Singgung Listrik, JK: Ketergantungan pada Infrastruktur Sebegitu Beratnya

“Waktu hari Minggu terjadi blackout listrik, tiba-tiba kita merasakan kesepian menghubungi teman tidak bisa, nonton televisi tidak bisa, hubungi anak tidak bisa, kita kesepian"

Singgung Listrik, JK: Ketergantungan pada Infrastruktur Sebegitu Beratnya
skr/hidayatullah.com
Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK).

Terkait

Hidayatullah.com– Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, bangsa ini sudah sangat tergantung dengan teknologi. Ketergantungan itu bahkan telah menjadi gaya hidup pada sistem dan akan semakin berat apabila tidak bisa menciptakan inovasi yang lebih baik.

Ia mencontohkan ketergantungan itu saat terjadinya pemadaman listrik (blackout) secara serentak di sebagian Pulau Jawa sejak Ahad-Senin pekan ini.

“Waktu hari Minggu terjadi blackout listrik, tiba-tiba kita merasakan kesepian menghubungi teman tidak bisa, nonton televisi tidak bisa, hubungi anak tidak bisa, kita kesepian, itu menunjukan ketergantungan kita pada infrastruktur sudah sebegitu beratnya, akhirnya ketergantungan kita pada suatu sistem didunia ini,” ucap Wapres disertai gelak tawa hadirin saat memberikan keynote speech pada acara Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ke 24, di Jakarta, Rabu (07/08/2019).

Baca: Wapres JK: Indonesia Terlambat Antisipasi Perkembangan Dunia

Menurutnya, untuk bertahan di era globalisasi yang penuh ketidakpastian dan persaingan, dibutuhkan inovasi dalam teknologi dan membangun pemikiran ekonomi yang konstruktif.

Hal ini perlu ini dilakukan agar perekonomian Indonesia dapat bertahan menghadapi persaingan dengan negara lainnya.

“Bicara mengenai teknologi kita harus memacu inovasi, gabungan ekonomi dan teknologi inovasi untuk menyelesaikan masalah- masalah ini, menjaga persaingan di negara-negara, dan itu tugas kita semua, karena kita semua tergantung dengan teknologi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Wapres menekankan, negara Indonesia tidak bisa menghindari perubahan yang cepat di era globalisasi.

Namun, menurutnya, Indonesia harus mampu bertahan dengan mencari solusi dan mengambil efek yang baik melalui percepatan perjanjian bilateral dan multilateral dengan negara yang memiliki pasar besar.

“Kita harus tanggap dan cepat mengambil antisipasi-antisipasi mempercepat perjanjian bilateral, multilateral pada negara yang mempunyai pasar yang besar seperti Uni Eropa dan Korea, sehingga kita mempunyai medan yang sama dibandingkan dengan negara negara Asia ini,” sebutnya dilansir Setwapres.

Baca: Viral Pohon Sengon “Dituduh Penyebab” Listrik Padam Serentak di sebagian Jawa

Wapres JK menjelaskan perbedaan antara inovasi teknologi dengan pemikiran ekonomi. Apabila inovasi teknologi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sedangkan pemikiran ekonomi dapat berubah jika ada masalah sehingga menghasilkan teori baru, yang menyebabkan perubahan di dunia menjadi lebih baik sebagaimana yang terjadi dengan Amerika dan China.

JK lantas mencontohkan perubahan-perubahan yang dapat terjadi seperti Amerika yang berubah menjadi protektif, sedangkan China yang semula protektif menjadi liberal.

“Perubahan dapat terjadi. Situasi global negara kapitalis cenderung liberal, sosialis cenderung proteksionis ekonominya, sekarang terbalik seratus persen, Amerika yang kapitalis (saat ini) cenderung proteksionis, Tiongkok yang sosialis cenderung liberal, saya nanti tidak tahu teori apa yang muncul, itu terjadi karena menjawab tantangan di dunia ini, karena teknologi dan ini menyebabkan ketergantungan, pemikiran dan solusi-solusi,” sebutnya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !