BPN Prabowo-Sandi: Kemuliaan MK Dipertaruhkan

"Tidak jelasnya DPT, sebenarnya telah cukup menjadi alasan bagi majelis hakim MK untuk membatalkan pelaksanaan Pilpres 2019..."

BPN Prabowo-Sandi: Kemuliaan MK Dipertaruhkan
Muhammad Abdus Syakur/hidayatullah.com
Para Hakim MK dan suasana lanjutan Sidang Uji Materi Pasal Zina dan Homoseksual di Gedung MK, Jakarta, Selasa (23/08/2016).

Terkait

Hidayatullah.com– Tim Kuasa Hukum capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, menyatakan bahwa kemuliaan Mahkamah Konstitusi (MK) dipertaruhkan dalam putusannya atas sengketa Pilpres 2019.

Kuasa Hukum Prabowo-Sandi menyatakan, pihaknya bersama rakyat Indonesia berharap MK mempertegas kemuliaannya melalui putusannya yang akan dibacakan pada Kamis (27/06/2019) di Gedung MK, Jakarta.

“Yakni sebuah putusan yang berlandasakan pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan (the truth and justice) sesuai dengan kesepakatan bangsa dan mandat konstitusi dimana MK terikat pada UUD 1945,” ujar Ketua Kuasa Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto (BW), di Jakarta, Selasa (25/06/2019) dalam siaran persnya diterima hidayatullah.com.

BW mengatakan, MK harus menegakkan kebenaran dan keadilan secara utuh. Jika tidak, maka keputusan MK akan kehilangan legitimasi, karena tidak ada public trust di dalamnya. Akibatnya lebih jauh, bukan hanya tidak ada public trust, namun juga tidak akan ada public endorsement pada pemerintahan yang akan berjalan.

“Satu saja unsur yang menjadi landasan atau rujukan keputusan MK mengandung unsur kebohongan (terkait integritas) dan kesalahan (terkait profesionalitas), — misalnya dengan mempertimbangkan kesaksian ahli Prof Eddy Hiariej yang memberikan labelling buruk sebagai penjahat kemanusiaan kepada Le Duc Tho padahal Le Duc Tho (lahir di Nam Din Province pada 10 Oktober 1911) adalah Nobel Prize for Peace pada tahun 1973 meski ia akhirnya menolaknya—maka keputusan MK menjadi invalid,” paparnya.

Baca: Tim 02: Amanah UUD, setidaknya MK Diskualifikasi Jokowi-Ma’ruf

Kuasa Hukum memaparkan, kesaksian Prof Jazwar Koto, PhD (saksi ahli 02) dalam persidangan di MK sebelumnya tentang adanya angka penggelembungan 22 juta yang ia jelaskan secara saintifik berdasarkan digital forensic sama sekali tidak dideligitimasi oleh Termohon/KPU maupun Terkait/Paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Yang dipersoalkan terhadap Prof Jazwar Koto hanyalah soal sertifikat keahlian, padahal ia telah menulis 20 buku, 200 jurnal internasional, pemegang hak paten (patent holder), penemu dan pemberi sertifikat finger print dan eye print, serta menjadi Direktur IT di sebuah perusahaan  yang disegani di Jepang, jelasnya.

Terkait dengan kesaksian ahli Prof Jazwar Koto di persidangan yang tidak dibantah itu, kata BW, dapat dibayangkan, jika mekanisme pembuktiannya dilakukan secara manual, mengadu C1 dengan C1 sungguh akan sangat membutuhkan waktu yang lama.

“Katakanlah pengecekan C1 dengan C1 membutuhkan waktu 1 menit sekali pengecekan, maka pengecekan tersebut akan memakan waktu sekitar 365 tahun dengan asumsi pemilihnya sekitar 192 juta pemilih. Atau kalau pengecekannya didasarkan per TPS ( dengan asumsi jumlah TPS 813.330 TPS) dan waktu pengecekan setiap TPS memakan waktu 30 menit maka waktu yang dibutuhkan untuk pengecekan secara keseluruhan dapat memakan waktu sekitar 46 tahun lamanya,” rincinya.

