Ahad, 26 September 2021 / 18 Safar 1443 H

Nasional

HNW:  Usulan Dekrit untuk Perpanjang Masa Jabatan Presiden Menjerumuskan Presiden Jokowi

Dr. Hidayat Nur Wahid
Bagikan:

Hidayatullah.com — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid (HNW) mengkritik pihak-pihak yang ingin menjerumuskan Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, sejumlah pihak mengusulkan dekrit memperpanjang masa jabatan Presiden Joko Widododo menjadi 3 periode  dengan alasan darurat pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (Mahutama) untuk memperingati dekrit presiden Soekarno pada 5 Juli 1959 pada Senin (5/7).  HNW sapaan akrabnya mengutarakan bahwa dekrit merupakan tindakan inkonstitusional yang dilakukan karena negara dalam kondisi darurat, suatu hal yang seharusnya dihindari oleh setiap kepala negara.

Menurutnya, Covid-19 adalah pandemi yang juga melanda dunia, tidak terkecuali AS, New Zealand, Iran dll. Tidak ada negara manapun yang menunggangi Covid-19 untuk kepentingan kekuasaan politik jangka pendek seperti untuk lahirkan dekrit perpanjangan masa jabatan presiden, yang sesungguhnya justru gagal mengatasi Covid-19.

Dalam praktek ketatanegaraan Indonesia, kata HNW, setidaknya ada dua kali dekrit disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia. “Pertama, dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959 dan Presiden Gus Dur pada 23 Juli 2021,” ujarnya.

Dekrit yang dilakukan oleh Presiden Soekarno yang membubarkan dewan konstituante dan menyatakan kembali ke UUD NRI 1945 bisa dilaksanakan, walau sempat ada berbagai penolakan. Sedangkan, dekrit atau maklumat yang diterbitkan oleh Presiden Gus Dur yang di antaranya membekukan DPR dan MPR tidak berhasil dijalankan, dan bahkan mengakibatkan Presiden Gus Dur lengser dari jabatannya lebih awal.

“Dengan usulan dekrit kepada Presiden Joko Widodo, kita tentu tidak ingin terulang kejadian dekrit Bung Karno yang setelah dekrit malah memberangus kehidupan demokrasi dan membubarkan Partai Politik, kita tentu juga tidak ingin terulang yang terjadi terhadap Presiden Gus Dur, yang kala itu juga dibisiki oleh sekitarnya untuk mengeluarkan dekrit, yang malah berdampak negatif pada Gus Dur,” ujarnya. “Dan wacana dekrit untuk memperpanjang masa jabatan Presiden Jokowi itu, tentu juga malah memecah focus dan dapat menghadirkan kegaduhan baru di tengah pandemi Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, dan yang mestinya kita hadapi secara kompak dan bersama-sama, ” tambah dia.

HNW menegaskan bahwa dekrit Presiden, apalagi untuk memperpanjang masa jabatan Presiden, sudah tidak relevan lagi dilakukan di era sekarang, dimana ketentuan UUD NRI 1945 sangat jelas dan tegas, serta demokrasi sudah semakin tumbuh, dan kesadaran masyarakat terhadap demokrasi semakin meningkat. Menurutnya, saat Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit, Indonesia baru beberapa tahun merdeka dan republik ini masih relatif muda.

“Dengan pengalaman berdemokrasi dan menghidupi konstitusi secara matang, kita Bangsa Indonesia saat ini sudah meyakini bahwa cara-cara inkonstitusional dengan dalih dekrit semacam itu tidak bisa dilakukan di era Reformasi seperti saat ini, apalagi dengan adanya ketentuan psl 6A, psl 7, 22E dan psl 37 yang sangat jelas dan tegas mengatur soal2 itu,” ujarnya.

Meski begitu, HNW mengatakan bangsa ini juga perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari dekrit yang disampaikan oleh Presiden Soekarno. Di dalam dekrit tersebut, Presiden Soekarno menghidupkan dan mengakui konstitusionalnya Piagam Jakarta, bahkan Bung Karno menyebutkan dengan tegas meyakini bahwa Piagam Jakarta, 22 Juni 1945,  menjiwai UUD NRI 1945 dan merupakan suatu kesatuan tak terpisahkan dari UUD 45 itu.

Hal ini menunjukan bahwa ketentuan-ketentuan dalam 4 alinea dari Piagam Jakarta –yang pada ta18/8/1945 disebut sebagai Pembukaan UUD 45– adalah konstitusional, termasuk pembelaan terhadap kemerdekaan (Palestina) dan penolakan thd penjajahan (Israel) sebagaimana dinyatakan pada alinea ke empat dan pertama. Juga bahwa dengan Dekrit 5 September 1959 itu ditolaklah pendikotomian antara nasionalisme dan keislaman, karena Piagam Jakarta yang disahkan hasilnya olh BPUPK pada sidang keduanya tgl 10-14 Juli 1945 adalah kompromi yang legal konstitusional antara tokoh-tokoh nasionalis kebangsaan dengan tokoh-tokoh nasionalis keagamaan baik Islam maupun Kristen.

“Jadi, apabila kita memperingat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka salahsatu pelajaran yang harus kita ambil adalah hadirnya kenegarawanan dari Presiden Soekarno, dekritnya bukan untuk memperpanjang kekuasaannya sendiri, tetapi Proklamator dan Bapak Bangsa yang dikenal sebagai tokoh nasionalis itu, tidak fobia kepada Piagam Jakarta dan karenanya tidak mabuk anti-agama,” kata HNW. “Dan karenanya pula tidak mendikotomikan antara Negara dan agama, antara Pancasila dan al-Quran. Beliau menerima semuanya dalam harmoni untuk hadirkan solusi, “ tambah dia.

Jadi menurut HWN, dekritnya Bung Karno untuk menyelamatkan Indonesia Raya. “Itu lah salah satu sebab mengapa waktu itu Dekrit 5 Juli bisa diterima dan diberlakukan. Dan itu pasti berbeda dengan manuver pewacanaan dekrit untuk memperpanjang masa jabatan Presiden Jokowi, yang ditolak itu, ”pungkasnya.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

International Islamic Fair 2016 Akan Digelar di Indonesia

International Islamic Fair 2016 Akan Digelar di Indonesia

Sofjan Wanandi: Minoritas Jangan Takut, Pak Luhut Beri Jaminan

Sofjan Wanandi: Minoritas Jangan Takut, Pak Luhut Beri Jaminan

Menag: 2018, Kerukunan Antarumat Beragama Terjaga Baik

Menag: 2018, Kerukunan Antarumat Beragama Terjaga Baik

Bandar Narkoba Keroyok Polisi, Mensos: Masyarakat Harus Ikut Laporkan Temuan Narkoba

Bandar Narkoba Keroyok Polisi, Mensos: Masyarakat Harus Ikut Laporkan Temuan Narkoba

Pemerintah dan DPR Sepakati Dua Alternatif Definisi “Terorisme”

Pemerintah dan DPR Sepakati Dua Alternatif Definisi “Terorisme”

Baca Juga

Berita Lainnya