Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Kemenag: Pesantren Harus Didirikan atau Dimiliki oleh Umat Islam

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Gedung Kantor Kementerian Agama di Jl Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat.
Bagikan:

Hidayatullah.com- Kementerian Agama menegaskan bahwa pesantren harus didirikan atau dimiliki oleh umat Islam. Demikian ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, di Jakarta, Selasa (22/12/2020), disampaikan terkait tiga Peraturan Menteri Agama (PMA) yang baru-baru ini diterbitkan Kemenag.

Kemenag menerbitkan tiga PMA tentang pesantren sebagai turunan dari Undang-Undang No 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Ketiga PMA ini telah ditandatangani oleh Menteri Agama Fachrul Razi pada 30 November 2020 lalu. “Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang, akhirnya tiga PMA yang mengatur tentang pesantren bisa diterbitkan Kementerian Agama,” ujar Waryono.

Ketiga regulasi itu adalah PMA No 30 tahun 2020 tentang Pendirian dan Penyelenggaraan Pesantren (diundangkan pada 3 Desember 2020), PMA No 31 tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren (diundangkan pada 30 November 2020), dan PMA No 32 tahun 2020 tentang Ma’had Aly (diundangkan pada 3 Desember 2020).

Menurut Waryono, penyusunan ketiga PMA ini telah melalui beberapa serial pembahasan, utamanya dengan kalangan pesantren dan ormas Islam. Selain itu, telah digelar juga tiga kali uji publik hingga akhirnya dilakukan harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan HAM.

Baca: Persis Berharap UU Pesantren Kuatkan Lembaga Pendidikan & Dakwah

Ia menjelaskan, PMA tentang Pendirian Pesantren antara lain mengatur klasifikasi pesantren, terdiri atas pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk pengkajian kitab kuning, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk Dirasah Islamiah dengan pola pendidikan Muallimin, atau pesantren yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk lain yang terintegrasi dengan pendidikan umum.

Ketiga jenis pesantren itu dapat didirikan oleh perorangan, yayasan, ormas Islam, atau masyarakat. “Pesantren harus didirikan atau dimiliki oleh umat Islam, baik yang didirikan oleh perseorangan, yayasan, ormas, maupun masyarakat,” tegas Waryono dalam keterangannya. “Pendirian pesantren wajib berkomitmen mengamalkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan berdasarkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika,” tambah Waryono.

Hal lain yang harus dipenuhi dalam pendirian lembaga pendidikan keagamaan khas Indonesia ini adalah unsur pesantren. “Penyelenggaraan pesantren harus memenuhi unsur paling sedikit: kiai, santri mukim, pondok atau asrama, masjid atau mushalla, dan kajian kitab kuning atau Dirasah Islamiyah dengan Pola Pendidikan Muallimin,” jelasnya.

Tentang PMA Pendidikan Pesantren, Waryono menjelaskan, regulasi itu di antaranya mengatur tentang jalur, jenjang, dan bentuk pendidikan pesantren. Ada dua jalur pendidikan pesantren, yaitu: pendidikan formal dan atau nonformal. Pendidikan formal dilaksanakan dalam jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, dalam bentuk satuan Pendidikan Muadalah, Pendidikan Diniyah Formal, dan Ma’had Aly.

“Pendidikan pesantren jalur non formal diselenggarakan dalam bentuk Pengkajian Kitab Kuning dan bentuk lain yang terintegrasi dengan pendidikan umum,” jelasnya.

Baca: Pesantren, Solusi Terbaik Pendidikan Era Pandemi

Ma’had Aly diatur secara khusus dalam PMA 32 tahun 2020. Ma’had Aly adalah pendidikan pesantren jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren. Ma’had Aly mengembangkan kajian keislaman sesuai kekhasan pesantren yang berbasis Kitab Kuning secara berjenjang dan terstruktur.

“Ma’had Aly menyelenggarakan pendidikan akademik pada program sarjana atau marhalah ula, magister atau marhalah tsaniyah, dan doktor atau marhalah tsalisah,” terang Waryono. “Semoga terbitnya tiga PMA ini menjadi momentum, tidak hanya terkait rekognisi, tapi juga penguatan dan pemberdayaan pesantren di masa yang akan datang,” ujarnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Oknum Anggota AU – Kopassus Bertikai, Anggota DPR Ingatkan Doktrin Tri Dharma

Oknum Anggota AU – Kopassus Bertikai, Anggota DPR Ingatkan Doktrin Tri Dharma

Sambut Idul Adha, Walikota Cilegon Tutup Hiburan Malam

Sambut Idul Adha, Walikota Cilegon Tutup Hiburan Malam

‘Lawan LGBT dengan Membimbing bukan Mengucilkan’

‘Lawan LGBT dengan Membimbing bukan Mengucilkan’

UAS Beri Nasihat Indonesia Sehat dari Penyakit Ketidakadilan dan Kezaliman

UAS Beri Nasihat Indonesia Sehat dari Penyakit Ketidakadilan dan Kezaliman

KPAI Sayangkan Masifnya Penjualan Coklat Bonus Kondom

KPAI Sayangkan Masifnya Penjualan Coklat Bonus Kondom

Baca Juga

Berita Lainnya