Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

PKS: Tindakan Represif Aparat kepada Demonstran Penolak UU Ciptaker Melanggar HAM

Faktualnews.Co
Bagikan:

Hidayatullah.com– Aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) di berbagai daerah berujung tindakan represif aparat keamanan terhadap para demonstran. Bahkan dikabarkan sejumlah demonstran dan jurnalis dilaporkan hilang pasca aksi yang berlangsung beberapa hari belakangan ini.

Peristiwa tersebut menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu fraksi yang menolak pengesahan RUU Ciptaker menjadi Undang-Undang.

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf menyesalkan tindakan represif yang dilakukan oleh oknum aparat saat menangani demonstran tersebut. Tak sepatutnya, kata Bukhori, aparat melakukan cara kekerasan.

Bukhori menilai, aparat harus mengubah cara pandang mereka dalam menghadapi demonstran. Para demonstran tidak boleh dipandang sebagai musuh yang membuat diperlakukan dengan cara-cara di luar batas kewajaran.

“Mereka tidak boleh dipermalukan, dianiaya, bahkan direndahkan martabatnya sebagai manusia sepanjang mereka tidak melakukan tindakan yang ofensif kepada aparat maupun sekitarnya,” ujar Bukhori menegaskan di Jakarta, Jumat (09/10/2020).

Anggota Komisi VIII DPR RI ini mengimbau Polri agar segera mengevaluasi jajarannya. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga reputasi dan memelihara kepercayaan publik terhadap Polri ini.

“Kekerasan tidak boleh berulang. Rakyat dan aparat tidak sepatutnya saling dibenturkan karena ulah keserakahan oligarki yang hendak merampas kekayaan bangsa ini,” ujarnya.

Bukhori sangat menyayangkan fungsi humanis aparat belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian aparat sehingga dalam realisasinya masih terdapat kelemahan. Misalnya, kata dia, masih ditemukan sejumlah oknum aparat bertindak secara represif dalam penanganan terhadap aksi demonstrasi penolakan UU Ciptaker yang diselenggarakan di sejumlah wilayah di Indonesia beberapa hari terakhir.

“Sejujurnya saya merasa sangat pilu ketika melihat adik-adik mahasiswa kita di sejumlah daerah diperlakukan secara brutal oleh oknum aparat saat demonstrasi pada Kamis lalu. Mereka yang sudah tertangkap dalam keadaan tidak berdaya semestinya tidak diperlakukan secara kasar, apalagi sampai dianiaya secara beramai-ramai. Itu jelas pelanggaran HAM dan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Pun jika ada yang melakukan tindakan yang melanggar hukum, saya yakin mereka adalah penyusup. Polisi pasti bisa mengidentifikasi ini dan memiliki instrumen lengkap untuk merespons hal tersebut,” sambungnya.

Para mahasiswa tersebut, kata Bukhori, hanya ingin menyampaikan aspirasi masyarakat yang mereka bela. Maka tidak sepatutnya para pahlawan rakyat ini diperlakukan secara tidak manusiawi. Sebaliknya, mereka berhak diperlakukan dengan kasih sayang atas niat baik yang mereka bawa dalam aksi tersebut.

Menurut Anggota Komisi III periode 2009/2014 ini, penindakan secara tegas oleh aparat merupakan hal yang dibutuhkan apabila demonstran mulai bertindak anarkis, bahkan berpotensi menimbulkan bahaya yang meluas. Meski begitu, prosedur penindakan secara tegas oleh aparat harus dimaknai secara hati-hati dan dilakukan dengan tetap mengedepankan pendekatan humanis.

“Tindakan hard-approach sesungguhnya diperlukan ketika terlihat ada potensi bahaya di sana. Namun perlu diingat, hard-approach ini harus dilakukan dengan cara yang terukur dan beradab serta tidak boleh dipraktikan secara eksesif. Pasalnya, praktik penindakan harus sejalan dengan fungsi Polri, yakni sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat,” sebutnya.

Pada sisi lain, Bukhori mengakui mengapresiasi kinerja baik Polri dalam penanganan demonstrasi di beberapa daerah yang berlangsung kondusif.

“Saya salut dengan strategi Polri di Tuban, Jawa Timur yang berhasil mengademkan massa penolak Omnibus Law dengan cara membagikan bunga, air minum, dan permen secara gratis kepada demonstran sebagai wujud simpatik sehingga aksi berlangsung damai dan lancar. Model penanganan humanis ini lah yang harus konsisten dikedepankan oleh Polri di seluruh wilayah untuk mengantisipasi kerugian materiil sampai jatuhnya korban jiwa. Sebab, cara kekerasan hanya akan memproduksi kebencian, sedangkan kasih sayang akan menuai penghormatan,” sebutnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Kemenag Serahkan 8 KMA Penggantian Tanah Wakaf Terdampak Lumpur Sidoarjo

Kemenag Serahkan 8 KMA Penggantian Tanah Wakaf Terdampak Lumpur Sidoarjo

15 Wartawan Republika Mendadak Dipecat

15 Wartawan Republika Mendadak Dipecat

Komjak Mengaku, Segera Bahas Laporan Pemuda Muhammadiyah di Rapat Pleno

Komjak Mengaku, Segera Bahas Laporan Pemuda Muhammadiyah di Rapat Pleno

Ilham Habibie Masuk Jajaran Presidium ICMI 2010-2015

Ilham Habibie Masuk Jajaran Presidium ICMI 2010-2015

Simmons: ‘Islam Lebih Buruk dari Anjing’

Simmons: ‘Islam Lebih Buruk dari Anjing’

Baca Juga

Berita Lainnya