Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kudeta Myanmar, Dinilai Perlu Langkah Konkret Pemimpin ASEAN Cegah Korban Jiwa Lagi

Israel spyware Drone Myanmar
Kendaraan Lapis Baja buatan 'Israel' dalam Kudeta Myanmar (Credit @GettyImages)
Bagikan:

Hidayatullah.com- Krisis politik yang kini tengah terjadi di Myanmar, yang berawal dari peristiwa kudeta militer (01/02/2021) terhadap pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi, dinilai bisa berkembang semakin buruk jika tidak ada upaya serius dari para pemimpin ASEAN untuk mendorong elit militer dan politik di negara itu berdialog.

“Saya melihat situasi saat ini semakin tidak terkendali, karena konflik politik ini juga dibayangi sentimen etnis yang masih tinggi, sementara di sisi lain ada gap politik antara kelompok anak muda, masyarakat, dan elite politik yang berkuasa.

Kondisi ini bisa bisa menyulitkan adanya kompromi antar pihak di Myanmar. Penggunaan kekerasan sangat mungkin akan dilakukan oleh pihak militer. Oleh sebab itu harus ada langkah konkret dari para pemimpin ASEAN untuk mencegah jatuhnya kembali korban jiwa dengan mendesak elite berkuasa di Myanmar mau menahan diri dan selanjutnya membuka dialog dengan kelompok demonstran,” ujar Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, di Jakarta, Jumat (12/03/2021).

Terhadap upaya yang telah dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan berinisiatif melalukan pertemuan dengan sejumlah menteri luar negeri negara ASEAN untuk mencari solusi terhadap krisis politik di Myanmar, Wakil Ketua Fraksi PKS ini memberikan apresiasi positif.

“Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di ASEAN, saya berharap pemerintah bisa lebih proaktif dan terus melakukan upaya hadirkan solusi atas krisis di Myanmar. Pengalaman Indonesia dalam mengelola keragaman etnis dan juga pelaksanaan pemilu yang telah beberapa kali berjalan secara damai, menjadi modal penting untuk mendorong iklim demokrasi berkembang di ASEAN. Model pendekatan ala Indonesia yang mengedepankan dialog, saya kira akan lebih didengar oleh elit berkuasa di Myamnar,” sebutnya.

Akan tetapi, Sukamta pun meminta Pemerintah Indonesia tidak segan-segan untuk bersikap tegas apabila krisis politik di Myamnmar mengarah kepada peningkatan tindak kekerasan secara lebih luas.

“Tekanan politik secara proporsional juga perlu dilakukan. Meski ada prinsip non interfere dalam komunitas ASEAN, bukan berarti menutup mata jika terjadi pelanggaran HAM terjadi. Saya kira Indonesia perlu terus mendorong penegakan HAM dan Demokrasi menjadi agenda utama ASEAN,” pungkasnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Ribuan Massa Islam Demo ke Kantor Facebook, Ini Tuntutannya

Ribuan Massa Islam Demo ke Kantor Facebook, Ini Tuntutannya

Sertifikasi Halal Berimplikasi Positif bagi Ekonomi Bangsa

Sertifikasi Halal Berimplikasi Positif bagi Ekonomi Bangsa

Banyak Pelaku Kasus Terorisme Sengaja Dipelihara

Banyak Pelaku Kasus Terorisme Sengaja Dipelihara

Dunia Tak Cukup Hanya Orang Pintar, Tapi Butuh Orang Shaleh

Dunia Tak Cukup Hanya Orang Pintar, Tapi Butuh Orang Shaleh

Warga Diminta Tak Tersulut Pencitraan Media

Warga Diminta Tak Tersulut Pencitraan Media

Baca Juga

Berita Lainnya