Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

PP Muhammadiyah: RUU HIP Tidak Urgen, Tak Perlu Dilanjutkan

Azim Arrasyid/hidayatullah.com
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti berbicara mengenai RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/06/2020).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyampaikan, PP Muhammadiyah telah mengkaji materi Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP).
RUU HIP telah menimbulkan kontroversi dan mendapat penolakan di kalangan masyarakat.

“PP Muhammadiyah berpendapat Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila tidak terlalu urgen dan tidak perlu dilanjutkan pembahasan pada tahap berikutnya untuk disahkan menjadi undang-undang,” kata Mu’ti membacakan sikap ormas di gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/06/2020).

“Berdasarkan kajian tahap pertama tim PP Muhammadiyah, materi RUU HIP banyak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan sejumlah undang-undang, terutama UU 12/2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Baca: PP Muhammadiyah Minta DPR Setop Pembahasan RUU HIP

Mu’ti meneruskan, secara hukum, kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai dasar negara sudah sangat kuat. Landasan perundang-undangan tentang Pancasila telah diatur dalam TAP MPRS Nomor 20 Tahun 1966 juncto TAP MPR Nomor 5 Tahun 1973, TAP MPR Nomor 9 Tahun 1978, dan TAP MPR Nomor 3 Tahun 2000 beserta undang-undang turunannya, sudang sangat memadai.

Dalam pasal 5e UU 12/2011 dan penjelasannya disebutkan bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas kedayagunaan dan kehasilgunaan.

Maknanya, peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Baca: KH Cholil Nafis: RUU HIP Berpotensi Jadikan Indonesia Negara Sekuler

Dengan demikian, tutur Mu’ti, meniadakan atau tidak mencantumkan TAP MPRS Nomor 20 Tahun 1966 dalam salah satu pertimbangan RUU HIP, juga termasuk masalah serius.

“Padahal dalam ketetapan MPRS tersebut pada poin a tentang menimbang, secara jelas dinyatakan, bahwa paham Komunisme, Marxisme, Leninisme, pada inti hakikatnya bertentangan dengan Pancasila,” terangnya.* Azim Arrasyid

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Mengapa Kaum LGBT Tak Boleh Jadi Anggota TNI dan Polri?

Mengapa Kaum LGBT Tak Boleh Jadi Anggota TNI dan Polri?

Pilkada 2018, KPK-Polisi Diminta Awasi Praktik Politik Uang

Pilkada 2018, KPK-Polisi Diminta Awasi Praktik Politik Uang

DPR Minta RI Desak Dunia Hentikan Serangan Ghouta Timur

DPR Minta RI Desak Dunia Hentikan Serangan Ghouta Timur

Sambut 1441H, AQL Eratkan Ukhuwah Lewat Turnamen Futsal

Sambut 1441H, AQL Eratkan Ukhuwah Lewat Turnamen Futsal

Kongres Muslimat NU Akan Bahas Implant Payudara

Kongres Muslimat NU Akan Bahas Implant Payudara

Baca Juga

Berita Lainnya