Jum'at, 3 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Sejarawan: Publik Jangan Terkecoh Beragam Kampanye Komunisme

Imam nawawi/hidayatullah.com
Dr Tiar Anwar Bachtiar diskusi "ancaman komunisme" di Pesantren At-Taqwa Depok Jawa Barat, Ahad (22/09/2019).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pakar sejarah Dr Tiar Anwar Bachtiar menegaskan bahwa komunisme adalah ideologi transnasional yang telah bekerja sejak masa kolonial Belanda hingga Indonesia merdeka.

“Agenda PKI dari tahun 1926, 1948, 1965 sama, yaitu ingin menggabungkan Indonesia menjadi bagian Kominter (komunis internasional) yang waktu itu pusatnya di Uni Soviet,” jelasnya sebagai pemateri pada diskusi bertajuk “Ancaman Komunisme Dulu, Kini, dan Nanti” yang digelar di Pesantren At-Taqwa Depok, Jawa Barat, Ahad (22/09/2019).

Namun demikian, dalam perjalanan waktu, komunis nampak ingin memutar sejarah seolah-olah komunisme itulah yang pertama kali menggelorakan semangat perlawanan terhadap Belanda.

“Sekarang banyak orang-orang komunis ini ingin mencoba memutar sejarah seolah-olah komunisme itu yang pertama kali menggelorakan semangat perlawanan terhadap Belanda supaya lepas dari kolonialisme Belanda pada tahun 1926.

Padahal targetnya bukan itu, sama saja ideologi komunis itu ideologi internasionalisme. Kalau sekarang ada ideologi transnasional itu, nah itu komunisme itu adalah salah satu ideologi transnasional yang bukan saja ideologinya yang antar bangsa tetapi juga gerakannya. Jadi ia gerakannya itu betul-betul itu disokong oleh pendanaan internasional,” urainya.

Hal itu disebut Tiar terbukti dari kehidupan para tokoh-tokoh Partai Komunis di Indonesia yang memang juga bagian dari komunis internasional secara resmi.

“Dulu tokoh-tokoh komunis seperti Tan Malaka, Semaun, Darsono, Muso, Aidit, dan sebagainya mereka ini adalah tokoh-tokoh komunis internasional yang memang sengaja ditugaskan, digaji secara resmi oleh organisasi komunis internasional untuk bergerak di Indonesia dan menghidupkan partai komunis,” paparnya.

Peneliti INSISTS itu pun mengingatkan publik untuk tidak terkecoh dengan komunisme dengan beragam kampanyenya selama ini.

“Jadi jangan dikira walaupun partai komunis ini kampanyenya adalah membela wong cilik, tapi elite-elitenya ini gaya hidupnya itu sangat mewah,” tegasnya.

“Dulu ada pada tahun sebelum pemberontakan tahun 1965 ada tokoh komunis ini namanya Nyoto. Nyoto ini tokoh komunis yang hidupnya sangat mewah. Pakai mobil paling bagus, setiap kemana-mana bajunya necis, mahal-mahal, dia sangat hidup berjaya, mewah. Sampai mendapatkan kritik dari kawan-kawannya, ini kok komunis bela proletar tapi tampilannya sangat borjuis,” ungkapnya.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Menag akan Buka Kompetisi Sains Madrasah di Pontianak

Menag akan Buka Kompetisi Sains Madrasah di Pontianak

Keluarga Besar Mahasiswa Minang Tolak Pendirian RS Siloam

Keluarga Besar Mahasiswa Minang Tolak Pendirian RS Siloam

Ragu Penyelenggara Umroh, Bisa cek Internet

Ragu Penyelenggara Umroh, Bisa cek Internet

jenazah covid

Sebanyak 282 Dokter dan Tenaga Medis Meninggal Akibat Covid-19 di Indonesia

NU Nilai Penyembunyian Identitas KH Ma’ruf Amin Politis

NU Nilai Penyembunyian Identitas KH Ma’ruf Amin Politis

Baca Juga

Berita Lainnya