Sabtu, 23 Oktober 2021 / 17 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

DPR Sarankan Pemerintah Kejar Pajak Perusahaan Teknologi dan Pangkas Gaji Direksi BUMN

istimewa
Ketua Kapoksi Fraksi Nasdem Komisi XI DPR RI Fauzi H Amro
Bagikan:

Hidayatullah.com- Pemerintah berencana akan menjadikan bahan pokok atau sembako serta biaya pendidikan untuk dikenakan sebagai objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui revisi Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Wacana ini menuai penolakan anggota DPR RI, di antaranya Ketua Kapoksi Fraksi Nasdem Komisi XI DPR RI yang membidangi masalah keuangan, Fauzi H Amro. Fauzi menilai, kebijakan itu sangat kontraproduktif dengan program pemerintah dalam melakukan pemulihan ekonomi di masa pandemi.

“Kebijakan ini sangat tidak tepat dilaksanakan saat ini, mengingatkan masyarakat masih diperhadapkan pada kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Daya beli masyarakat saat ini belum pulih. Nah kalau sembako dikenai pajak, otomatis harga barang-barang di tingkat konsumen juga akan ikut naik, sehingga daya beli akan kembali tertekan, padahal daya beli ini dibutuhkan untuk pulih dari pandemi Covid-19,” kata Fauzi lewat keterangan persnya di Jakarta (13/06/2021).

Disebutkan, jika sembako dan biaya sekolah atau pendidikan dikenai pajak PPN akan semakin menyulitkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang serba susah. Semestinya kebijakan Pemerintah hadir meringankan beban rakyat bukan menyusahkan rakyat.

Sembako adalah komoditas yang penting bagi masyarakat, demikian halnya pendidikan, itu adalah hak asasi yang dijamin Undang-Undang, tak boleh diliberalisasi diserahkan pada mekanisme pasar. Negara, katanya, mesti hadir dalam pelayanan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang terjangkau.

Beberapa waktu lalu, sebutnya, Pemerintah memberikan stimulus Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas pembelian mobil baru (PPnBM) dikurangi bahkan sampai 0%. Tapi rakyat malah dikenai pajak sembako dan biaya pendidikan ikut dipajaki. Kebijakan ini sangat tidak adil, karena targetnya menyasar ekonomi kecil ke bawah.

“Karenanya, kami Fraksi Nasdem DPR RI solid menolak kebijakan pajak sembako dan pajak biaya pendidikan karena akan semakin membebani ekonomi rakyat dan makin membuat daya beli masyarakat semakin tertekan,” tegas alumnus HMI ini.

Alumnus IPB ini pun mendesak Pemerintah sesegera menarik dan membatalkan draf revisi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) terkait pengenaan PPN bahan pokok dan biaya pendidikan.

Menurutnya, dampak dari penerapan PPN ini bukan saja membebani masyarakat kelas menengah ke bawah, tapi  berpotensi dapat meningkatkan angka kemiskinan, serta kontraproduktif dengan upaya pemulihan ekonomi.

“Hingga saat ini Komisi XI DPR RI belum mendapatkan draf mengenai perubahan ketentuan umum perpajakan, mungkin drafnya masih berada pada Pimpinan DPR RI, namun saya sudah mendengar keluhan masyarakat akan rencana tersebut, sehingga kami sebagai wakil rakyat akan menolak jika ketentuan pajak tersebut membebani masyarakat,” ujarnya.

Fauzi menyarankan, Kemenkeu dan Pemerintah mestinya lebih kreatif dalam menambal kekurangan APBN di sektor pajak tapi bukan dengan cara menarik pajak sembako dan biaya pendidikan.

Misalnya, sebut dia, mencari sumber pendapatan lain misalnya mengejar pajak perusahan-perusahaan teknologi yang beroperasi di Indonesia seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, Netflix, dan lain-lain serta pajak Pajak Penghasilan (PPh) bagi pelaku ecommerce atau toko online, marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Gojek, Grab, dan lain-lain.

Kedua, Pemerintah juga bisa memangkas gaji para Direksi dan Komisaris BUMN yang dikenal cukup besar bahkan mencapai miliar rupiah dalam setahun. Kemudian Kemenkue juga mesti melakukan reformasi dan memperbaiki sistem data base perpajakan melalui digitalisasi pajak, sehingga semua wajib pajak terdata dengan baik dan memudahkan pegawai pajak untuk menarik pajak.

Selain itu, penerimaan pajak masih bisa digenjot dengan cara selain menaikkan tarifnya, mengingat harga komoditas di internasional juga sudah mulai membaik. Penerimaan dari sisi pabean juga menunjukkan tren positif. Jadi pilihan menaikkan tarif itu pilihan tepat untuk mengenjot pendapatan pajak.

“Jadi tak perlu sembako dan biaya pendidikan dikenai pajak, terlebih disaat masyarakat sedang mengalami kesulitan ekonomi karena pandemi Covid-19,” tandasnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Usulkan WTS Legal Berserfikat, Ahok Dikecam Netizen

Usulkan WTS Legal Berserfikat, Ahok Dikecam Netizen

Baitul Maal Hidayatullah Kembali Gelar Jambore Anak Sholeh

Baitul Maal Hidayatullah Kembali Gelar Jambore Anak Sholeh

Sepekan Pasca Gempa, Korban Luka Bakar Baru Tertangani

Sepekan Pasca Gempa, Korban Luka Bakar Baru Tertangani

Pemerintah Harus Lebih Utamakan Blokir Situs Berkonten Ekstrem dan Teror

Pemerintah Harus Lebih Utamakan Blokir Situs Berkonten Ekstrem dan Teror

Muslim Diserang lagi, Pegiat HAM ajak Boikot SEA Games 2013 di Myanmar

Muslim Diserang lagi, Pegiat HAM ajak Boikot SEA Games 2013 di Myanmar

Baca Juga

Berita Lainnya