Menag Tekankan Pentingnya Amalkan Nilai Agama dalam Bertoleransi

“Islam mengajarkan, kalau antar umat berbeda agama berlaku ”lakum dinukum waliyadin” (bagimu agamamu, bagiku agamaku) tapi kita bersaudara sebangsa"

Menag Tekankan Pentingnya Amalkan Nilai Agama dalam Bertoleransi
istimewa
Menteri Agama Fachrul Razi (kanan) di Masjid Grand Mosque Abu Dhabi, UEA.

Terkait

Hidayatullah.com– Menteri Agama Fachrul Razi menekanan pentingnya mengamalkan nilai keagamaan dalam perilaku hidup, termasuk dalam toleransi dan keterbukaan.

Hal itu ditekankan Menag terkait kehidupan antar umat beragama, khususnya toleransi agama yang diketahui terus menjadi isu hangat di negeri ini.

Menurut Menag, pemeluk agama bisa jadi tidak membaca kitab suci pemeluk agama lainnya. Namun, mereka bisa saling membaca melalui perilaku dan sikap masing-masing. Di situlah pentingnya pengamalan nilai keagamaan.

Menag menyampaikan itu terkait rencana Pemerintah Uni Emirat Arab (UAE) dan Indonesia membangun sebuah masjid di Solo, Jawa Tengah. Menurut Menag, pembangunan masjid ini adalah salah satu bentuk komitmen kedua negara dalam rangka kerja sama pengarusutamaan moderasi beragama di kedua negara.

“Masjid yang akan dibangun di Solo nantinya harus dapat menjadi Pusat Pengarusutamaan Moderasi Beragama di Indonesia. Masjid ini harus dapat dikelola secara profesional yang terintegrasi dengan Islamic Center,” ujarnya Menag di Abu Dhabi sebelum bertolak ke Jakarta, Selasa dalam siaran pers Kementerian Agama diterima hidayatullah.com pada Rabu (18/12/2019).

“Imam masjid dapat kita datangkan dari UAE dan begitu juga sebaliknya kita akan mengirimkan imam masjid kita ke UAE. Intinya masjid ini harus dapat menjadi simbol tolernasi dan harmoni,” lanjutnya.

Baca: Ketua MPR: Umat Islam Sudah Khatam Toleransi

Menurut Menag, rencana pembangunan masjid tersebut dalam tahap pengurusan aset tanah dari Pertamina. Ground breaking pembangunan Masjid akan dilakukan setelah Presiden Joko Widodo bertemu Pangeran Muhammad Bin Zaid yang direncanakan awal Januari 2020.

Di UEA, Menag sempat berkunjung ke Grand Mosque Abu Dhabi yang membuatnya terinspirasi atas manajemen masjid yang profesional dan modern.

Disebutkan bahwa Grand Mosque Abu Dhabi tidak cuma mewah dan megah konstruksinya, tapi masjid ini juga menampilkan dan mengajarkan nilai-nilai Islam yang terbuka, toleran, dan inklusif. Masjid ini bisa dikunjungi wisatawan dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang agama dan ras.

“Masjid ini mengajarkan kita tentang pentingnya menerapkan nilai-nilai toleransi, keterbukaan, dan inklusif. Saya berharap masjid yang akan dibangun di Solo nanti dapat mencerminkan nilai-nilai seperti itu,” sebutnya.

Baca: Sejarawan: Toleransi Karakter Menonjol pada Peradaban Islam

Toleransi, menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof M Din Syamsuddin, adalah sikap dan pandangan mengakui bahwa di antara anasir masyarakat majemuk ada persamaan dan ada perbedaan. “Toleransi adalah menghargai perbedaan disertai tenggang rasa terhadap perbedaan itu,” ujar Din dalam keterangan tertulisnya diterima hidayatullah.com, Selasa (10/11/2019).

Menurut Din, wawasan wasathiyah (suatu watak Islam sejati) yang mengedepankan antara lain tasamuh atau toleransi perlu mengejawantah dalam sikap penuh hikmat kebijaksaan dalam kemajemukan dan keberagamaan yakni dengan menghargai orang lain.

Sikap ini, katanya, diperlukan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia yang memiliki keragaman agama, etnik, dan budaya.

“Islam mengajarkan, kalau antar umat berbeda agama berlaku ”lakum dinukum waliyadin” (bagimu agamamu, bagiku agamaku) tapi kita bersaudara sebangsa. Terhadap sesama Muslim, walau berbeda aliran atau organisasi sehingga berbeda pemahaman keagamaan, bisa berlaku analoginya ”lakum ra’yukum, wali ra’yi” (bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku) tapi kita tetap bersaudara seiman,” ujarnya dalam keterangan terpisahnya diterima di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Baca: Din Ingatkan Tak Mudah Menuduh Intoleran dan Mengklaim Paling Toleran

Di dalam peradaban Islam, tutur sejarawan Alwi Alatas, toleransi merupakan salah satu karakteristik yang menonjol. Dimana komunitas beragama lain dapat hidup dengan relatif baik tanpa diganggu di sepanjang perjalanan sejarah Islam.

“Hal ini berangkat dari pesan Al-Qur’an yang menyatakan ‘tidak ada paksaan dalam beragama’ serta perintah Nabi untuk memperlakukan ahlu dzimmah dengan baik,” ujar dosen sejarah Islam Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) ini diberitakan hidayatullah.com, Jumat (16/11/2018).*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !