Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Muhammadiyah Banyak Mewarisi Khazanah Pemikiran Buya Hamka yang Berkemajuan

Mantan Ketua MUI pertama, Buya HAMKA
Bagikan:

Hidayatullah.comSosok Abdul Malik Karim Amrullah atau yang karib disapa Buya Hamka, adalah sosok spesial di Muhammadiyah. Buya Hamka telah menghadirkan pemikiran dan sikap yang damai, bersamaan dengan sikap kritis dan pemikiran maju.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat menjadi pembicara di Seminar Antar Bangsa bertajuk ‘Pemikiran Buya Hamka di Alam Melayu’ yang diadakan Institute Darul Ehsan (IDE), Malaysia. Haedar menyebut Buya Hamka merupakan sosok yang berwibawa dan memikat. Haedar muda, kala itu begitu mengagumi Buya Hamka, dirinya takjub dan ingin sesering mungkin ketemu dengan sosok ulama karismatik ini.

“Kita beruntung karena Buya Hamka mewarisi khazanah, mozaik dan karya-karya yang begitu banyak. Termasuk karya terbesar yakni Tafsir Al Azhar,” kata Haedar pada Sabtu (13/03/2021)

Di Muhammadiyah, kata Haedar, pemikiran Buya Hamka selain multi dimensi juga utuh. Pemikiran Buya Hamka tentang keislaman, beliau memiliki pemikiran yang modernis, reformis, dan maju atau dalam diksi di Muhammadiyah disebut dengan Islam Berkemajuan.

Dalam Buku Tasawuf Modern, Haedar menjelaskan, Buya Hamka bukan hanya membahas masalah jiwa dan ruhani, tapi juga terkait dengan kemerdekaan berpikir. Pemikiran berkemajuan yang ditampilkan Buya Hamka dalam buku tersebut terlihat ketika dirinya mengkritik para pemuka agama yang berpikiran jumud.

“Kritik dia sangat keras di situ, dan dia mengajak untuk bagaimana kita menyatukan pemikiran antara kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkehendak, dan kemerdekaan jiwa,” imbuhnya.

Pada tahun 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta, Buya Hamka memberikan ceramah yang kemudian dibukukan dengan judul “Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian”. Menurut Haedar, materi yang disampaikan oleh Buya Hamka kala itu menunjukkan bahwa pemikirannya melintasi masanya dan melakukan otokritik kepada pemuka agama yang jumud dan terpenjara oleh pemikiran konservatif.

“Buya Hamka juga mozaik di dalam dunia politik, kalau kita cari bagaimana posisi berpikir poltik Buya Hamka, sesungguhnya dia berada di posisi yang disebut sebagai Islamic Modernism dalam politik,” lanjut Haedar.

Bahkan yang dilakukan oleh Buya Hamka bukan hanya meletakkan Islam sebagai value, juga karakter tasawuf menyertainya di dalam poltik, yang istilah sekarang disebut sebagai perspektif irfani. Karakter ini teruji dan terbukti ketika Ia dipenjara oleh Soekarno, dan ketika Soekarno meninggal, Buya Hamka memaafkan dan menjadi imam salat jenazah Soekarno.

“Jadi politik tanpa dendam kesumat itulah yang ditunjukkan oleh Buya Hamka. Politik damai, politik yang menghadirkan Islam sebagai dinnul rahmah (agama rahmah),” urai Haedar.

Buya Hamka di buku tersebut juga mengkritik para pihak yang mempertentangkan antara Islam dengan Pancasila, baik dari kalangan pemuka agama dan kalangan nasionalis. Buya Hamka menegaskan, dan mengatakan bahwa ‘Adalah fitnah jika Islam dan Pancasila diperlawankan, dipertentangkan.’

“Saya seorang muslim yang sejati, otentik, karena itu saya berpancasila. Dan saya seorang pancasilais sejati, dan karena itu juga saya meletakkan Islam sebagai agama yang akan membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia,” kutip Haedar menirukan Buya Hamka.*

Baca juga: Muhammadiyah Tak Temukan Kata ‘Agama’ di Peta Pendidikan Nasional 2020-2035

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Din Syamsuddin: Kriminalisasi KPK Tak Terbantahkan

Din Syamsuddin: Kriminalisasi KPK Tak Terbantahkan

Aksi Bela Ulama, Ribuan Umat Islam Kaltim Dukung FPI

Aksi Bela Ulama, Ribuan Umat Islam Kaltim Dukung FPI

Banda Aceh Dilanda Penyebaran Buku Berbau Kristenisasi

Banda Aceh Dilanda Penyebaran Buku Berbau Kristenisasi

Ada Krikil Penolakan, Penutupan Lokalisasi Maksiat di Surabaya tetap Jalan

Ada Krikil Penolakan, Penutupan Lokalisasi Maksiat di Surabaya tetap Jalan

Muhammadiyah akan Tetap Kritis Pada Pemerintah

Muhammadiyah akan Tetap Kritis Pada Pemerintah

Baca Juga

Berita Lainnya