Ahad, 11 April 2021 / 28 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kita Butuh UU Untuk Menangkal Paranoia Ala Komisaris PT Pelni

Komisaris Pelni
Bagikan:

Hidayatullah.com — Pernyataan salah satu Komisaris PT PELNI nyata sudah merupakan bentuk kesemena-menaan terhadap alim ulama. Betapa mudahnya dewasa ini berbagai kalangan membangun mindset paranoia dan mencerca guru-guru pengajar kebenaran dengan berbagai sebutan yang mengecilkan hati. Padahal, saya yakin, julukan-julukan merendahkan itu diberikan tanpa disertai pemahaman yang sungguh-sungguh dari sang komisaris tentang sikap hidup dan isi pengajaran para cerdik cendekia tersebut.

Pembatalan acara dengan dalih tak berizin (oleh komisaris) adalah tidak sebanding dengan pentingnya pencerahan-pencerahan relijius bagi para karyawan PT PELNI, terlebih di masa bulan suci Ramadhan. Pembatalan tersebut tampaknya lebih merefleksikan ketakutan tak berdasar yang bertemu dengan hasratnya membangun popularitas yang ilusional belaka. Saya katakan ilusional karena apa yang sang komisioner sangkakan adalah tidak berkesesuaian dengan kenyataan.

Alih-alih membatalkan, sang komisaris sepatutnya mengingatkan panitia sekaligus memudahkan perizinan serta memperkuat penyelenggaraan acara tersebut sehingga berizin dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat.

Dengan gambaran sedemikian rupa, timbul persepsi bahwa penistaan terhadap nama baik alim ulama–setidaknya–adalah sama buruknya, sama jahatnya, dengan penyerangan terhadap fisik guru-guru agama kita seperti yang terjadi pada beberapa peristiwa di waktu lalu.

Saya menyarankan sang komisioner meluangkan waktu untuk menyimak acara dimaksud. Simak pencerahan para penceramah di situ, lalu tunjukkan kepada publik di sisi mana sang komisioner berhasil menemukan ajaran-ajaran radikalisme yang ia takutkan itu.

Pada titik inilah kita disadarkan kembali akan mendesaknya negara memiliki semacam Undang-Undang Perlindungan dan Penyejahteraan Pemuka Agama. Profesi mereka patut dihormati. Dan para penyandang profesi itu pun sudah seharusnya dimuliakan. UU dimaksud tidak hanya bermanfaat untuk melindungi para pemuka agama dari pernyataan dan perlakuan nista, tapi juga memberikan landasan bagi negara untuk menaikkan standar kelayakan hidup para pemuka agama. UU tersebut juga akan membangun baku mutu tentang bagaimana para pemuka agama dapat terus-menerus berkiprah konstruktif bagi kehidupan masyarakat di Tanah Air.

RUU Perlindungan dan Penyejahteraan Pemuka Agama masuk dalam Prolegnas 2021. Dengan memanfaatkan masa-masa reses untuk menyerap aspirasi para pemuka agama dan membaca kebutuhan publik, saya berharap besar DPD, DPR, dan Pemerintah akan dapat memfinalisasi pembahasan RUU tersebut selekas mungkin.*

Abdul Rachman Thaha, anak guru mengaji dan Anggota Komite I DPD RI

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Deklarasi Hapus Buta Huruf Qur’an Warga Binaan LP se-Indonesia

Deklarasi Hapus Buta Huruf Qur’an Warga Binaan LP se-Indonesia

Haedar: Pemuda Muhammadiyah Jaga Independensi dari Kepentingan Politik

Haedar: Pemuda Muhammadiyah Jaga Independensi dari Kepentingan Politik

Suryadharma: Umat Islam Tak Halangi Pendirian Rumah Ibadat

Suryadharma: Umat Islam Tak Halangi Pendirian Rumah Ibadat

Menag: LGBT Tidak Dapat Diterima di Indonesia

Menag: LGBT Tidak Dapat Diterima di Indonesia

Gempa NTB, Jumlah Korban Terus Bertambah

Gempa NTB, Jumlah Korban Terus Bertambah

Baca Juga

Berita Lainnya