Baca: MK Diharapkan Buat Putusan yang Adil, Kokoh, Tak Memihak

BW juga memberikan catatan terkait keterangan saksi Idham Amiruddin bahwa telah ditemukan 22 juta DPT siluman dalam bentuk NIK Rekayasa, pemilih ganda, dan pemilih di bawah umur.

Kata BW, Pemohon telah berkali-kali mengajukan protes dan keberatan terhadap adanya DPT Siluman ini, namun Termohon tidak pernah melakukan perbaikan yang serius terhadap DPT bermasalah tersebut. Pemohon juga telah melaporkan soal DPT Siluman tersebut ke Bawaslu RI namun laporan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti.

“Tidak jelasnya DPT, sebenarnya telah cukup menjadi alasan bagi majelis hakim MK untuk membatalkan pelaksanaan Pilpres 2019 sebagaimana MK telah membatalkan Pilkada Sampang dan Maluku Utara Tahun 2018 karena ketidakjelasan DPT,” sebutnya.

BW juga mengatakan tidak adanya jaminan keamanan dan kehandalan terhadap sistem perhitungan suara KPU.

Hal ini, kata BW, sangat tampak dari pemaparan yang disampaikan oleh saksi ahli dari termohon (KPU) maupun dari pemaparan komisioner KPU sendiri yang senantiasa “ngeles” (istilah “ngeles melulu” sempat juga diutarakan Majelis Hakim Suhartoyo dalam persidangan) ketika ditanya oleh hakim MK maupun oleh pihak Pemohon perihal upaya-upaya perbaikan atau komparasi dalam rangka pembenahan sistem perhitungan suara di KPU.

“Padahal UU ITE  Pasal 15 ayat 1 ditegaskan bahwa penyelenggara sistem informasi dan IT wajib memenuhi standar keamanan dan kehandalan,” sebutnya.

Baca: Jelang Putusan Akhir, Pakar Hukum: Tanggung Jawab Hakim MK kepada Allah

Selain itu, Kuasa Hukum Prabowo-Sandi juga mengatakan, setelah mendengar kesaksian Hairul Anas (dari pihak Prabowo-Sandi/Anas 02) dan mendengarkan keterangan saksi Anas Nasikin (dari pihak Jokowi-Ma’ruf/Anas 01) ternyata tidak ada perbedaan.

“Kesaksian Anas 02 telah dibenarkan dan diamini oleh saksi Anas Nasihin (Anas 01), di antaranya tentang power point yang berjudul “Kecurangan adalah Bagian Dari Demokrasi” beserta isi isi power point lainnya. Kedua, bahwa dalam acara TOT tersebut dihadiri oleh petahana, Presiden RI Joko Widodo, Kepala KSP Moeldoko, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Sekjen PDIP dan anggota DPR Hasto, komisioner KPU, Bawaslu RI dan DKPP,” sebut BW.

Kuasa Hukum mengatakan, dalam persidangan sengketa Pilpres 2019 di MK, juga terbukti, setelah dilakukan inzage/pemeriksaaan, ternyata Termohon tidak dapat membuktikan adanya C7 (daftar kehadiran).

Ketidakadaan C7 dinilai sangat fatal terkait dengan kepastian atas hak pilih rakyat (daulat rakyat).

Oleh karena Termohon/KPU tidak sanggup menghadirkan C7, Pemohon berharap MK memerintahkan Termohon/KPU menghadirkan C7 sejalan dengan semangat judicial activism.

“Sebab itu, dengan tidak dapat dibuktikannya siapa yang hadir memberikan suaranya dalam pemungutan suara di TPS, maka muncul pertanyaan suara itu suara siapa? Siapa yang melakukan pencoblosan?” ungkap BW.

Bahwa, lanjut mantan Pimpinan KPK ini, terbukti juga sebagai fakta persidangan dimana Termohon/KPU membuat penetapan DPT (daftar Pemilih Tetap) tertanggal 21 Mei 2019, artinya penetapan KPU tersebut dibuat setelah Pemilu tanggal 17 April 2019.

“Tentu, ini sesuatu yang sangat aneh,” ungkapnya memungkas.

Selain BW, tim Kuasa Hukum Prabowo-Sandi terdiri dari Denny Indrayana, Teuku Nasrullah, Luthfi Yazid, Iwan Satriawan, Iskandar Sonhadji, Dorel Almir, dan Zulfadli.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !