3 Santri Riau Jadi Korban Asap Karhutla, 1 terindikasi ISPA

Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, sebagaimana wilayah Pekanbaru dan Riau pada umumnya, juga terpapar asap karhutla.

3 Santri Riau Jadi Korban Asap Karhutla, 1 terindikasi ISPA
Ikhsan/hidayatullah
Tiga santri Hidayatullah korban asap karhutla tengah dirawat. Candra (tengah), terindikasi ISPA, dirawat di RS Professor Doktor Tabrani, Pekanbaru, Riau.

Terkait

Hidayatullah.com– Sebanyak 3 santri menjadi korban asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pekanbaru, Riau, baru-baru ini. Dua dari ketiganya dievakuasi dan dirawat di sebuah klinik setempat.

Satunya lagi, bahkan dilarikan ke Rumah Sakit Prof Dr Tabrani dan menjalani perawatan hingga saat ini.

Santri tersebut, Candra, kelas 3 SMP, dirawat di rumah sakit karena terindikasi mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap karhutla.

Para korban asap karhutla itu adalah santri Pondok Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, Riau, yang beralamat di Jl Indrapuri ujung, Kelurahan Bencahlesung, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru.

“Mohon doanya Ustadz-Ustadzah, santri kita Candra kelas 3 SMP dirawat di RS Tabrani malam ini (Sabtu malam, red). Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat penyakitnya segera. Amin Ya Rabbal Alamin,” demikian doa jamaah sebagaimana disampaikan pengurus pesantren, Ikhsan, kepada hidayatullah.com, Ahad sore (15/09/2019).

Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, sebagaimana wilayah Pekanbaru dan Riau pada umumnya, juga terpapar asap karhutla.

“Hanya saja, rumah-rumah warga (ustadz) dikelilingi pohon-pohon besar dan tanam-tanaman, membuat udara di dalam rumah warga lebih tersaring,” ujar Ikhsan yang juga seorang dai.

Adapun kondisi kedua santri yang sempat dirawat di klinik tersebut sudah membaik dan kembali ke pondok. Akan tetapi, keduanya masih harus pakai masker setiap beraktivitas terutama di rumah/gedung.

Baca: Pesantren Terdampak Asap Kebakaran di Kalbar

Sebelumnya juga diwarta media, sebanyak 12 warga yang terpapar kabut asap disebabkan karhutla dievakuasi tim relawan posko kesehatan DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jl Soekarno Hatta, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Jumat (13/09/2019) sekitar pukul 23.00 WIB.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Provinsi Riau masih berdampak pada kualitas udara. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (14/09/2019), kualitas udara dengan kategori sedang hingga sangat tidak sehat terpantau di beberapa titik.

Terkait dampak karhutla, rekapitulasi Data P3E Sumatera KLHK dan Dinas LHK Provinsi Riau pada pukul 07.00 – 15.00 WIB (14/09/2019) mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113.

Angka itu mengindikasikan kondisi kualitas udara tidak sehat atau penunjuk angka 101 – 199. Sehari sebelumnya (13/09/2019), kualitas udara di wilayah Riau pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Data juga menunjukkan kualitas udara di provinsi lain, seperti Jambi (123), Kepulauan Riau (89), Sumatera Selatan (51), Sumatera Barat (46) dan Aceh (14).

Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 – 50), sedang (51 – 100), tidak sehat (101 – 199), sangat tidak sehat (200 – 299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Baca: DPR Minta Jokowi Gerak Cepat Tangani Bencana Kabut Asap

Mendukung operasi pemadaman karhutla, BNPB bersama kementerian/lembaga, TNI dan Polri menggerahkan personel untuk penanganan di beberapa provinsi. Tujuh helikopter untuk pengemboman air dan patroli dikerahkan untuk wilayah Provinsi Riau.

Terhitung dari 19 Februari 2019 hingga 31 Oktober lalu, lebih dari 124 juta liter air digelontorkan untuk pengemboman air dan lebih dari 159 ton garam untuk operasi hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Luas lahan terbakar akibat karhutla di wilayah Riau menurut catatan BNPB yaitu seluas 49.266 hektare. Sejumlah luas lahan terbakar lahan gambut seluas 40.553 ha dan mineral 8.713 ha.

Karhutla yang masih terus berlangsung ini mengakibatkan dampak yang luas selain kerusakan lingkungan dan kesehatan, juga aktivitas kehidupan warga masyarakat.

Baca: Kabut Asap di Jambi Makin Parah, Warga Dilarang Keluar Rumah

BNPB mengimbau agar pemerintah daerah tidak hanya bermain dengan kata-kata saja, tetapi harus bertindak secara nyata.

Hal ini diungkapkan mengingat sebelumnya Kepala BNPB Doni Monardo mendengar slogan ‘Riau Tanpa Asap.’ Namun, ini bertolak belakang dengan kondisi yang dihadapi Riau saat ini.

“Saya tidak ingin hanya slogan-slogan. Dulu saya senang dengan pernyataan Riau Tanpa Asap. Tapi apa, hari ini Riau penuh asap,” ujar Doni dalam rapat koordinasi penanganan karthula yang berlangsung di Riau pada Sabtu (14/09/2019) dirilis BPNB.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !