Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Protokol Kesehatan dalam Pembelajaran di Pesantren pada Masa Pandemi

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Anak-anak mencuci tangan dengan sabun yang disiapkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat (10/06/2020).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Sehubungan masih terjadinya pandemi Covid-19 saat akan dimulainya tahun ajaran baru, tetap diperlukan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran virus corona. Termasuk, dalam proses pembelajaran di pondok pesantren dan lembaga pendidikan agama lainnya.

Adapun protokol kesehatan bagi pesantren dan pendidikan keagamaan pada masa pandemi Covid-19, sebagaimana disampaikan Menteri Agama dalam kesempatan telekonferensi di Gedung DPR Jakarta, Kamis (18/06/2020), yaitu, sebagai berikut:

  1. Ketentuan protokol kesehatan yang berlaku pada pendidikan keagamaan yang tidak berasrama berlaku juga untuk pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama;
  2. Membersihkan ruangan dan lingkungan secara berkala dengan desinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer dan papan tik, meja, lantai dan karpet masjid/rumah ibadah, lantai kamar/asrama, ruang belajar, dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan;
  3. Menyediakan sarana CTPS (cuci tangan pakai sabun) dengan air mengalir di toilet, setiap kelas, ruang pengajar, pintu gerbang, setiap kamar/asrama, ruang makan dan tempat lain yang sering di akses. Bila tidak terdapat air, dapat menggunakan pembersih tangan (hand sanitizer);
  4. Memasang pesan kesehatan cara CTPS yang benar, cara mencegah penularan Covid-19, etika batuk/bersin, dan cara menggunakan masker di tempat strategis seperti di pintu masuk kelas, pintu gerbang, ruang pengelola, dapur, kantin, papan informasi masjid/rumah ibadah, sarana olahraga, tangga, dan tempat lain yang mudah di akses;
  5. Membudayakan penggunaan masker, jaga jarak, CTPS, dan menerapkan etika batuk/bersin yang benar;
  6. Bagi yang tidak sehat atau memiliki riwayat berkunjung ke negara atau daerah terjangkit dalam 14 (empat belas) hari terakhir untuk segera melaporkan diri kepada pengelola pesantren dan pendidikan keagamaan;
  7. Mengimbau agar menggunakan kitab suci dan buku/bahan ajar pribadi, serta menggunakan peralatan ibadah pribadi yang dicuci secara rutin;
  8. Menghindari penggunaan peralatan mandi dan handuk secara bergantian bagi lembaga pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama;
  9. Melakukan aktivitas fisik, seperti senam setiap pagi, olahraga, dan kerja bakti secara berkala dengan tetap menjaga jarak, dan menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat, aman, dan bergizi seimbang;
  10. Melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan warga satuan pendidikan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu dan mengamati kondisi umum secara berkala;
  11. Apabila suhu ≥37,3°c, maka tidak diizinkan untuk memasuki ruang kelas dan/atau ruang asrama, dan segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat; a) Apabila disertai dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak nafas disarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat; b) Apabila ditemukan peningkatan jumlah dengan kondisi sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b segera melaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dinas kesehatan setempat;
  12. Menyediakan ruang isolasi yang berada terpisah dengan kegiatan pembelajaran atau kegiatan lainnya;
  13. Menyediakan sarana dan prasarana untuk CTPS (cuci tangan dengan sabun) termasuk sabun dan pengering tangan (tisu) di berbagai lokasi strategis; dan
  14. Menyediakan makanan gizi seimbang yang dimasak sampai matang dan disajikan oleh penjamah makanan (juru masak dan penyaji) dengan menggunakan sarung tangan dan masker.

Baca: Kemenag Terbitkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pesantren di Masa Pandemi

Selain itu, kata Menag Fachrul, ada empat ketentuan utama yang berlaku dalam pembelajaran di masa pandemi, baik untuk pendidikan keagamaan berasrama maupun tidak berasrama.

Keempat ketentuan utama tersebut adalah:

  1. Membentuk gugus tugas percepatan penanganan Covid-19;
  2. Memiliki fasilitas yang memenuhi protokol kesehatan;
  3. Aman Covid-19, dibuktikan dengan surat keterangan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 atau pemerintah daerah setempat; dan
  4. Pimpinan, pengelola, pendidik, dan peserta didik dalam kondisi sehat, dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

“Keempat ketentuan ini harus dijadikan panduan bersama bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang akan menggelar pembelajaran di masa pandemi,” tegas Menag.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

AppsMu Dinilai Bisa Dijadikan Sarana Melawan Hoax

AppsMu Dinilai Bisa Dijadikan Sarana Melawan Hoax

Jelang Aksi 212, Suasana Masjid Istiqlal seperti Malam Aksi 411

Jelang Aksi 212, Suasana Masjid Istiqlal seperti Malam Aksi 411

Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis Diluncurkan

Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis Diluncurkan

Muhammadiyah Bogor Dorong Masyarakat Sensitif terhadap Aliran Menyimpang

Muhammadiyah Bogor Dorong Masyarakat Sensitif terhadap Aliran Menyimpang

Din: “Israel Tak Mengenal Bahasa Manusia”

Din: “Israel Tak Mengenal Bahasa Manusia”

Baca Juga

Berita Lainnya