Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Nasional

Anwar Abbas Dorong Muhammadiyah-NU Bersatu Perbaiki Nasib Rakyat

zulkarnain/hidayatullah.com
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kiri) bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir pada acara silaturahim keluarga besar kedua ormas Islam itu di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (23/03/2018).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menyerukan persatuan ormas-ormas Islam, khususnya Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Anwar menjelaskan, ada tiga pilar utama di Indonesia yang mempengaruhi kehidupan bernegara dan berbangsa, yaitu pemerintah, usaha besar, dan civil society (masyarakat sipil).

Pilar pemerintah dan usaha besar, jelasnya, merupakan dua pilar yang selama ini sangat besar peranannya dalam mempengaruhi dan menentukan corak serta warna kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, terutama dalam bidang politik dan ekonomi.

Bahkan kolaborasi dua komponen ini, jelasnya, telah membuat ekonomi Indonesia bisa tumbuh tapi tidak dan atau belum merata. Sebab, undang-undang dan peraturan serta kebijakan yang ada di negeri ini banyak yang sudah terkooptasi dan dikooptasi oleh para pengusaha besar, sehingga kesenjangan ekonomi semakin tinggi.

“Yang kaya tambah kaya, sementara yang miskin semakin miskin atau kalau ada perubahan maka perubahan dan peningkatannya hanya sedikit,” ujar Anwar dalam pernyataan tertulisnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Kamis (02/01/2020).

Baca: Muhammadiyah-NU: Perbedaan Politik Jangan Jadi Sumber Perpecahan

Oleh karena itu, Anwar mendorong, supaya ke depan ketimpangan itu bisa diatasi dan dikurangi, maka masyarakat sipil sebagai pilar ketiga harus tampil memberikan pengaruh dan berpartisipasi secara maksimal.

“Untuk itu kita mengharapkan dua ormas Islam terbesar di negeri ini yaitu NU dan Muhammadiyah agar bisa kompak dan bersatu dengan mengajak elemen-elemen masyarakat lain untuk memperjuangkan dan memperbaiki nasib rakyat banyak yang selama ini termarginalkan,” ujarnya.

Kalau tidak terjadi persatuan NU-Muhammadiyah itu, maka maka menurutnya dari “adanya aliansi antara penguasa dan usaha-usaha besar” ini menjadikan sulit adanya affirmative action atau lahirnya kebijakan-kebijakan yang memang berpihak kepada rakyat banyak.

Baca: Pesan Silaturahim NU-Muhammadiyah: Tegaknya Hukum Instrumen Keadilan

Selain itu, sambungnya, juga akan menjadikan terbukanya peluang bagi masyarakat lapis bawah untuk melakukan mobilitas vertikal dari kelas bawah ke kelas menengah, dan dari kelas menengah ke kelas atas.

“Kita harapkan jarak antara kelas atas dan bawah tidak lagi tinggi dan dengan demikian ketegangan dan kecemburuan sosial dan ekonomi antara sesama anak bangsa akan bisa ditekan dan diturunkan secara signifikan kalau tidak bisa dihilangkan,” ujarnya.

Dengan demikian, kata Anwar, rasa kebersamaan di antara sesama warga bangsa akan semakin kuat dan meningkat. Sebab hal itu jelas sangat besar dan sangat penting sekali artinya bagi Indonesia, dalam menggerakkan dan membangun negeri ini.

“Untuk bisa menjadi negeri yang maju, adil, dan beradab yang merupakan cita-cita dan harapan kita bersama,” pungkasnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Banyak Kerancuan Syiah Tentang Sahabat Yang Ditutupi

Banyak Kerancuan Syiah Tentang Sahabat Yang Ditutupi

UBN: Islam Wasathiyah Cara Beragama Penuh Toleransi

UBN: Islam Wasathiyah Cara Beragama Penuh Toleransi

Longsor Dua Kali di Sumedang, 11 Warga Meninggal

Longsor Dua Kali di Sumedang, 11 Warga Meninggal

Blokir Situs Media Islam Dibuka, Hati Ustadz Arifin Ilham Kembali Tenang

Blokir Situs Media Islam Dibuka, Hati Ustadz Arifin Ilham Kembali Tenang

Peusaba: Bantuan Turki Dibutuhkan untuk Selamatkan Aceh

Peusaba: Bantuan Turki Dibutuhkan untuk Selamatkan Aceh

Baca Juga

Berita Lainnya