Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

BKsPPI: Diksi ‘Kafir’ Sudah Baku dalam Syariat Islam

Bagikan:

Hidayatullah.com– Pimpinan Pusat Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) angkat bicara mengenai polemik terkait diksi “kafir” dan “non-Muslim” yang mencuat belakangan ini.

Ketua BKsPPI Prof Dr Didin Hafidhuddin menjelaskan, diksi ‘kafir’ merupakan diksi yang sudah baku dalam syariat Islam, yang bermakna tertutupnya jiwa seseorang dari kebenaran Islam yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

“Diksi ini digunakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an baik yang diturunkan di Makkah, maupun di Madinah,” jelasnya dalam pernyataan sikap BKsPPI di Bogor, Jawa Barat, Senin (04/03/2019) diterima hidayatullah.com.

Baca: NU Minta Warga Non-Muslim Indonesia Tak Disebut Kafir

Prof Didin menjelaskan, secara makna, setiap agama juga memiliki keyakinan ‘kafir’ yang sama terhadap siapa pun yang tidak mempercayai kebenaran agama yang dianut masing-masing.

“Dan toleransi justru dibangun di atas saling menghargai iman yang memang berbeda dan tidak boleh disatukan,” imbuhnya.

Baca: Munas NU: Non-Muslim Bukan Kafir, Mereka Warga Negara

BKsPPI menyatakan, umat Islam menolak paham saling mengkafirkan sesama umat Islam.

“Namun hal ini tidak bisa menjadi justifikasi untuk menghilangkan makna kafir bagi non-Muslim yang wajib dibahas dalam ragam forum ilmiah, baik taklim, tabligh, khutbah Jumat, maupun di ruang-ruang pendidikan umat Islam karena menyangkut bab aqidah sebagai pondasi iman, dan karena sedikit kasus-kasus yang muncul ditujukan justru kepada Muslim, sehingga diskursus ini dipandang tidak kontekstual,” jelasnya.

Disebutkan, bangsa Indonesia dari agama mana pun terbukti dalam sejarah yang panjang, bebas untuk mencalonkan diri mereka di wilayah politik. Namun, Umat Islam juga memiliki panduan politik bagaimana memilih sosok Muslim yang taat, siddiq, amanah, dan profesional.

Baca: Putra KH Maimoen: “Non-Muslim bukan Kafir” Kesimpulan Moqsith Pribadi

BKsPPI menyatakan, umat Islam tidak pernah terbiasa dan tidak pernah dibiasakan untuk menyebut kafir kepada non-Muslim di ruang publik.

“Justru umat Islam wajib menghadirkan adab atau akhlak terbaik kepada non-Muslim, sehingga mengangkat isu ‘kafir’ dalam forum ilmiah Bahtsul Masail dipandang tidak memiliki justifikasi yang kuat,” ujar Prof Didin dalam pernyatannya bersama Sekretaris Umum BKsPPI Dr Akhmad Alim.*

Rep: SKR
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Legislator: Indonesia Tak Perlu Takut dan Khawatir Ancaman AS

Legislator: Indonesia Tak Perlu Takut dan Khawatir Ancaman AS

Menag Sesalkan Film yang Menghina Agama

Menag Sesalkan Film yang Menghina Agama

Kampanyekan Halal is My Style, LPPOM Kembali Gelar INDHEX

Kampanyekan Halal is My Style, LPPOM Kembali Gelar INDHEX

Uni Eropa dan Amerika Tak Senang Ada Sertifikasi Halal

Uni Eropa dan Amerika Tak Senang Ada Sertifikasi Halal

‘Kita Berharap Wamena Tersenyum dan Bangkit Kembali’

‘Kita Berharap Wamena Tersenyum dan Bangkit Kembali’

Baca Juga

Berita Lainnya