Dompet Dakwah Media

Elly Risman: Orang Tua Perlu Menghindari 12 Gaya Populer Terhadap Anak ini

Bunda Elly, sapaannya, mengemukakan perihal realitas baru yang harus dihadapi oleh orang tua di rumah. Tren pandemi Covid-19 hingga kini masih tinggi, anak anak belum sekolah. Semua di rumah.

Elly Risman: Orang Tua Perlu Menghindari 12 Gaya Populer Terhadap Anak ini
KPI
Elly Risman

Terkait

Hidayatullah.comOrang tua acapkali mengutamakan aspek akademik semata dengan harapan kelak anak menonjol dari sisi keduniaan namun lupa mentahtakan Allah Subhanahu Wata’ala dalam hati dan sanubarinya. Hal ini disampaikan psikolog yang juga spesialis pengasuhan anak, Elly Risman Musa, pada webinar “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam”, Sabtu (19/09/2020).

‘Masa depan itu tergantung pendidikan, bukan karena Allah’. Itu indoktrinasi yang selalu ditanamkan. Sementara kita nggak pernah mendengarkan perasaan. Coba ayah bunda menanyakan perasaan itu semua,” ujarnya sebagai salah satu pemateri pada webinar kedua pra Musyawarah Nasional V(irtual) Hidayatullah itu yang disiarkan live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID dan telah disaksikan dua ribu lebih pemirsa tersebut.

Orang tua, lanjut Elly, harus berusaha mendengarkan, memahami, dan mendeteksi perasaan anak. Meruyaknya data kasus kenakalan remaja, pergaulan bebas, atau perceraian karena disebabkan perasaan yang tidak didengarkan.

Hal itu terjadi karena orang tua menggunakan pola interaksi yang keliru kepada anak-anaknya sehingga membuat moralnya jatuh, kepercayaan dirinya ambruk, dan akhirnya menjadi terasing. Karena itu, orang tua harus memiliki waktu mendengar aktif dan menghindari 12 gaya populer yang masih kerap dilakukan kepada anak.

Elly menekankan, orang tua perlu sekali menghindari 12 gaya tersebut. Apa saja? Yaitu: memerintah anak, menyalahkan, meremehkan, membanding-bandingkan, mencap atau memberi label buruk, mengancam, menasihatinya di waktu yang tidak tepat sambil memaksanya harus menyimak dengan kata kata misalnya “dengerin mama!”.

Orang tua katanya juga jangan sekali-kali membohongi anak dengan janji yang tak ditepati, menghiburnya dengan kesenangan sementara seperti memberi uang jajan tanpa memberikan pengertian terlebih dahulu, mengkritiknya dengan kasar, menyindir dan menganalisa semua hal yang kita anggap negatif pada dirinya.

Realitas Baru saat Pandemi

Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini mengajak umat untuk merenungi kembali pentingnya keluarga. Ia menyentil kesadaran dalam kepengasuhan di masa pandemi.

Bunda Elly, sapaannya, mengemukakan perihal realitas baru yang harus dihadapi oleh orang tua di rumah. Tren pandemi Covid-19 hingga kini masih tinggi, anak anak belum sekolah. Semua di rumah.

“Kita tidak pernah jadi guru, sekarang kita harus jadi guru. Sekarang satu anak saja mata pelajarannya berbeda-beda dan sekarang kita harus menjadi guru dari sekian anak, sekian jenjang. Setelah itu kita tidak mengerti dan lebih-lebih mereka (anak) tidak mengerti. Lalu mereka tanya kita, kita nggak tahu harus jawab apa,” kata Elly.

“Sebelumnya kita sub-kontrakkan anak kita ke sekolah selama delapan jam atau ke pesantren berbulan bulan. Nanti anak ketemu kita orang tua setelah berbulan-bulan. Kita tidak tahu dan tidak pernah bersama seperti saat sekarang ini,” imbuhnya.

Dengan adanya pandemi, Elly melanjutkan, orang tua akhirnya harus jadi guru bahkan sebagai guru les serta berperan sebagai guru semua jenjang dan tidak bisa minta tolong kepada siapa-siapa.

Di sisi lain, terdapat masalah pelik dimana tidak sedikit guru-guru tidak pernah diajar bagaimana mengajar daring dan anak-anak tidak diberi instruksi sebagai bekal.

Elly kemudian mengajak peserta webinar membayangkan dan menjawab perasaan masing-masing tentang pandemi yang sudah berlangsung lama ini di secarik kertas/ kolom chat. Ada yang menjawab stres, khawatir, takut, dan lain sebagainya.

“Perasaan adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Kalau (perasaan) dikenali, apalagi dia diterima, orang itu akan merasa seluruh dirinya diterima,” imbuhnya pada acara yang disiarkan live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID dan telah disaksikan dua ribu lebih pemirsa tersebut.

Elly lalu meminta para ayah ibu untuk kembali membayangkan, selama 6 bulan masa pandemi ini tak ada yang tanya tentang perasaannya.

“Selama 6 bulan pandemi ini, ada nggak sih yang menanyakan perasaan Anda? Jangan-jangan ayah bunda juga nggak ada yang nanya perasaannya. Bercampur aduk perasaannya, apalagi sekarang dipertontonkan jenazah, kuburan, rumah sakit, 117 paramedis yang meninggal,” tukasnya.

Bunda Elly lantas menuturkan ilustrasi dengan berkisah yang memisalkan peserta, yang diwakili moderator acara, sebagai anaknya. Diasumsikan dialog ini terjadi antara orang tua kepada sang anak.

“Hidup itu dulu susah. Mama dulu itu ngerasain, Nak, sebelum melahirkan kamu, itu mama pernah ngalamin pergi antre sembako. Pernah dulu mama kecil, baju sekampung itu sama. Jadi, sulit sekali.”

“Oleh sebab itu, mama sama bapak, Nak, berusaha benar dan berjanji beritikad berdua agar bagaimana caranya kamu dan adik adikmu nak sekolah sampai ke tingkat tertinggi kalau bisa. Kenapa, kalau kau bisa sarjana, Nak, kami harapkan hidupmu akan lebih baik daripada kami.”

“Sampai di situ, kamu ngerti, Nak?”

“Jadi oleh sebab itulah mama dan papa berusaha menekankan keberhasilan akademis. Supaya sukses bahkan kalau bisa jadi pegawai negeri karena PNS itu nggak ada bangkrutnya,” lanjut Elly meneruskan analoginya.

Elly kemudian mengajak peserta webinar menarik ibrah dari tamsil yang dituturkannya tersebut. “Sampai di sini berhenti dulu menjadi anak. Jadilah orang tua,” katanya.

“Bukankah engkau, anak-anakku, selalu menekankan keberhasilan akademik anak-anakmu. Dan engkau terus mengindoktrinasi mereka untuk menjadi pegawai negeri. Dari mana, Nak? Dari mama,” ujarnya seraya mengajak berefleksi.

“Dari jaringan-jaringan otakmu yang mama bentuk sejak kecil, penting banget reputasi akademik itu. Mama, Nak, gak bisa mengenali diri mama, Nak,” lanjutnya.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Dr Hj Sabriati Aziz, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Drs Reni Susilawati, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Dr Tasyrif Amin dan dimoderatori oleh Ustadz Hanafi Usman.* (Ainuddin)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !