Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pengamat: Partai Sekuleristik Tunisia Rontok karena Andalkan Narasi Radikalisme

Kampanye pendukung Partai Ennahda di Tunisia
Bagikan:

Hidayatullah.com– Hasil pemilu di Tunisia yang dimenangkan oleh partai EnNahda telah menunjukkan hilangnya popularitas bagi partai sekuleristik yang dianggap merugikan karena menciptakan pembelahan masyarakat.

Menurut pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha, rontoknya partai sekuleristik di Tunisia karena dinilai terlalu mengandalkan narasi radikalisme umat beragama sebagai komoditas politik.

“Sebab, rakyat merasakan sebagai kenyataan politik sebetulnya skala praktik radikalisme di Tunisia sangat kecil. Sama sekali tak bisa dipandang sebagai “representasi” umat beragama. Namun, partai sekuleristik menjadikan radikalisme umat beragama ini komoditas politik dan sebagai instrumen pemukul politik,” ujarnya dalam keterangannya diterima hidayatullah.com, Ahad (27/10/2019).

Arya meniali, rakyat Tunisia menyadari bahwa partai sekuleristik berupaya menutupi lemahnya kemampuan mengelola pemerintahan dan krisis ekonomi dengan membangun situasi pertarungan politik dengan membesarkan isu radikalisme ini.

“Partai sekuleristik menjalankan politisisasi birokrasi,” imbuhnya.

Baca: Eks Presiden Tunisia Zine el-Abidine Ben Ali Wafat di Arab Saudi

Sementara, kata dia, rakyat mayoritas akhirnya menyadari ini merupakan jenis kejahatan politik yang melawan prinsip kebebasan sipil dan demokrasi. Rakyat Tunisia sadar, sebagai komoditas politik isu radikalisme memang dipakai pertama-tama dan terutama untuk memberangus lawan-lawan politik.

“Jadi naiknya isu ini tak ada kaitan dengan makin padamnya radikalisme itu. Sebab, memang bukan itu tujuannya,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, dalam Pemilu Legislatif Tunisia awal Oktober 2019, partai EnNahda yang dikenal konservatif keluar sebagai pemenang.

EnNahda menang karena dinilai performa kerjanya lebih baik daripada partai-partai lain. Satu hal yang juga membuat mayoritas warga Tunisia memilihnya, dibanding parpol yang sekuleristik.

Baca: Pengamat Politik Internasional: Kemenangan Kais Saied Jadikan Tunisia “Teman Baru” Turki

Menurut Arya, EnNahda dalam menghadapi model pendekatan propaganda dan operasi partai-partai sekuleristik agaknya pandai untuk mengayuh sampan di antara ancaman karang “radikalisme sebagai kenyataan politik” itu dengan karang besar “radikalisme sebagai komoditas politik”.

“EnNahda juga berhasil mempertahankan persatuan internal partai, yang mengompromikan ragam pendapat. Ini salah satu karakteristik yang menjadi faktor penting dari kepemimpinan Rachid al Ghannouchi, pemimpin utama Ennahda,” ujarnya.

EnNahda juga, masih kata dia, sepertinya akan berupaya membangun koalisi agar dapat mengelola pemerintahan dengan kerja sama efektif bersama Presiden Kais Saied dengan visi dan tim yang kuat.

EnNahda mengamankan posisi tertinggi dengan 19,5% suara (52 kursi). Setelah Ennahda, Qalb Tunes mendapat 14,5% suara (38 kursi), Partai Demokrat mendapat 22 kursi, kemudian tiga partai terakhir masing-masing mendapat 16, 21, dan 14 kursi.

“Menariknya, di antara tujuh partai teratas, tidak ada partai yang berbasis sekuleristik. Partai yang berkuasa dan partai-partai koalisi utama sebelumnya telah secara dramatis kehilangan peringkat suara mereka, karena rakyat melihat nasionalisme bukan kenyataan politik, tapi sekedar komoditas politik hanya jargon menutupi praktik kolutif bagi-bagi kekuasaan dan praktik koruptif menambah kekayaan,” papar Arya melanjutkan.

Baca: Pilih Presiden Tunisia: Taipan Media Tersangka Pidana atau Profesor Hukum Nihil Pengalaman

Nidaa Tunes hanya mendapat tiga kursi, mengamankan posisi ke-10. Padahal partai ini mendapatkan 86 kursi dalam Pemilu 2014. Front Populer mendapat satu kursi, dan Afek Tounes mendapat dua kursi, sedangkan Free Patriotic Union (UPL) tidak mendapatkan kursi apa pun. Jumlah total empat partai dari pemerintah koalisi yang berkuasa ini 125 kursi dalam Pemilu 2014. Sekarang anjlok menjadi 6 kursi dalam Pemilu sekarang.

“Partai sekuleristik lama lainnya juga mengalami kerugian dalam hal kursi,” imbuhnya.

Pada pemilu ketiga pasca “Arab Spring”, profesor hukum independen Kais Saied yang didukung EnNahda berhasil keluar sebagai pemenang pemilihan presiden Tunisia.  Kandidat independen Kais Saied sukses memenangkan suara rakyat secara mutlak 72,5%.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

LPAI Minta Negara Larang Total Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok

LPAI Minta Negara Larang Total Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok

Ulama Palestina Datangi MUI Menyampaikan Terima Kasih

Ulama Palestina Datangi MUI Menyampaikan Terima Kasih

Aktivis: Rapor Perlindungan Anak Masih Jauh dari Harapan

Aktivis: Rapor Perlindungan Anak Masih Jauh dari Harapan

Surati Menteri, PB PII Terus Dampingi Siswi agar Dapat Berhijab

Surati Menteri, PB PII Terus Dampingi Siswi agar Dapat Berhijab

Lapangan Monas untuk Acara Keagamaan, KH Didin Sambut Baik

Lapangan Monas untuk Acara Keagamaan, KH Didin Sambut Baik

Baca Juga

Berita Lainnya