[Berita Foto] Kondisi Pengungsi Korban Gempa Maluku

Data per Jumat, korban jiwa akibat gempa Maluku berjumlah 18 orang. Sebelumnya BNPB menyebut jumlah korban jiwa sebanyak 23 orang. Ada kesalahan saat identifikasi nama korban

[Berita Foto] Kondisi Pengungsi Korban Gempa Maluku
Zulkarnain/hidayatullah.com
Kondisi darurat para pengungsi di pengungsian yang tersebar di Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (27/09/2019).

Terkait

Hidayatullah.com– Hingga Sabtu (28/09/2019), belasan ribu warga Maluku masih mengungsi di berbagai titik di berbagai daerah yang terdampak gempa berkekuatan magnitudo 6,5 pada Kamis (26/09/2019).

Kondisi para pengungsi cukup memperihatinkan.

Koresponden hidayatullah.com Ambon, Zulkarnain, dari Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, melaporkan, banyak pengungsi yang tersebar di berbagai titik termasuk di hutan-hutan.

“Pengungsi yang banyak namun kurangnya donasi dan manajemen pengungsi di lapangan,” lapornya, Sabtu (28/09/2019).

Para pengungsi masih membutuhkan bantuan darurat, di saat masalah kesehatan terus membayangi mereka, terutama anak-anak dan orangtua lanjut usia.

Baca: Pascagempa, Pengungsi di Liang Maluku Butuh Bantuan

Berdasarkan keterangan dari Kepala Puskesmas Desa Liang, Farida Sangadji, ketersediaan obat-obatan untuk para pengungsi setempat terbatas. Mereka mengeluhkan keterbatasan obat-obat, makanan pendamping ASI (MPASI), dan susu formula.

BPBD Provinsi Maluku menginformasikan jumlah korban meninggal dunia yang telah dilakukan pengecekan ulang per Jumat (27/09/2019) pukul 10.01 WIT. Data mutakhir korban meninggal dunia akibat gempa M 6,5 Kamis (26/09/2019) lalu berjumlah 18 orang. Korban meninggal tertinggi teridentifikasi berada di Kabupaten Maluku Tengah sejumlah 10 orang, di Kota Ambon berjumlah 7 orang dan Seram Bagian Barat 2 orang.

Kondisi darurat para pengungsi di pengungsian yang tersebar di Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (27/09/2019). [Foto: Zulkarnain/hidayatullah.com]

[Foto: Zulkarnain/hidayatullah.com]

Sebelumnya BNPB menginformasikan jumlah korban meninggal sebanyak 23 orang. Kesalahan terjadi saat identifikasi nama korban yang sebetulnya merujuk pada korban meninggal yang sama.

Gempa utama yang terjadi di kedalaman 10 km itu juga menimbulkan korban luka sebanyak 126 orang, dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah 108 orang, Seram Bagian Barat 13 dan Kota Ambon 5. Para korban luka-luka telah mendapatkan perawatan medis pascakejadian.

Jamaah Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, shalat berjamaah di tanah lapang pasca gempa pada Kamis (26/09/2019). [Foto: Istimewa/hidayatullah.com]

Para pengungsi menempati tenda-tenda darurat di Kota Ambon, Maluku, pasca gempa pada Kamis (26/09/2019). [Foto: Zulkarnain/hidayatullah.com]

Sehubungan dengan kondisi pascagempa, masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu atau berita bohong yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarluaskan melalui kanal informasi yang resmi,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam siaran persnya, Jumat kemarin.

BMKG telah menyatakan bahwa isu akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau berita bohong (hoax), sebab, hingga kini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi dengan tepat, dan akurat kapan, dimana dan berapa kekuatannya.

Rumah-rumah warga hancur di Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Maluku Tengah, Maluku, pasca gempa pada Kamis (26/09/2019). [Foto: Istimewa]

Bangunan runtuh di Desa Liang, Kecamatan Sirimau, Maluku Tengah, Maluku, pasca gempa pada Kamis (26/09/2019). [Foto: Istimewa]

Kemarin, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo telah melihat kondisi pascagempa di beberapa titik. Kunjungan itu dilakukan setelah Presiden Jokowi memberikan instruksi penanganan gerak cepat  pascagempa.

BNPB memberikan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 1 miliar yang digunakan untuk operasional penanganan darurat. Selain itu, BNPB juga memberikan bantuan logistik senilai Rp 515 juta. Bantuan logistik berupa matras, sandang, perlengkapan keluarga dan selimut sangat dibutuhkan warga terdampak sesuai dengan hasil kaji cepat. Selain itu, peralatan digerakkan selama penanganan darurat seperti tenda keluarga, lampu penerangan portabel dan rumah sakit lapangan.

Sementara itu, salah satu poin Kepala BNPB dalam konferensi pers di hadapan media menyampaikan, saat ada gempa besar terjadi lebih dari 20 detik, masyarakat harus secara otomatis mencari lokasi aman. Setelah sekian lama, 2 jam tidak ada gempa susulan yang besar, mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Jika terlalu lama di tempat pengungsian, dapat muncul masalah baru seperti makanan, kesehatan, sanitasi dan lainnya,” sebut Doni.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !