Selasa, 6 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

BPOM Belum Keluarkan Izin Vaksin Covid-19: Ada 3 Data Harus Dipenuhi

Bagikan:

Hidayatullah.com– Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan pihaknya belum bisa mengeluarkan izin emergency use of authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19. Ia menyatakan harus ada 3 data yang dipenuhi. Yakni data terkait mutu atau kualitas, keamanan, dan efikasi dari uji klinis I, II, dan III.

“Data mutu kami dapatkan dari inspeksi ke China dan beberapa data yang sudah diberikan Sinovac. Menunjukkan data baik dan lengkap,” kata Penny, Rabu (18/11/2020).

Data terkait keamanan dan efikasi kata Penny belum bisa didapatkan hingga pekan ketiga Desember 2020. Sebab, Indonesia belum mendapatkannya dari Sinovac dan Brasil yang telah menyelesaikan uji klinis III.

“Kami sudah menyampaikan ke bapak Presiden dan Bapak Menkes bahwa data tidak bisa didapatkan untuk minggu ketiga Desember 2020, Sehingga tidak bisa diberikan EUA pada Desember minggu kedua dan ketiga,” ujar Penny.

“Kami sudah dapat informasi dari Brasil mereka tidak bisa memberikan dan Sinovac juga tidak. Sehingga tidak lengkap. Berdasarkan data yang ada kami tidak mungkin bisa memberikan EUA pada Desember 2020,” lanjutnya.

Penny menyebut EUA kemungkinan besar baru diberikan pekan ketiga Januari 2021. Dengan data lengkap dari Sinovac, Brasil, dan data sementara dari uji klinis III di Bandung.

Presiden Jokowi sebelumnya mengungkapkan bahwa vaksinasi Covid-19 dimulai Desember 2020. Dengan EUA tak bisa diberikan, apa vaksinasi tetap dimulai akhir tahun ini? Penny menjelaskan, bisa saja. Ada ketentuan penggunaan secara restricted seperti ketentuan WHO.

Disebutkan, suatu negara bisa memulai vaksinasi dengan hanya menggunakan satu data yakni data mutu atau kualitas. Seperti yang dilakukan China ke kelompok tenaga kesehatan, militer, dan guru.

“Namun ada alternatif lain yang diikuti Kemenkes juga untuk bisa melakukan vaksinasi apabila vaksin yang diharapkan datang pada November atau Desember 2020 itu tetap bisa disuntikkan. Dengan aturan tertentu yakni penggunaan vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan tapi sudah mempunyai data terkait mutu,” jelasnya.

“Kami sudah mengkonfirmasi terkait mutu sudah memenuhi ketentuan. Lalu data terkait keamanan tapi belum terlihat efikasinya, dalam penggunaan ini bisa diberikan dengan permintaan kementerian dengan fasyankes. Yaitu dengan perluasan akses vaksin uji untuk kepentingan restricted sambil menunggu EUA,” katanya. “Ketentuan ini juga ada sejak dari vaksin ebola dan yellow fever di AS, sampai kita menunggu data EUA terkait efikasi,” terangnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo berharap sebanyak mungkin masyarakat mau melakukan vaksinasi Covid-19. “Terus kita lakukan, sosialisasi, pemberitahuan, agar nanti yang ikut vaksin itu sebanyak-banyaknya baik nanti yang ikut vaksinasi lewat program vaksinasi maupun vaksinasi mandiri,” kata Presiden Jokowi di Puskesmas Tanah Sereal Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/11/2020).

Presiden menyampaikan hal itu saat meninjau simulasi imunisasi vaksin Covid-19 di Puskesmas Tanah Sereal, Bogor bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. “Jadi ada yang tidak membayar, ada yang gratis, ada yang membayar yaitu vaksinasi mandiri, ini dua hal yang berjalan beriringan nantinya,” ungkap Presiden.

Namun harga vaksin bagi masyarakat yang melakukan vaksinasi mandiri menurut Presiden akan ditentukan Menteri Kesehatan. “Nanti (harga) ditanyakan kepada menteri kesehatan,” kata Presiden.

Rencananya vaksin Covid-19 akan diberikan secara gratis kepada petugas yang bekerja di bidang pelayanan publik, dan penerima bantuan BPJS Kesehatan usia 15-59 tahun, sedangkan vaksin mandiri nanti akan dikelola melalui BUMN Bio Farma beserta mitra-mitranya yang ditunjuk.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan terus melakukan simulasi secara terbuka agar masyarakat tahu proses penyuntikan vaksin Covid-19. “Karena itu dilakukan simulasi-simulasi secara terbuka supaya masyarakat tahu “Oh disuntik seperti ini, oh diperiksa seperti ini, oh dikontrol seperti ini” lalu apakah ada komorbid atau tidak, semuanya sehingga masyarakat menjadi jelas siapa dan apa yang akan dilakukan selalu terbuka,” kata Terawan saat menemani Presiden.

Sebelumnya diberitakan survei yang diselenggarakan oleh Kemenkes, Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF mengungkapkan masih ada 7,60 persen masyarakat di Indonesia tidak mau divaksinasi.

Masyarakat yang menyatakan tidak mau divaksin tersebut ternyata memiliki beragam alasan. Pertama, mereka tidak yakin dengan keamanannya (59,03 persen), tidak yakin dengan efektivitas vaksin (43,17 persen), (akut efek samping vaksin (24,20 persen) dan tidak percaya vaksin (26,04 persen).

Dalam survei itu juga ditemukan alasan masyarakat menolak atau tidak mau divaksin karena masalah agama sebesar 15,97 persen dan karena alasan lainnya 31,24 persen, artinya pemerintah memerlukan komunikasi dan sosialisasi yang lebih intens kepada masyarakat terutama yang menolak vaksin tersebut.*

Rep: Azim Arrasyid
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Kongres Dilanjutkan, HMI Fokus Digitalisasi Organisasi

Kongres Dilanjutkan, HMI Fokus Digitalisasi Organisasi

Habib Rizieq Belum Dapat Visa Keluar Saudi untuk Hadiri Reuni 212

Habib Rizieq Belum Dapat Visa Keluar Saudi untuk Hadiri Reuni 212

Bila Lokalisasi Tanggul Buka Lagi, Banser Siap Geruduk!

Bila Lokalisasi Tanggul Buka Lagi, Banser Siap Geruduk!

MUI Ajak Cairkan Suasana terkait Video UAS

MUI Ajak Cairkan Suasana terkait Video UAS

Din: Tidak Ada Pembatasan Gerak Perempuan Muhammadiyah

Din: Tidak Ada Pembatasan Gerak Perempuan Muhammadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya