Tiga Relasi Agama dan Budaya menurut Menag

Masuknya Islam di Indonesia, dalam amatan Menag, lebih ke pola relasi yang ketiga.

Tiga Relasi Agama dan Budaya menurut Menag
Zulkarnain/hidayatullah.com
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

Terkait

Hidayatullah.com– Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, setidaknya ada tiga jenis relasi antara agama (Islam) dan budaya. Pertama, ketika agama dipersepsi bertentangan dengan tradisi, maka budaya dipaksa tunduk terhadap agama.

Kedua, pemahaman nilai agama dipaksa untuk tunduk dengan budaya yang sudah berkembang.

Ketiga, nilai-nilai substantif agama diadopsi dalam budaya sehingga budaya mengalami penyesuaian dan melahirkan kebudayaan baru.

Masuknya Islam di Indonesia, dalam amatan Menag, lebih ke pola relasi yang ketiga.

Islam didakwahkan sedemikian rupa sehingga tradisi budaya yang sudah berkembang dicoba dipertahankan selama secara prinsipil dan substansial tidak bertentangan dengan nilai nilai Islam.

“Selama tidak bertentangan, maka budaya tetap dijaga dan dipelihara,” tuturnya saat didaulat memberikan kuliah umum di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI,  Depok, Jawa Barat, Rabu (20/02/2019) kutip laman resmi Kemenag. Kuliah umum yang berlangsung di auditorium FIB ini digelar menyongsong 60 tahun Prodi Arab, FIB.

Karenanya, lanjut Menag, di dunia pesantren, dikenal ungkapan tentang pentingnya menjaga warisan yang baik sambil terus berkreasi untuk melahirkan hal yang lebih baik dan kontekstual.

Menurut Menag, agama dan budaya sama penting dan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Agama tidak bisa diimplementasikan tanpa budaya. Sebaliknya, pengembangan budaya juga harus dipandu nilai agama.

Bagi Menag, beragama perlu menggunakan rasa agar agama tidak justru menjadi alat merendahkan manusia. Demikian juga budaya. Jika tidak dilandasi kemampuan rasa, maka kebiasaan yang membudaya bisa menjadi kering dan mencerabut nilai kemanusiaan.

“Mari kembangkan rasa. Agama dan budaya penting agar rasa pada diri manusia tetap terjaga,” tutupnya.

Hadir pada kesempatan itu Dekan FIB Adrianus Laurens Gerung Woworuntu, Kaprodi Arab Apipudin, dan sekitar dua ratus mahasiswa dari FIB, utamanya Prodi Arab. Kuliah umum mengangkat tema “Islam dan Kebudayaan di Indonesia”.

Menag mengawali paparannya dengan mengatakan bahwa ketika didakwahkan, Islam mengalami kontekstualisasi. Sebab, ajaran Islam didakwahkan dalam konteks yang juga beragam.

“Itulah kenapa ada sebagian praktik ajaran Islam di Indonesia yang berbeda dengan negara lain. Budaya menjadi bagian yang sangat penting ketika Islam didakwahkan,” menurut Menag.

Kuliah umum di FIB-UI ini dimeriahkan dengan penampilan puisi empat mahasiswa. Mereka membawakan puisi dengan empat bahasa, yaitu: Arab, Persia, Turki, dan Ibrani.

Menag juga membacakan tiga puisi bertajuk “Kebenaran dan Waktu”, “Sandikala”, dan  “Cinta”.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !