Senin, 5 Juli 2021 / 25 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Delapan Petingginya Ditangkap Polisi, Ini Tujuh Sikap Presidum KAMI

Azim Arrasyid/hidayatullah.com
Di antara Presidium KAMI, yaitu Gatot Nurmantyo dan Din Syamsuddin, dalam Deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (18/08/2020).
Bagikan:

Hidayatullah.comKoalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) buka suara perihal delapan anggotanya yang ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Pernyataan itu tertuai dalam keterangan yang mengatasnamakan Presidium KAMI.

Dalam keterangan tersebut terdapat tanda tangan dari ketiga Presidium KAMI, Din Syamsudin, Gatot Nurmantyo dan Rochmat Wahab. Pernyataan itu berisi tujuh sikap dari Presidium KAMI terkait tanggapan penangkapan sejumlah anggota mereka.

“KAMI menyesalkan dan memprotes penangkapan tersebut sebagai tindakan represif dan tidak mencerminkan fungsi Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. KAMI menilai penangkapan delapan petinggi, khususnya Syahganda Nainggolan, aneh, tidak lazim dan menyalahi aturan,” tulis keterangan KAMI yang diterima Hidayatullah.com Rabu (14/10/2020).

“Lebih lagi jika dikaitkan dengan Pasal 1 angka 14, Pasal 17 dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP dan Putusan MK Nomor 21/PUI-XII /2014, tentang perlu adanya minimal dua barang bukti, dan UU ITE Pasal 45 terkait frasa “dapat menimbulkan” maka penangkapan para Tokoh KAMI, patut diyakini mengandung tujuan politis, dengan mengunakan Istrumen hukum,” tulis keterangan KAMI.

Adapun isi lengkap dari sikap KAMI tersebut sebagai berikut:

