Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Nasional

PBB: Masih ada 300 Pengungsi Rohingya Terombang-ambing di Lautan

Istimewa
Rakyat Aceh menyelamatkan pengungsi Muslim Rohingya di perairan Aceh Utara. Tampak cuplikan video saat mereka tiba di pantai setelah dievakuasi dari perairan.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkapkan hingga say ini masih ada sebanyak 300 pengungsi Rohingya masih berada di lautan di kawasan. Para pengungsi Rohingya itu berusaha mencari tempat aman untuk mendarat, kaya utusan UNHCR di Indonesia Ann Mayman sebagaimana dikutip laman Anadolu Agency.

UNHCR bersiap untuk menyambut kedatangan para pengungsi Rohingya yang terkatung-katung di lautan, kata Mayman. “Saya pikir yang paling penting adalah menyelamatkan mereka,” ucap Mayman kepada Anadolu Agency, melalui sambungan telepon, pada Rabu (1/7/2020).

UNCHR, kata Mayman, selalu mendiskusikan situasi ini dengan negara-negara di kawasan untuk merespons krisis pengungsi Rohingya yang membawa mereka pergi ke lautan.  “Kita perlu menyelamatkan 300 orang yang berada di lautan itu,” kata dia.

Ia menyampaikan UNHCR saat ini bekerja sama dengan pemerintah dan mitra lokal untuk menjamin keselamatan 99 Rohingya yang terdampar di Aceh, pekan lalu, dan diterima oleh warga Aceh. “UNHCR telah menyelesaikan registrasi mereka sebagai pengungsi, dari 99 pengungsi, 56 orang di antaranya merupakan anak-anak,” tukas dia.

Mayman menduga sebanyak 99 pengungsi tersebut merupakan korban penyelundupan manusia di mana mereka meminta bantuan para penyelundup untuk mendapatkan kapal. “Jadi kemungkinan mereka berlayar dengan fasilitas para penyelundup,” tukas Mayman.

 

Namun dalam perjalanan itu, Mayman mensinyalir para pengungsi Rohingya telah diperas agar mereka bisa mengarungi lautan.  “Jadi banyak pemerasan dan eksploitasi yang dilakukan para penyelundup kepada para Rohingya,” jelas Mayman.

Pada 11 Juni lalu, Malaysia menolak sebuah kapal yang membawa sekitar 300 pengungsi Rohingya. Dalam sebuah pernyataan, penjaga pantai Malaysia mengatakan kapal yang telah melaut selama lebih dari tiga bulan itu dicegat oleh kapal patroli ketika berusaha memasuki perairan Malaysia.

Orang-orang tertindas

Rohingya, yang disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya, menderita sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.  Amnestry International mengungkapkan bahwa lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, sejak pasukan keamanan Myanmar melancarkan serangan ke komunitas Muslim minoritas pada 2017.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sekitar 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan Myanmar sejak 25 Agustus 2017. Dalam laporannya yang berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira“, OIDA menyebutkan lebih dari 34.000 Rohingya dibakar hidup-hidup, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli.

Laporan juga menyebutkan sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh militer dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar habis dan 113.000 lainnya dirusak.*

 

Rep: Ahmad
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Kiai Cholil Nafis: Tahun Baru Hijriyah Momentum Bermuhasabah

Kiai Cholil Nafis: Tahun Baru Hijriyah Momentum Bermuhasabah

Risma: WTS Dolly Dieksploitasi, hanya Diambil Tenaganya Saja

Risma: WTS Dolly Dieksploitasi, hanya Diambil Tenaganya Saja

MUI Buleleng Sesalkan Pengamanan Miss World

MUI Buleleng Sesalkan Pengamanan Miss World

Jusuf Kalla: Umat Islam harus lebih Banyak Lahirkan Pengusaha

Jusuf Kalla: Umat Islam harus lebih Banyak Lahirkan Pengusaha

Umat Islam Butuh Kesadaran Pentingnya Sinergi

Umat Islam Butuh Kesadaran Pentingnya Sinergi

Baca Juga

Berita Lainnya