Selasa, 6 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Gerhana Matahari Cincin, Kemenag Imbau Kaum Muslimin Shalat Kusuf

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Warga melaksanakan shalat gerhana saat terjadi gerhana bulan total atau "Blood Moon", Sabtu (28/07/2018) dini hari di Masjid Baiturrahman, Depok, Jawa Barat.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Berdasarkan perkiraan, Gerhana Matahari Cincin –insya Allah– akan terjadi di wilayah Indonesia pada Kamis (26/12/2019). Terkait itu, kaum Muslimin di Indonesia diimbau oleh pemerintah untuk melaksanakan shalat sunnah gerhana.

“Kementerian Agama mengimbau umat Islam di seluruh Indonesia untuk melaksanakan salat sunnah gerhana matahari atau yang disebut shalat kusuf,” ujar Plh Dirjen Bimas Islam Kemenag Tarmizi di Jakarta, beberapa waktu dalam siaran pers Kemenag dikutip pada Rabu (25/12/2019).

Tarmizi menjelaskan, pelaksanaan shalat gerhana menyesuaikan waktu gerhana matahari di wilayah masing-masing. Diperkirakan, awal gerhana pada pukul 10.34 WIB, puncak gerhana akan terjadi pada pukul 12.17 WIB, dan akhir gerhana pada pukul 14.00 WIB.

Bukti kekuasaan Allah berupa fenomena alam berupa Gerhana Matahari Cincin itu, berdasarkan data astronomis, diperkirakan terjadi besok bertepatan 29 Rabiul Akhir 1441H. Di wilayah Indonesia akan terjadi Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Sebagian.

“Seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati gerhana matahari ini,” sebut Tarmizi.

Baca: Kepala OIF UMSU: Gerhana Matahari Cincin Besok Langka

Baca: BMKG: Gerhana Matahari Cincin Terjadi 26 Desember 2019

Kemenag menjelaskan, shalat kusuf atau shalat gerhana matahari dilakukan dua rakaat dengan rangkaian sebagai berikut:  1) Berniat di dalam hati; 2) Takbiratul ihram seperti shalat biasa; 3) Membaca doa iftitah dan ber-ta’awudz, kemudian membaca Surat Al-Fatihah dan membaca surat yang panjang dengan di-jahr-kan (perdengarkan) suaranya;

4) Kemudian rukuk sambil memanjangkannya;  5) Bangkit dari rukuk (i’tidal); 6) Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah dan surat yang panjang (berdiri yang kedua lebih singkat dari pertama);

7) Rukuk kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari rukuk sebelumnya; 8) Bangkit dari rukuk (i’tidal); 9) Sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali; 10) Bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama (bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya); 11) Tasyahud; dan 12) Salam.

“Setelah shalat, imam lalu menyampaikan khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdoa, beristighfar, sedekah, dan hal baik lainnya,” kata Tarmizi.

Umat Islam pun, sambungnya, dianjurkan untuk memperbanyak zikir, istighfar, sedekah, dan melalukan amal kebajikan lainnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Refleksi 2017 FKUB: Tak Ada Kasus Intoleransi di Jakarta

Refleksi 2017 FKUB: Tak Ada Kasus Intoleransi di Jakarta

MUI Imbau MK Putuskan Pengujian Undang-undang dengan Bijak

MUI Imbau MK Putuskan Pengujian Undang-undang dengan Bijak

Ketua Umum PBNU Usul Warga NU Tidak Wajib Bayar Pajak

Ketua Umum PBNU Usul Warga NU Tidak Wajib Bayar Pajak

Waspada, Anak Menonton TV Lebih Lama Dibanding Sekolah

Waspada, Anak Menonton TV Lebih Lama Dibanding Sekolah

Kosovo Minta Indonesia Beri Pengakuan Kemerdekaan

Kosovo Minta Indonesia Beri Pengakuan Kemerdekaan

Baca Juga

Berita Lainnya