Ahad, 28 Maret 2021 / 14 Sya'ban 1442 H

Nasional

JK: Jangan Apa-Apa Minta dari China

Bagikan:

Hidayatullah.com- Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK) berharap Indonesia tidak selalu bergantung pada sumbangan negara lain untuk penanganan Covid-19.

JK berharap Indonesia punya kontribusi dalam hal penemuan ilmiah untuk pengobatan pasien Covid-19.

Demikian disampaikan JK saat bertemu dengan Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkmen, Profesor Amin Subandrio di Kantor Eijkmen, Jl Diponegoro Jakarta Pusat, Rabu (13/05/2020).

“Indonesia harus punya kontribusi terhadap dunia dalam bidang saintis untuk penanganan corona. Jangan seperti selama ini, apa-apa minta dari China,” ujar mantan Wapres RI ini dalam siaran pers kepada hidayatullah.com.

Lebih jauh JK mengatakan, dalam hal kerja sama dengan lembaga Eijkmen, PMI berada dalam posisi melakukan dukungan untuk penyediaan fasilitas pengolahan darah yang dimiliki PMI dan tersebar pada 15 kota besar di Indonesia.

Kata JK, PMI berada dalam posisi mendukung dan tidak berada pada wilayah ilmiah Saintis yang merupakan tanggung jawab Eijkmen.

“Untuk itu PMI akan mempersilakan Eijkmen untuk menggunakan fasilitas pengolahan darah yang dimiliki PMI dan tersebar di 15 kota besar,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio, selain perumusan protokol, pemerintah juga sedang menyiapkan perlindungan etik bagi tenaga kesehatan yang terlibat dalam program ini.

“Teman-teman di rumah sakit butuh perlindungan etik dan peraturannya, supaya nanti ketika terjadi sesuatu kemudian ada tuntutan mereka tidak disalahkan. Karena sudah di-approve oleh BPOM, sudah disetujui Komite Etik,” katanya.

Secara singkat, dijelaskan, setelah protokol nasional dan perlindungan etik disahkan, pelayanan Terapi Plasma Konvalesen ini dimulai dari pendataan penyintas di rumah sakit. Data tersebut kemudian ditindaklanjuti PMI yang akan memeriksa kelayakan pendonor. Jika memenuhi persyaratan, pendonor akan diambil plasmanya.

“Dari rumah sakit sampai mengambil plasma itu tugas PMI,” kata Amin.

Plasma darah yang mengandung antibodi penyintas Covid-19 ini kemudian akan diperiksa di laboratorium Eijkman. Amin mengatakan, kapasitas laboratorium Eikjman saat ini mampu menguji 1.116 sampel per hari.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Panitia Tabligh Akbar Garut Santuni 55 Anak Yatim

Panitia Tabligh Akbar Garut Santuni 55 Anak Yatim

Sikapi Penolakan Pengajian, Komnas HAM Minta Negara Hadir

Sikapi Penolakan Pengajian, Komnas HAM Minta Negara Hadir

Didik Pemimpin Bertauhid Melalui Indonesia Leadership Academy (ILA)

Didik Pemimpin Bertauhid Melalui Indonesia Leadership Academy (ILA)

Menag-MUI Bahas Penyelesaian RUU Produk Halal

Menag-MUI Bahas Penyelesaian RUU Produk Halal

Jalaludin Rahmat Akui Masuk DPR Untuk Lindungi Syiah Indonesia

Jalaludin Rahmat Akui Masuk DPR Untuk Lindungi Syiah Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya