Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Presiden Pernah Minta Muhammadiyah Bantu Memberantas Mafia

Asmanu
Din Syamsuddin (kanan) pada acara penunjukan dirinya sebagai Utusan Khusus Presiden dalam bidang dialog dan kerja sama antaragama serta peradaban oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/10/2017).
Bagikan:

Hidayatullah.com- Presiden Joko Widodo pernah minta tolong Muhammadiyah untuk membantu memberantas mafia. Permintaan itu disampaikan presiden kepada pimpinan Muhammadiyah di Istana, Jakarta.

“Kami waktu itu sedang bersilaturahmi pada Presiden,” kata tokoh Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin yang membawa rombongan pimpinan Muhammadiyah tersebut.

Din menyampaikan cerita di atas ketika diwawancarai Refly Harun melalui chanel pribadi Refly beberapa waktu lalu.

Ada banyak mafia. Presiden, kata Din, menyebut ada belasan. “Ada mafia beras, daging dan bahkan mafia pendidikan,” kata Din yang memimpin Muhammadiyah dua periode.

Din pun menyanggupi permintaan tersebut. “Kami siap. Namun apa yang terjadi, mafia makin merajalela. Ini merusak tata kelola pemerintahan yang baik,” katanya.

Menurut Din, hal tersebut terjadi karena ada ketidaksungguhan pemerintah menghadapi oligarki dan kleptokrasi.

Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil.

Sedangkan kleptokrasi adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaannya secara efektif dipengaruhi orang-orang kaya.

Menurut Din, Jokowi sebenarnya orang baik. Pada suatu kesempatan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini pernah bilang langsung pada Jokowi, “Bapak ini orang baik. Tapi saya lihat Bapak tidak bisa mengatasi orang-orang di sekitar yang berniat buruk.” Apa jawaban Jokowi, “Beliau diam saja,” ujar Din.

Lebih jauh lagi, Guru Besar Ilmu Politik di UIN Jakarta ini menilai pemerintah sekarang sudah menyimpang dari Pancasila. “Misalnya sistem politik kita, diukur dengan sila keempat, hasilnya jauh panggang dari api. Demikian juga dengan sistem ekonomi, diukur dengan sila kelima hasilnya jauh panggang dari api,” katanya.

Jadi, Din menegaskan, masalah terbesar bangsa ini adalah penyimpangan dan penyelewengan dari Pancasila. “Pancasila hanya retorika,” katanya.

Apakah rezim sekarang masih bisa diharapkan?

Tentu saja. Tetapi Din memberi catatan, asal memiliki kesadaran kembali kepada Pancasila sebagai kiblat bangsa. Ia juga meminta partai politik punya kesadaran tinggi bahwa partai itu alat demokrasi untuk mensejahterakan rakyat.

Din yang pernah ditunjuk Jokowi menjadi utusan khusus dialog antar agama ini juga mengajak semua elemen bangsa yang cintai damai dan keadilan untuk bergabung dengan koalisi kebijaksanaan untuk bersama-sama meluruskan kiblat bangsa.*

Rep: Bambang S
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Gerah IAIN Dicap Negatif, KAMMI Adakan Dialog Orientalis

Gerah IAIN Dicap Negatif, KAMMI Adakan Dialog Orientalis

Wewenang AWARI Hanya Mengimbau

Wewenang AWARI Hanya Mengimbau

Alexis Diminta Publikasikan Semua Data Pelanggannya, Ini Alasannya

Alexis Diminta Publikasikan Semua Data Pelanggannya, Ini Alasannya

Tak Terima Keputusan PHK Al-Zaytun, 116 Guru Minta Hak Upah

Tak Terima Keputusan PHK Al-Zaytun, 116 Guru Minta Hak Upah

Para  Muslimah Dirikan Trauma Centre di Banda Aceh

Para Muslimah Dirikan Trauma Centre di Banda Aceh

Baca Juga

Berita Lainnya