Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Nasional

Ketua MUI Palu: Idul Adha ‘Jalan’ Keshalehan Sosial Spiritual

Istimewa/Tribun
Ketua MUI Palu, Prof Dr KH Zainal Abidin
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg mengemukakan, Idul Adha (Hari Raya Kurban) sejatinya merupakan kesinambungan “jalan keshalehan sosial spiritual” dari Idul Fitri.

“Jika Idul Fitri merupakan manifestasi kemenangan atas nafsu, maka Idul Adha merupakan manifestasi dari ketulusan berkorban,” ujarnya di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (22/07/2020) kutip Antaranews.com.

Menurut Guru Besar Pemikiran Islam Modern IAIN Palu ini, kedua hari raya itu bermuara pada nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan keshalehan sosial berupa ketulusan memaafkan, pentingnya silaturahim dan etos berbagi yang disimbolkan dengan Zakat Fitrah pada Idul Fitri dan daging kurban pada Idul Adha.

Keduanya, kata dia, berangkat dari panggilan iman dan berbuah kemanusiaan universal, terutama aktualisasi nilai-nilai hak asasi manusia.

Kiai Zainal menjelaskan, perayaan Idul Adha adalah manifestasi ketulusan berkurban sebagai refleksi perjuangan Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail.

“Sekaligus memaknai nilai-nilai spiritual dari manasik haji,” ujarnya.

Ia menjelaskan, haji tak cuma sebagai kewajiban dan rukun kelima dalam Rukun Islam, melainkan juga sebagai ibadah sosial.

Kerinduan kepada Allah dan Nabi menjadi unsur utama dalam menjalankan ibadah ini, di sinilah mereka dikumpulkan dari berbagai ras, etnik, suku, dan bangsa.

Sehingga, kata Kiai Zainal, bangsawan dan rakyat jelata memakai pakaian yang sama, dan tidak ada yang istimewa. Perbedaan warna kulit tidak ada artinya.

Mereka pada waktu dan tempat yang sama melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Dia.

Menurutnya, di antara makna sosial haji yang menghubungkan antara manusia dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial yaitu penyadaran akan adanya kebinekaan umat Islam.

Umat Islam saat ini telah tersebar di berbagai negara dan belahan dunia. Mulai dari negara paling barat hingga paling timur. Kiai Zainal menyebut, di antara umat Islam itu ada perbedaan atau keberagaman.

Mulai dari mazhab yang paling liberal sampai mazhab yang paling fundamental, aliran kiri maupun kanan, dan lain sebagainya. Karena berbagai perbedaan itu, umat Islam disebut harus sadar bahwa kebinekaan kaum Muslimin itu tak dapat dihindari, sebab adanya perbedaan adat-budaya, pemahaman keislaman, tingkat intelektualitas, bahasa dan lain sebagainya.

“Kebinekaan umat Islam merupakan sebuah realitas yang niscaya ada,” sebut Kiai Zainal.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Demonstran Anti Korupsi di Gedung KPK Diracun?

Demonstran Anti Korupsi di Gedung KPK Diracun?

Aktivis Malari: Jangan Sembarangan Tuduh Aksi Bela Islam Bayaran

Aktivis Malari: Jangan Sembarangan Tuduh Aksi Bela Islam Bayaran

[Foto] FPI dan Umat Islam Bersihkan Sampah Lilin Bekas Demo Pendukung Ahok

[Foto] FPI dan Umat Islam Bersihkan Sampah Lilin Bekas Demo Pendukung Ahok

Hidayat Nur Wahid: Polisi Bersihkan Mushola, Jangan Diinjak Lagi!

Hidayat Nur Wahid: Polisi Bersihkan Mushola, Jangan Diinjak Lagi!

Jamaah Pengajian Surabaya akan Launching AlQuran Bahasa Madura

Jamaah Pengajian Surabaya akan Launching AlQuran Bahasa Madura

Baca Juga

Berita Lainnya