Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Ketua MUI KH Afifuddin Muhajir Raih Doktor Honoris Causa, Makalahnya Bahas “NKRI Menurut Syariah”

Istimewa
Ketua MUI KH Afifuddin Muhajir menerima anugerah Doktor Honoris Causa dari UIN Semarang (20/01/2021).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua MUI Bidang Fatwa Maudhuiyah dan Metodologi menerima Doktor Honoris Causa (Kehormatan) Bidang Ushul Fiqih dari UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah. Penganugerahan itu digelar pada Rabu (20/01/2021) di UIN Walisongo, Semarang.

Semula, penyelenggaraan ini dilaksanakan pada Rabu (16/12/2020) lalu. Akan tetapi, karena berbagai pertimbangan, akhirnya dilaksanakan kemarin. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Said Agil Husein Al Munawwar bertindak sebagai promotor sedangkan Rektor UIN Semarang Imam Taufiq bertindak sebagai Co-Promotor.

Rektor UIN Semarang, Imam Taufiq, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar doktor honoris causa (kehormatan) dilakukan dengan pertimbangan matang. Dari sisi akademik, penganuegrahan ini melalui proses seleksi dan uji akademik serius.

“Penganugerahan gelar doktor honoris causa ini merupakan wujud komitmen UIN Walisongo Semarang dalam memberikan apresiasi kepada putera puteri terbaik bangsa yang telah benar-benar berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia secara menyeluruh baik dalam tataran teoritis maupun praktis,” ujarnya sebagaimana rilis MUI kepada hidayatullah.com, semalam.

Menurutnya, tidak ada yang meragukan kapasitas Kiai Afifuddin Muhajir. Latar belakang beliau sebagai ulama, dosen, akademisi, wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Rais Syuriah PBNU, dan Ketua MUI Bidang Fatwa Maudluiyah dan Metodologi membuktikan itu.

Dia mengatakan, Kiai Afifuffin Muhajir punya dedikasi tinggi dalam membumikan pemikiran Islam khususnya di bidang hukum Islam secara dinamis dan terbuka. Ini sesuai dengan kebijaksanaan dan kepribadian bangsa Indonesia.

“Maka menjadi kehormatan bagi UIN Walisongo Semarang, khususnya Fakultas Syariah dan Hukum. Kami sungguh mendapatkan model fikih yang responsif terhadap problematika masyarakat kontemporer, yang tidak hanya terbatas pada persoalan ibadah, akan tetapi menjangkau bidang sosial dan politik, khususnya terkait relasi agama dan negara,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Afifuddin menyampaikan makalah berjudul “Al Jumhuriyatul Indonesiyah al muwahhadah fi mizanis syariati Dirasatun an banjasila fi dhuin nushushi wal maqashid”. Dalam makalah berbahasa Arab tersebut, ia menyampaikan tentang fokus kajian ushul fiqihnya selama ini yaitu tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai dasar dalam neraca atau pandangan teks syariah dan tujuan syariah.

Ada empat inti yang disampaikan Kiai Afif. Pertama, Pancasila sebagai dasar negara sah menurut pandangan syariat Islam. Sebagai dasar negara, Pancasila juga bukan penghalang terhadap penerapan syariat Islam di Indonesia.

Yang unik, ia menyampaikan bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa ternyata memiliki arti yang lebih dalam daripada sila pertama yang termuat pada Piagam Jakarta. Sebab, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut adalah cerminan tauhid sebagai pilar akidah Islam.

Konsekuensi dari disepakatinya sila pertama itu, maka tidak boleh ada peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa maupun sila-sila yang lain.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Peringatan Kemerdekaan Jangan Hanya  Rutinitas

Peringatan Kemerdekaan Jangan Hanya Rutinitas

Perayaan Tradisi “Yahudi” Diselenggarakan di Manado dan Surabaya

Perayaan Tradisi “Yahudi” Diselenggarakan di Manado dan Surabaya

Ormas di Semarang Ancam dan Tolak Dakwah Ustadz Somad

Ormas di Semarang Ancam dan Tolak Dakwah Ustadz Somad

kerumunan polri

Kabareskrim Baru Diharapkan Dekat dengan Umat Islam dan Ulama

DPR Apresiasi Pembatalan Bebas Visa Warga Israel ke Indonesia

DPR Apresiasi Pembatalan Bebas Visa Warga Israel ke Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya