi bisa menjadi pejabat publik lagi,” tutup Adnan.

Informasi ini dibenarkan dengan adanya nama dan foto Emir Moeis yang terpampang di laman resmi Pupuk Iskandar Muda, pim.co.id. Dari informasi tersebut menjelaskan, Emir Moeis resmi menjabat sebagai komisaris perusahaan sejak 18 Februari 2021 lalu.

Untuk jabatan komisaris utama dan independen Pupuk Iskandar Muda masing-masing dijabat oleh Bambang Rantam Sariwanto dan Marzuki Daud.

Untuk diketahui, Emir Moeis merupakan mantan Bendahara Umum PDI Perjuangan. Dia juga sempat menjabat anggota DPR RI selama tiga periode.

Moeis dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp150 juta oleh Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terkait kasus suap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan, Lampung Selatan.

Emir Moeis terbukti korupsi dengan menerima suap US$423 ribu dariAlstom Power Incorporated (Amerika Serikat) supaya konsorsium Alstom Inc., Marubeni Corporation (Jepang), dan PT Alstom Energy System (Indonesia) memenangkan proyek pembangunan 6 bagian Pembangkit Listrik Tenaga Uap 1.000 megawatt di Tarahan.

Vonis terhadap Emir saat itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum KPK, yakni empat tahun enam bulan penjara. JPU juga menuntut Emir dengan membayar denda Rp200 juta subsider 5 bulan kurungan penjara.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

habib bahar bebas

Sudah Bebas, Habib Bahar Akan Jenguk Habib Rizieq dan Siap Lanjutkan Dakwah

MUI Luncurkan TV untuk Mudahkan Sosialisasi Fatwa dan Produk halal

MUI Luncurkan TV untuk Mudahkan Sosialisasi Fatwa dan Produk halal

Pemuda Muhammadiyah: Karikatur Jakarta Post hina Islam

Pemuda Muhammadiyah: Karikatur Jakarta Post hina Islam

PKS Dukung Dibentuknya Badan Perwakilan Perlindungan TKI

PKS Dukung Dibentuknya Badan Perwakilan Perlindungan TKI

Capres-Cawapres, PKS akan Perjuangkan Aspirasi Ulama dan Umat

Capres-Cawapres, PKS akan Perjuangkan Aspirasi Ulama dan Umat

Baca Juga

Berita Lainnya