Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

DPR: Pelajaran Agama Harus Dapatkan Porsi Proporsional, Jangan Dikurangi

DPR RI
Anggota Komisi X DPR RI, Zainuddin Maliki
Bagikan:

Hidayatullah.com– Anggota Komisi X DPR RI, Zainuddin Maliki menilai wacana menggabungkan mata pelajaran agama dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat tidak kontekstual, bahkan cenderung ahistoris. Ia berharap mata pelajaran agama jangan dikurangi.

Wacana itu disebut-sebut muncul saat Focus Group Discussion (FGD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru-baru ini.

“Kalau ada ide seperti itu, ya tentu tidak kontekstual dan ahistoris. Artinya, pemikiran seperti itu tidak memiliki akar budaya dan akar kehidupan bangsa Indonesia yang religius. Begitu juga kalau isi kurikulumnya pendidikan agama dikurangi jam, agama menjadi digabung dengan budi pekerti, PKn, jamnya menjadi sangat sedikit. Itu tidak mencerminkan akar budaya bangsa,” kata Zainuddin dalam rilis yang diterima media, Kamis (18/06/2020).

Zainuddin menegaskan bahwa para founding fathers bangsa Indonesia dulu merumuskan Pancasila dan kemudian menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama, itu berangkat dari peta dan akar budaya bangsa Indonesia yang religius.

Memang ada negara-negara Barat yang menjadikan agama tidak sebagai mata pelajaran, tetapi itu kan akar budayanya berbeda dengan yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Ketika saya ke SMA Trinity di London, saya memperoleh penjelasan di sana bahwa pelajaran agama itu diajarkan di Inggris mulai SD sampai Perguruan Tinggi. Pelajaran agama diajarkan selama itu. Saya pulang itu membawa buku pelajaran agama untuk SMP. Karena siswanya banyak, agamanya berbeda-beda, maka di dalam bukunya itu ada pelajaran agama yang macam-macam tetapi di satu buku pelajaran agama. Di dalamnya ada pelajaran agama Kristen, Katolik, Konghucu, Islam, Hindu, Buddha, dan agama lainnya dalam satu buku,” jelasnya.

Lebih jauh, Zainudin menuturkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) sebenarnya juga mengacu konsep seperti itu. Dalam mata pelajaran agama, murid diajarkan sesuai agamanya. Semisal, di madrasah ada anak Katolik, tetap harus diajarkan agama Katolik walaupun dia hanya sendiri. Begitu juga sebaliknya, kalau ada orang Islam sekolah di sekolah Katolik, maka harus di ada pengajaran agama Islam untuk murid tersebut.

“Begitulah yang terjadi di Inggris. Nah, Inggris saja menempatkan agama secara khusus seperti itu. Lah, Indonesia yang punya akar budaya bangsa yang religius, saya kira pelajaran agama harus mendapatkan porsi yang proporsional di dalam kurikulum kita. Karena gagasan ini belum digulirkan dan konsepnya belum menjadi konsumsi publik, saya kira jangan ada pemikiran kurikulum itu disusun tidak berangkat dari akar budaya bangsa yang religius,” terangnya.* Azim Arrasyid

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

MUI: Materi Program Siaran Ramadhan Isinya Konyol

MUI: Materi Program Siaran Ramadhan Isinya Konyol

Mahfud MD Menilai Presiden SBY Mendapat Masukan Sesat!

Mahfud MD Menilai Presiden SBY Mendapat Masukan Sesat!

Polri Bentuk Detasemen Khusus Antianarkisme

Polri Bentuk Detasemen Khusus Antianarkisme

Prof Din Syamsuddin: Tuduhan Mahfud MD Menimbulkan Keresahan

Prof Din Syamsuddin: Tuduhan Mahfud MD Menimbulkan Keresahan

Sekjen MUI: Bedakan Antara Bendera Tauhid dan Bendera HTI

Sekjen MUI: Bedakan Antara Bendera Tauhid dan Bendera HTI

Baca Juga

Berita Lainnya