Rabu, 20 Januari 2021 / 7 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Zona Merah Likuifaksi, Kelurahan Petobo Sulteng Bakal Dihilangkan

hanif/hidayatullah
Warga menyaksikan kondisi Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, yang "hilang" akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pada Jumat (28/09/2018). Gambar dijepret pada Selasa (02/10/2018).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Kelurahan Petobo yang hancur akibat bencana likuifaksi saat gempa bumi pada 2018 kemungkinan besar akan dihilangkan.

Hal itu disampaikan Wali Kota Palu, Hidayat pada rapat evaluasi percepatan pembangunan huntap relokasi di Kota Palu dan Kabupaten Sigi pascabencana 2018 di Aula Merah Putih, Markas Komando Resor Militer (Korem) 132/Tadulako di Palu, Sulawesi Tengah kemarin.

“Karena memang warganya sudah tidak ada (tinggal di sana) dan akan direlokasi ke kawasan huntap (hunian tetap),” ujar Wali Kota kutip Antaranews, Kamis (16/01/2020).

Baca: 11 Anggota Keluarga Hilang Akibat Likuifaksi Palu Mengaku Ikhlas

Kelurahan Petobo menjadi kawasan terparah setelah diluluhkantahkan likuifaksi pada tahun 2018. Ribuan jiwa meninggal akibat bencana di kawasan seluas sekitar 180 hektare tersebut.

Puluhan ribu jiwa yang tinggal di belasan ribu rumah di sana terpaksa harus pindah, sebab tempat tinggal mereka hancur dan tak layak lagi dihuni, ditambah pula kawasan tersebut masuk zona merah likuifaksi.

Wali Kota menilai bahwa wilayah Kelurahan Petobo sudah tak layak lagi menjadi kawasan permukiman penduduk walaupun sejumlah lokasi di Kelurahan Petobo tak terkena likuifaksi.

Apalagi, disebutkan, pemerintah pusat lewat kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah terdampak bencana 2018 di Sulteng sudahmenetapkan Kelurahan Petobo dalam peta rawan bencana sebagai zona merah likuifaksi alias berpotensi tinggi dilanda likuifaksi kembali, maka tak boleh ditinggali.

Baca: Habis Likuifaksi Terbitlah Pelangi

Kata Wali Kota, saat ini pihaknya telah memerintahkan camat dan lurah agar mendata siapa saja warga yang berdomisili di Petobo yang ingin pindah ke huntap atau tetap dibangunkan rumah di atas tanahnya di sana. “Ini sudah model huntap insitu,” sebutnya.

Wali Kota mengaku tak bisa memaksa pindah segelintir warga yang bersikukuh tetap mau menetap di atas tanah miliknya yang merupakan bekas likuifaksi 2018. Walau demikian, Pemkot Palu telah memberikan imbauan dan peringatan kepada mereka.

“Saya sudah koordinasi dengan Kementerian PUPR dan kalau memang ada yang punya lahan di sana akan dibangunkan huntap insitu. Ini sementara jalan pendataan. Sudah Ada 55 jiwa yang ingin dibangunkan huntap insitu,” sebut Wali Kota.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Silatnas Hidayatullah Hasilkan “Piagam Gunung Tembak”

Silatnas Hidayatullah Hasilkan “Piagam Gunung Tembak”

Awas! Banyak Caleg Sakit Jiwa

Awas! Banyak Caleg Sakit Jiwa

Muhammadiyah Desak Pemerintah Segera Bantu WNI Korban Teror Selandia Baru

Muhammadiyah Desak Pemerintah Segera Bantu WNI Korban Teror Selandia Baru

Fadhlan Garamatan Akan Terima Penghargaan Pengabdian Umat Dari KAHMI

Fadhlan Garamatan Akan Terima Penghargaan Pengabdian Umat Dari KAHMI

Sorotan Terhadap Syiah di Ajang IBF 2015 [2]

Sorotan Terhadap Syiah di Ajang IBF 2015 [2]

Baca Juga

Berita Lainnya