PERNYATAAN PRESIDIUM ATAS PENANGKAPAN PEJUANG KAMI

Bismillahirrahmanirrahim

Sehubungan dengan penangkapan Tokoh KAMI atas nama Dr. Anton Permana, Dr. Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan beberapa orang dari Jejaring KAMI Medan, dengan ini KAMI menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. KAMI menyesalkan dan memprotes penangkapan tersebut sebagai tindakan represif dan tidak mencerminkan fungsi Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. Penangkapan mereka, khususnya Dr. Syahganda Nainggolan, jika dilihat dari dimensi waktu, dasar Laporan Polisi tanggal 12 Oktober 2020 dan keluarnya sprindik tanggal 13 Oktober 2020 dan penangkapan dilakukan beberapa jam kemudian, pada hari yang sama tanggal 13 Oktober, jelas aneh atau tidak lazim dan menyalahi prosedur. Lebih lagi jika dikaitkan dengan Pasal 1 angka 14, Pasal 17 dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP dan Putusan MK Nomor 21/PUI-XII /2014, tentang perlu adanya minimal dua barang bukti, dan UU ITE Pasal 45 terkait frasa “dapat menimbulkan” maka penangkapan para Tokoh KAMI, patut diyakini mengandung tujuan politis, dengan menggunakan instrumen hukum
  2. Pengumuman pers Mabes Polri oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono tentang penangkapan tersebut KAMI nilai:
    a. Mengandung nuansa pembentukan opini (framing).
    b. Melakukan generalisasi dengan penisbatan kelembagaan yang bersifat tendensius.
    c. Bersifat prematur yaitu mengungkapkan kesimpulan dari proses pemeriksaan yang masih berlangsung.
  3. Semua hal di atas, termasuk membuka nama dan identitas seseorang yang ditangkap, menunjukkan bahwa Polri tidak menegakkan prinsip praduga tak bersalah (presumption of innocence), yang seyogia harus diindahkan oleh Lembaga Penegak Hukum/Polri.
  4. KAMI menegaskan bahwa ada indikasi kuat handphone beberapa Tokoh KAMI dalam hari-hari terakhir ini diretas/dikendalikan oleh pihak tertentu sehingga besar kemungkinan disadap atau “digandakan” (dikloning). Hal demikian sering dialami oleh para aktifis yang kritis terhadap kekuasaan negara, termasuk oleh beberapa Tokoh KAMI. Sebagai akibatnya, “bukti percakapan” yang ada sering bersifat artifisial dan absurd.
  5. KAMI menolak secara kategoris penisbatan atau pengaitan tindakan anarkis dalam unjuk rasa kaum buruh, mahasiswa dan belajar dengan Organisasi KAMI. KAMI mendukung mogok nasional dan unjuk rasa kaum buruh sebagai bentuk penunaian hak konstitusional, tapi KAMI secara kelembagaan belum ikut serta, kecuali memberi kebebasan kepada para pendukungnya untuk bergabung dan membantu pengunjuk rasa atas dasar kemanusiaan. Polri justeru diminta untuk mengusut tuntas, adanya indikasi keterlibatan pelaku profesional yang menyelusup ke dalam barisan pengunjuk rasa dan melakukan tindakan anarkis termasuk pembakaran (sebagaimana diberitakan oleh media sosial).
  6. KAMI meminta Polri membebaskan para Tokoh KAMI dari tuduhan dikaitkan dengan penerapan UU ITE yang banyak mengandung “pasal-pasal karet” dan patut dinilai bertentangan dengan semangat demokrasi dan konstitusi yang memberi kebebasan berbicara dan berpendapat kepada rakyat warga negara.
  7. KAMI mengucapkan terima kasih dan memberi penghargaan tinggi kepada berbagai pihak yang bersimpati kepada para Tokoh KAMI yang ditahan, antara lain ProDem, LBH Muslim, para akademisi/pengamat, dan para netizen serta pendukung KAMI yang terus menggemuruhkan pembebasan para Tokoh KAMI tersebut. KAMI bersyukur bahwa dengan berbagai tantangan dan ujian, termasuk penangkapan para tokohnya, KAMI semakin mendapat simpati dan dukungan rakyat. KAMI semakin bertekad untuk meneruskan Gerakan Moral Menegakkan Keadilan dan Melawan Kelaliman.

Wa Allahu al-Musta’an Merdeka!

Jakarta, 14 Oktober 2020

PRESIDIUM KOALISI AKSI MENYELAMATKAN INDONESIA, Gatot Nurmantyo, Rochmat Wahab, M. Din Syamsuddin

Diketahui sebelumnya, delapan tokoh KAMI yang ditangkap polisi itu yakni, Juliana, Devi, Wahyu Rasari Putri, Khairi Amri, Kingkin Anida, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat. Mereka ditangkap di Medan, Jakarta, Depok, dan Tangerang Selatan.

Lima orang di antaranya sudah ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan di rumah tahanan Bareskrim Polri. Mereka diduga melanggar Pasal 45 A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 160 KUHP tentang penghasutan yang ancaman hukumannya mencapai enam tahun penjara.* Azim Arrasyid

Rep: Admin Hidcom
Editor: Rofi' Munawwar

Bagikan:

Berita Terkait

Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah

Mahasiswa UMI Hafal Al Quran Diberangkatkan Umrah

Polisi Diharapkan Tidak Melulu Sebagai Penegak Hukum

Polisi Diharapkan Tidak Melulu Sebagai Penegak Hukum

Sejarawan UI: Pemimpin Seperti M Natsir Makin Langka

Sejarawan UI: Pemimpin Seperti M Natsir Makin Langka

Gerakkan Anak Muda Menjadi Dai dan Duta Wakaf

Gerakkan Anak Muda Menjadi Dai dan Duta Wakaf

Cek Kehalalan Produk Lewat Aplikasi Pro Halal MUI di HP Anda

Cek Kehalalan Produk Lewat Aplikasi Pro Halal MUI di HP Anda

Baca Juga

Berita Lainnya