Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Lagi Berteduh, 4 Orang Disambar Petir, 2 Meninggal

istimewa
Dua korban meninggal karena disambar petir saat berteduh di Samboja.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Namanya musibah dan ajal, bisa datang kapan saja sesuai kehendak Allah. Empat warga yang sedang berteduh di sebuah pondokan di pinggir jalan, kawasan Salok Api Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), disambar petir, Rabu (01/05/2019) sekitar 15.20 WITA.

Tak ayal, dua dari keempat korban tersebut pun meninggal dunia, dua lainnya selamat.

Kejadian itu menjadi viral di grup-grup media sosial WhatsApp warga sekitar Salok Api Darat, Kukar yang bertetanggaan dengan Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan.

Menurut pesan berantai, kejadian itu bermula saat sedang hujan, keempat warga itu berteduh lalu sambil memainkan telepon genggam (ponsel/HP). Saat itulah petir datang menyambar, Rabu sore waktu setempat.

“BERITA DUKA
KEJADIAN HARI INI PKL 15.20
4 org di sambar petir saat Berteduh di Depan Pos Security SSC Salok api darat, sedang Bermain Hp saat hujan dan Petir, mhn kejadian ini jadi pembelajaran, Korban sdh kami bawa ke RSUD samboja,” demikian pesan viral yang diterima hidayatullah.com via WhatsApp, Rabu.

Beredar pula foto dan video yang memperlihatkan keempat korban tersebut terkapar di sebuah pondokan kayu. Terlihat salah seorang di antaranya masih bergerak, sedangkan yang lainnya mematung.

“Tahan dulu, Mas, tahan dulu, anu, anu dulu,” ucap seseorang dengan logat setempat yang diduga perekam video tersebut kepada salah seorang korban yang bergerak dan sepertinya hendak bangkit.

“Orang kesambar petir, Pak,” terdengar pula suara demikian.

Kapolsek Samboja Iptu Reza Pratama membenarkan adanya kejadian empat warga yang disambar petir tersebut. “Dua meninggal, 2 selamat. Sekarang di RS Samboja,” katanya kutip TribunKaltim.co.

Kemudian diketahui 4 korban ini bukan warga Kukar. Menurut Kapolsek Samboja, korban merupakan warga Sulawesi yang singgah lantaran hujan saat mereka mau menuju ke Samarinda.

“Bukan warga sini (Samboja). Orang Sulawesi, singgah dia, tujuan mereka mau ke Samarinda,” ungkapnya.

Ditanya soal apa benar korban tersambar petir gara-gara bermain ponsel, Kapolsek Samboja enggan berspekulasi dini.

“Menurut saksi dan korban selamat dan hasil dokter dari bekas luka di jenazah, identik luka kena petir,” ujarnya.

Pantauan hidayatullah.com pada video yang beredar, tak terlihat bekas ponsel di sekitar lokasi kejadian, namun terdapat sebuah earphone tergeletak di samping salah satu korban.

Kronologi

Diketahui, dua korban meninggal itu yakni Radit (12) merupakan anak dari Hajar (38) yang juga menjadi korban selamat dan Rustam Efendi (33) warga kota Samarinda. Sementara dua korban selamat adalah Hajar dan Muhammad Hasri (35).

Hingga Rabu malam, dua korban selamat masih dirawat di Ruang Ulin kamar P.11 RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti, Kecamatan Samboja. Sedangkan dua korban meninggal berada di ruang jenazah.

Hajar, salah satu korban selamat, menuturkan bahwa ia baru tiba di Balikpapan dari Sulawesi Barat (Sulbar) dengan menggunakan kapal.

Setibanya di Pelabuhan Kariangau, ia berempat mengendarai dua sepeda motor menuju kota Samarinda untuk menjenguk keluarga yang hendak dioperasi.

Baru sampai di sekitar Salok Api Darat sekitar pukul 14.00 WITA, hujan pun turun. Hajar bersama tiga korban tersebut berteduh di sebuah rumah kosong di pinggir jalan poros Balikpapan-Handil II RT 08, Kelurahan Salok Api Darat, Kecamatan Samboja.

Tak lama kemudian, petir menyambar dan semua tidak sadarkan diri. Ia mengakui saat kejadian tersebut semua korban tidak ada yang memainkan HP.

“Setelah kilat itu, kita semua sudah enggak sadarkan diri. Sampai rumah sakit sekitar jam 3 sore, saya baru sadar kalau kami sudah dibawa ke rumah sakit. Saat kita berteduh, semua enggak ada yang main HP,” ujarnya kutip media lokal itu.

Hajar mengaku, setelah sadarkan diri, kondisi kakinya sudah tidak bisa bergerak dan mengeluh pusing.

Sedangkan keluarganya yang satunya selamat mengalami sedikit luka ringan di belakang punggungnya.

“Ada luka goresan di belakang punggungnya,” ucapnya.

Hajar mengaku saat ini dirinya masih merasa trauma dan merasa lemas di seluruh badan. Bahkan, untuk bangun dari tidur saja dirinya masih harus dibantu.

“Kepala saya merasa pusing, Mas, kali saya juga seperti mati rasa sudah,” keluhnya.

Ia juga terkejut saat sadarkan diri mengetahui anak dan iparnya sudah wafat. Namun dirinya tetap bersikeras meminta pihak rumah sakit untuk memeriksa untuk meyakinkan.

“Saya peluk anak saya saat menuju rumah sakit. Saat dokter bilang anak saya sudah wafat, saya minta untuk periksa lagi. Namun, kenyataan berkata lain,” pungkasnya.

Saat media Saat tim media menjenguk korban, di kamar rawat dipenuhi keluarga korban dan istri korban menangis histeris karena mendengar anak kesayangannya telah meninggal dunia.

Diketahui, dua sepeda motornya yakni Yamaha Vino DC 3724 AO dikemudikan Hajar dengan putranya, Radit. Sedangkan Hasri berboncengan dengan Rustam mengendarai motor Yamaha MIO DC 2237 AM.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

100 Tahun Wanita Syarikat Islam Diapresiasi

100 Tahun Wanita Syarikat Islam Diapresiasi

Hendropriyono dan Komaruddin Hidayat Muncul di Istana

Hendropriyono dan Komaruddin Hidayat Muncul di Istana

Pemuda Indonesia Harus Lakukan Gerakan Membebaskan Muslim Rohingya

Pemuda Indonesia Harus Lakukan Gerakan Membebaskan Muslim Rohingya

Yusril Dukung 01, Majelis Syuro PBB: Kita Memang Berbeda

Yusril Dukung 01, Majelis Syuro PBB: Kita Memang Berbeda

Komunitas Yaman di Indonesia Protes Serangan UEA ke Yaman

Komunitas Yaman di Indonesia Protes Serangan UEA ke Yaman

Baca Juga

Berita Lainnya