Ahad, 24 Oktober 2021 / 17 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

Muhammadiyah Mengatakan Terorisme di Indonesia Sulit Dihentikan, Kenapa?

Ketua Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia PP Muhammadiyah Dr Trisno Raharjo
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan tindak pidana terorisme tidak dapat atau sulit dihentikan di Indonesia. Hal ini karena pola penanganan di luar sistem peradilan pidana mematikan, bukan melumpuhkan.

“Pertama, pola penanganan di luar sistem peradilan pidana yang lebih kepada mematikan bukan melumpuhkan,” kata Ketua Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia PP Muhammadiyah Dr Trisno Raharjo pada diskusi dengan tema terorisme, HAM dan arah kebijakan negara yang disiarkan secara virtual di Jakarta, Jumat (2/4/2021), dikutip laman Antara News.

Ia menyebutkan dari 131 terduga atau tersangka teroris termasuk kasus Siyono, pada umumnya penindakan lebih kepada mematikan bukan melumpuhkan. Selama ini sistem peradilan penanganan tindak pidana terorisme selalu terpusat. Padahal tidak ada pasal yang mengatur untuk hal ini. Sebagai contoh jika ada penangkapan terduga kasus terorisme di Medan atau Makasar maka dibawa ke Jakarta.

Kalau pun ingin dibawa ke Jakarta, maka sidangnya harus tetap dikembalikan ke masing-masing tempat. Tujuannya, agar tidak terjadi ruang sunyi persidangan. “Ruang persidangan terorisme itu saya katakan adalah ruang sunyi persidangan,” kata dia.

Di satu sisi, Trisno memahami tujuan tersebut agar tidak ada gangguan jalannya proses persidangan. Kendati demikian, ke depan hal itu harus dipertimbangkan. Ruang sidang yang sunyi justru menjadikannya jauh dari keterbukaan dalam persidangan.

Di Amerika Serikat kasus tindak pidana terorisme dianggap sebagai sebuah perang sehingga tidak mau dibawa ke meja peradilan sipil. Kemudian, alasan kenapa tindak pidana terorisme sulit dicegah karena pengawasan dari DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) masih lemah, termasuk pula kegagalan program deradikalisasi.

Menurut dia, program deradikalisasi perlu dievaluasi secara mendasar. Sebab, sasaran-sasaran yang akan dideradikalisasi tersebut atau programnya tidak optimal untuk dikembangkan. Terakhir, menimbulkan rasa takut dan memiliki “jaringan” sebagai komoditi. Ada anggaran pencegahan, ada penindakan atau ada juga pesanan yang kaitannya dengan satu program yang muncul.*

Rep: Ahmad
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Indonesia akan Bangun Rumah Sakit di Gaza

Indonesia akan Bangun Rumah Sakit di Gaza

Kemenag: MTQ Jangan Jadi Rutinitas yang Kehilangan Makna

Kemenag: MTQ Jangan Jadi Rutinitas yang Kehilangan Makna

Sudah 21 Kasus Penyerangan Pemuka Agama dan Sarana Ibadah…

Sudah 21 Kasus Penyerangan Pemuka Agama dan Sarana Ibadah…

PKS: Indonesia Darurat LGBT dan Miras

PKS: Indonesia Darurat LGBT dan Miras

Menag Apresiasi Program MUI Siapkan 50 Ribu Dai

Menag Apresiasi Program MUI Siapkan 50 Ribu Dai

Baca Juga

Berita Lainnya