DPR: Literasi Rendah, Anak di Daerah 3T Tak Pernah Lihat Buku

"Anak-anak setiap hari yang dia lihat, tanah lagi, yang dia lihat tanah lagi. Enggak pernah dia lihat buku"

DPR: Literasi Rendah, Anak di Daerah 3T Tak Pernah Lihat Buku
muh. abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Anak-anak di daerah terpencil, Kampung Lerabaing, Desa Wakapsir, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, sedang bermain sepakbola (14/08/2019).

Terkait

Hidayatullah.com– Menurut Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, anak-anak Indonesia sebenarnya cenderung ingin membaca dengan minat yang tinggi.

Masalahnya, menurut Syaiful, keterbatasan buku menjadi kendala tersendiri khususnya bagi anak-anak di daerah terdepan, terluar, dan terbelakang (tiga T).

“Hasil survei kecil-kecilan saya membuktikan bahwa anak-anak kita sangat cenderung ingin membaca. Minat untuk membaca tinggi sekali. Problemnya enggak ada buku. Daerah-daerah yang terpencil, apalagi di tiga T (terdepan, terluar dan terbelakang) itu, anak-anak setiap hari yang dia lihat, tanah lagi, yang dia lihat tanah lagi. Enggak pernah dia lihat buku. Tak pernah menjumpai buku,” ujarnya di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, kemarin kutip Antaranews, Kamis (12/12/2019).

Oleh karena itu, Ketua DPP PKB ini menilai, diperlukan afirmasi kebijakan yang serius dari pemerintah mengenai  gerakan literasi. Karena hal itu menjadi pertahanan terbaik bagi bangsa.

“Bagaimana anak-anak cerdas, anak-anak yang berpikir terbuka. Itu adalah modal bagi masa depan bangsa ini,” ungkapnya dalam diskusi bertema “PISA, Literasi dan Urgensi Road Map Bonus Demografi”.

Syaiful pun mendorong pemerintah agar punya keseriusan dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia yang saat ini masih rendah dalam melek aksara.

“Mengacu dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, kami mendorong percepatan perubahan paradigma pendidikan kita, termasuk isu soal pendidikan itu adalah soal literasi,” katanya.

Tingkat literasi siswa Indonesia sangat rendah berdasarkan rangking terbaru PISA yang diumumkan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) belum lama ini. Indonesia menempati posisi 72 dari 78 negara, sedangkan posisi tertinggi dipegang China.

Huda mengatakan, laporan PISA menunjukkan Indonesia dalam kondisi kritis dengan banyak anak yang tidak berkesempatan untuk sekadar memegang buku apalagi membacanya. Akibatnya, mereka minim wacana dan pengetahuan.

“Kami di Komisi X akan mengawal semua yang sudah digagas (Mendikbud) ‘on paper’ agar implementatif di lapangan,” sebut Syaiful.

Huda mengatakan hasil laporan tersebut harus dijadikan sebagai acuan dalam melakukan perubahan yang lebih baik bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Menurutnya, dari laporan PISA itu timbul pertanyaan penyebab rendahnya literasi siswa Indonesia apakah karena minimnya ketersediaan fasilitas literasi atau memang karena minimnya minat baca masyarakat Indonesia.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !