Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

MAA: Adat di Aceh Harus Berkembang Sesuai Syariat Islam

Muhammad abdus Syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Adat Aceh harus terus berkembang mengikuti perkembangan zaman asal sesuai dengan syariat Islam di daerah berjuluk Kota Serambi Makkah itu. Demikian dikatakan Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh.

“Adat di kota ini harus lebih berkembang dan maju, karena Banda Aceh adalah daerah yang paling cepat tersentuh oleh modernisasi sebagai ibu kota Provinsi Aceh. Jangan sampai tenggelam oleh perkembangan modern,” ujar Ameer Hamzah selaku Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Adat MAA Kota Banda Aceh, di Banda Aceh, Rabu dikutip dari Antara, Kamis (13/08/2020).

Selain itu, menurut Ameer, pihaknya juga tidak menginginkan adat yang berkembang dewasa ini agar jangan sampai kaku.

“Misalnya ada anak perempuan ke warung kopi untuk buat tugas atau kuliah, itu jangan dibatasi. Seharusnya yang dibatasi itu waktunya, karena tidak semua orang ada uang untuk beli kuota. Apa lagi yang kuliah online (daring) di masa Covid-19 ini. Dengan adanya internet di warkop sudah membantu mereka, dan mereka harus betul-betul belajar. Setelah itu, langsung pulang,” sebutnya.

MAA setempat berharap, dengan zaman yang boleh saja menjadi modern, asal adat Aceh tidak akan terlupakan di tindak-tanduk masyarakat Kota Banda Aceh.

“Kita boleh maju dan modern, tapi tidak boleh melupakan adat dan budaya Aceh. Kalau ini bisa dipertahankan di Banda Aceh, maka kota ini akan mendapatkan kejayaan tentunya dengan kekentalan agama dan adat yang kuat,” sebutnya menegaskan.

Ia mengatakan, walaupun adat Aceh terus berkembang dan maju nantinya, tapi harus sesuai dengan agama Islam yang dianut oleh penduduk mayoritas umat di provinsi paling barat Indonesia itu.

Masyarakat Aceh katanya selalu menyesuaikan praktik agama dengan tradisi atau adat istiadat yang berlaku yang terlihat dalam kehidupan sosial budaya Aceh, sehingga sulit dipisahkan antara Islam dan budaya Aceh.

“Seperti kata pepatah adat bak po teumeureuhom hukom bak syiah kuala, artinya sesuai dengan agama,” sebutnya.

Sebelumnya, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman meminta imum mukim dapat meningkatkan perannya dalam memperkuat pelaksanaan adat istiadat dan penerapan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat gampong (desa) di daerah Tanah Rencong itu.

“Kita akan canangkan Hari Adat untuk melestarikan adat istiadat. Kita dorong aparatur dan warga menggunakan bahasa Aceh, seperti dalam rapat. Makanan yang disuguhkan juga kuliner khas Aceh. Kita ingin imum mukim berperan menyukseskan program ini di kota syariat Islam,” ujarnya.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Kubu Prabowo-Hatta Janji Lawan gagasan Menginteli Masjid

Kubu Prabowo-Hatta Janji Lawan gagasan Menginteli Masjid

Anies Segel Pulau D Reklamasi karena Semua Bangunan Tak Berizin

Anies Segel Pulau D Reklamasi karena Semua Bangunan Tak Berizin

Negara Jaga Kerukunan Umat Lewat UU Penodaan Agama

Negara Jaga Kerukunan Umat Lewat UU Penodaan Agama

Sohibul Iman: DPR Jangan Jadi Tukang Stempel Kebijakan Pemerintah

Sohibul Iman: DPR Jangan Jadi Tukang Stempel Kebijakan Pemerintah

Hendardi : Memeluk Agama di Indonesia Bukan Kewajiban

Hendardi : Memeluk Agama di Indonesia Bukan Kewajiban

Baca Juga

Berita Lainnya