Kamis, 10 Juni 2021 / 29 Syawwal 1442 H

Nasional

Rencana Pemerintah Beri Pajak untuk Sembako, Dapat Penolakan di DPR

pajak sembako
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pemerintah berencana untuk menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) atas bahan pokok dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan seperti sembako. Hal itu kemudian memicu kontroversi, serta dapat kritikan dari DPR.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Fathan Subchi menilai wacana ini tidak tepat karena akan menggangu pemulihan ekonomi. “Kami paham bahwa pemerintah harus memperluas basis pajak untuk meningkatkan pendapatan negara. Namun ketika wacana ini disampaikan dalam waktu yang kurang tepat apalagi menyangkut bahan pokok yang menyangkut hajat hidup orang banyak, maka hal itu hanya akan memicu polemic yang bisa mengganggu upaya pemulihan ekonomi,” kata Fathan, Rabu (09/06/2021).

Fathan mengatakan DPR RI telah menerima Rancangan Undang-Undang (RUU) Kententuan Umum Perpajakan (KUP). Dalam RUU KUP itu dijelaskan ada tiga opsi skema tarif untuk menetapkan PPN Bahan Pokok yakni tarif umum dipatok 12%, tarif rendah sesuai skema multitarif 5%, dan tarif final dipatok 1%.

“Skema penetapan tarif PPN untuk komoditas bahan pokok ini pertama kali dimunculkan karena di undang-undang sebelumnya 11 bahan pokok bebas pajak, bahkan Mahkamah Konstitusi (MK) melebarkan pemaknaan 11 bahan pokok itu menjadi apapun komoditas yang vital bagi masyarakat,” ujarnya.

Fathan mengakui jika di beberapa negara lain sembako juga menjadi objek pajak. Kendati demikian apa yang terjadi di negara tidak bisa diterapkan begitu saja di Indonesia.

“Ada perbedaan konteks seperti stabilitas harga komoditas, kepastian serapan pasar hasil panen, dan beberapa indikator lain yang kebetulan di Indonesia masih belum stabil,” ungkapnya

Sekretaris Fraksi PKB ini mengungkapkan rata-rata harga komoditas bahan pokok di Indonesia masih belum stabil. Dia mencontohkan fluktuasi harga gabah yang kerap merugikan petani. Pun juga serapan hasil panen beberapa komoditas bahan pokok yang kerap belum terjamin.

“Kalo mau menaikan pajak harus diimbangi kemampuan pemerintah dalam menstabilkan harga termasuk memastikan serapan hasil panen,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra Kamrussamad menanggapi RUU tersebut dengan mengatakan, RUU tersebut sampai saat ini belum ada pembahasan antara DPR dan Pemerintah.

“Kami akan menolak jika ada kewajiban perpajakan baru yang membebani rakyat, karena daya beli belum sepenuhnya membaik, ekonomi masih megap-megap, pengangguran, dan kemiskinan semakin bertambah. Pendapatan rumah tangga menurun, kok kebutuhan bahan pokok mau dipajakin,” ujar Kamrussamad.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Lokalisasi Dolly Direncanakan Ditutup Sebelum Ramadhan

Lokalisasi Dolly Direncanakan Ditutup Sebelum Ramadhan

LPPOM MUI Ajak Pelajar Sebarkan Pentingnya Konsumsi yang Halal-Thayyib

LPPOM MUI Ajak Pelajar Sebarkan Pentingnya Konsumsi yang Halal-Thayyib

DD Jabar-Sinergi Foundation Gelar Training Guru Honorer se-Kabupaten Karawang

DD Jabar-Sinergi Foundation Gelar Training Guru Honorer se-Kabupaten Karawang

Rais Am PBNU Ajak Pengurus Baru Lakukan Riyasah Waqiyadatil Ulama

Rais Am PBNU Ajak Pengurus Baru Lakukan Riyasah Waqiyadatil Ulama

Riset Obat Herbal Tak Pernah Terpublikasi

Riset Obat Herbal Tak Pernah Terpublikasi

Baca Juga

Berita Lainnya